Tidak ada yang tahu.
Bahkan Zaenal, orang yang setiap hari hidup satu atap dengan Hafiz, tidak pernah menyadarinya. Setiap kali Hafiz menerima uang jajan, entah lima ribu, dua ribu, atau kadang hanya recehan sisa belanja, selalu ada satu ritual kecil yang ia lakukan diam-diam. Tidak pernah ia ceritakan. Tidak pernah ia pamerkan. Bahkan kepada pamannya sendiri.
Uang itu tidak pernah ia habiskan. Pagi hari sebelum berangkat sekolah, Hafiz selalu membuka celengan kaleng kecil yang ia sembunyikan di bawah ranjangnya. Kaleng bekas biskuit, penyok di satu sisi, dengan tutup yang sudah agak longgar. Di dalamnya, tersimpan lipatan-lipatan uang yang tidak pernah rapi. Ada yang dilipat kecil, ada yang dibiarkan lebar. Ada yang sudah lusuh, ada yang masih baru.
Hafiz akan mengambil satu lembar kecil saja. Tidak pernah lebih. Sisanya ia biarkan di sana, seolah uang itu bukan miliknya, melainkan titipan masa depan.
Ia lalu memasukkan uang itu ke saku celana, menutup kalengnya pelan-pelan, dan memastikan posisinya kembali tersembunyi sempurna. Setelah itu, ia akan duduk di tepi ranjang sebentar, diam, seperti sedang menghitung sesuatu yang tak terlihat.
Bukan jumlah uangnya. Tapi waktu.
Di sekolah, Hafiz dikenal sebagai anak yang jarang jajan berlebihan. Teman-temannya membeli cilok, es lilin, atau permen warna-warni. Hafiz biasanya hanya membeli satu, atau kadang tidak sama sekali.
“Kenapa kamu enggak jajan, Fiz?” tanya Bukhori suatu hari.
Hafiz mengangkat bahu kecilnya. “Masih kenyang.”
Padahal perutnya sering kosong.
Tapi Hafiz tidak pernah mengeluh. Ia lebih memilih menahan rasa lapar daripada mengurangi tabungan kecilnya. Kadang kala ia diberi jajan oleh Bukhori.
Karena di kepalanya, ada satu tujuan yang selalu ia jaga rapat-rapat. Sesuatu untuk pamannya. Zaenal tidak pernah menyadari perubahan kecil itu. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang baru, dengan tubuhnya yang masih beradaptasi, dengan pikirannya yang terus dipenuhi pertanyaan tentang hidup dan pilihan. Ia hanya tahu satu hal: Hafiz tidak pernah minta apa-apa. Dan itu justru membuatnya sering merasa bersalah.
***