Udara kampung pagi ini masih basah oleh sisa embun. Matahari belum sepenuhnya naik ketika Zaenal sudah berdiri di depan rumah, mengenakan kemeja lengan panjang. Di kakinya sendal kulit lama, bersih, meski solnya sudah menipis. Ia menarik napas panjang. Tubuhnya masih terasa sedikit asing saat digerakkan. Dua bulan terakhir terlalu banyak ia habiskan dengan duduk, berbaring, menunggu tubuhnya mau bekerja sama. Sekarang, meski belum sepenuhnya kuat, ada semangat yang terasa berbeda. Bukan sekadar ingin hidup, tetapi ingin berguna lagi.
Dari kejauhan, suara motor mendekat. Haji Ahmad datang tepat waktu. Motor klasik itu berhenti di depan rumah. Haji Ahmad turun, tersenyum lebar seperti biasa. Wajahnya keras oleh matahari, tapi sorot matanya selalu hangat.
“Siap, Nal?” tanyanya.
Zaenal mengangguk. “Insya Allah siap, pak haji.”
Hafiz berdiri di ambang pintu. Tas sekolahnya tidak dipakai. Hari itu libur. Ia memandang pamannya dengan mata yang berbinar sekaligus khawatir.
“Amang mau kerja?” tanyanya.
“Iya,” jawab Zaenal, merendahkan badan sedikit agar sejajar. “Amang kerja dulu. Kamu di rumah aja. Kalau mau main jangan jauh-jauh ya. Di rumah Bukhori aja.”
Hafiz mengangguk. “Iya, mang.”
Kalimat itu sederhana, tapi menghantam dada Zaenal lebih keras dari apa pun. Ia menatap Hafiz sebentar, lalu naik ke motor Haji Ahmad.
Motor bergerak perlahan meninggalkan rumah. Pabrik tahu itu berada di kampung sebelah, sekitar dua puluh menit perjalanan. Bangunannya tidak besar, lebih tepat disebut bangunan semi permanen. Dinding bata yang sebagian belum diplester, atap seng, dan halaman cukup luas di belakang untuk proses pengeringan.
Namun begitu motor berhenti, aroma khas tahu langsung menyambut. Bau kedelai rebus, asap kayu bakar, dan uap panas bercampur menjadi satu. Bagi sebagian orang mungkin menyengat, tapi bagi Zaenal, aroma itu seperti bau kehidupan, keras dan jujur.
“Inilah tempatnya, Nal,” kata Haji Ahmad.
Seorang lelaki bertubuh sedang keluar dari bangunan utama. Usianya sekitar akhir tiga puluhan, wajahnya cerah, matanya tajam namun ramah.
“Zaenal,” kata Haji Ahmad, “ini Kang Epi. Adik saya.”
Zaenal menjabat tangan Kang Epi dengan sopan. “Kang...”
Kang Epi tersenyum lebar. “Gimana kabarnya, Nal, kamu sudah sembuh total?”
“Alhamdulillah, kang” jawab Zaenal kecil.
Mereka masuk ke dalam pabrik.
Di sana sudah ada beberapa pekerja, total sembilan orang. Ada yang mengaduk kedelai, ada yang menyaring, ada yang mencetak tahu. Suara alat sederhana, air mendidih, dan obrolan pelan bercampur menjadi irama kerja.
“Tempatnya emang enggak besar, ya seperti inilah,” kata Kang Epi. “Tapi Alhamdulillah, pesanan lagi naik.”
Zaenal mengangguk. Ia memperhatikan setiap sudut. Cara orang bekerja. Cara mereka bergerak cepat tapi teratur. Ia tahu, di tempat seperti ini, yang dibutuhkan bukan otot besar, melainkan ketekunan.
“Sudah bisa kerja hari ini, Nal?” tanya Kang Epi.
“Iya, kang,” jawab Zaenal tanpa ragu.
Itu kalimat sederhana, tapi membuat Kang Epi mengangguk puas.
Hari pertama bukan hari yang ringan. Zaenal ditempatkan membantu proses awal, mengangkat karung kedelai, membersihkan alat, membantu penyaringan. Tangannya cepat pegal. Nafasnya sesekali berat. Tapi ia tidak mengeluh.
Ia tahu batas tubuhnya. Ketika mulai terasa pusing, ia berhenti sebentar, minum, lalu lanjut lagi.
Kang Epi mengawasinya dari jauh.
Ia melihat cara Zaenal bekerja, tidak banyak bicara, tidak banyak gaya, tapi konsisten. Jika satu pekerjaan selesai, ia mencari pekerjaan lain. Jika melihat rekan kesulitan, ia langsung membantu tanpa diminta.
Hari kedua. Hari ketiga. Zaenal mulai terbiasa dengan ritme pabrik. Tubuhnya menyesuaikan perlahan. Otot-ototnya mengingat kembali fungsi lama. Rasa sakit masih ada, tapi bukan lagi musuh, melainkan pengingat untuk berhati-hati.