Zaenal tidak sedang jatuh cinta dengan dua perempuan. Ia sedang terjebak di antara dua bentuk ketulusan yang sama-sama tidak memaksa.
Dan justru di situlah masalahnya.
Sejak ia mulai bekerja tetap di pabrik tahu milik Kang Epi, hidup Zaenal bergerak ke irama baru. Pagi yang pasti. Pulang yang terjadwal. Badan yang kembali menemukan ritmenya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa berdiri di tanah yang tidak lagi rapuh.
Namun justru ketika hidup mulai rapi, kisah asmaranya menjadi semakin kusut.
Laras tidak berubah secara mencolok. Ia tetap Laras yang hangat, yang sopan, yang tidak pernah menuntut penjelasan. Namun ada sesuatu yang bergeser, cara ia memahami Zaenal kini lebih lama, lebih dalam, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi selalu tertahan di ujung lidah. Walau kini mereka jarang bertemu.
***
Suatu sore, mereka duduk di bangku kayu depan rumah Zaenal. Hafiz sedang asyik menggambar di dalam, tenggelam dalam dunianya sendiri.
“Gimana kerjanya, Kang?” tanya Laras pelan.
Zaenal mengangguk. “Yah sudah biasa, Bu. Capek. Tapi capek yang bikin tidur nyenyak.”
Laras tersenyum kecil. Ada jeda. Angin sore lewat, membawa suara anak-anak bermain di kejauhan.
“Kang,” Laras tiba-tiba berkata, lebih hati-hati dari biasanya, “kalau suatu hari… ada keadaan yang membuat kita tidak bisa berjalan sejajar, jangan anggap itu karena kurangnya rasa, ya.”