Hafiz tahu rasanya tidak disukai. Ia juga tahu rasanya kalah. Tapi hari itu, ia baru benar-benar mengenal satu rasa lain yang lebih asing, rasa cemburu.
Bukan cemburu seperti orang dewasa. Bukan cemburu karena percintaan. Cemburu karena merasa tergeser.
Siang itu, rumah mereka didatangi tamu spesial. Ada suara tawa lain. Ada langkah kaki lain. Ada wangi sabun anak-anak yang bukan miliknya.
Hafiz sedang duduk di lantai ruang tengah, mengerjakan PR matematika, ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah. Dari balik jendela, ia melihat sosok yang sudah ia kenal akhir-akhir ini: Maya.
Namun hari itu Maya tidak datang sendiri. Ia datang bersama seorang anak laki-laki, kira-kira seusia Hafiz. Rambutnya rapi. Bajunya bersih, bermerek. Sepatunya mengkilap, bahkan untuk ukuran anak kampung. Anak itu melompat turun dari mobil dengan ceria.
“Halo, Om Zaenal!” katanya lantang.
Zaenal keluar dari dapur, terkejut sekaligus tersenyum.
“Eh, Aldi! Wah, udah gede aja kamu.”
Aldi tertawa lepas.
Hafiz berdiri pelan dari lantai. Ia memperhatikan dari jarak aman. Anak itu, Aldi, langsung menarik perhatian. Cara bicaranya lancar. Wajahnya bersih. Tangannya tidak ada bekas luka, tidak ada bekas goresan. Tidak seperti tangan Hafiz yang pernah memiliki penyakit gatal.
Maya menoleh ke arah Hafiz.
“Fiz..."
Hafiz mengangguk kecil. “Iya.”
“Kenalin ini Aldi, keponakan teteh.”
Aldi mendekat dan tersenyum lebar. “Al....Aldi.”
“Saya Hafiz,” jawab Hafiz singkat.
Hafiz mengangguk lagi. Tapi dadanya mulai terasa tidak nyaman. Ada sesuatu yang menyempit pelan-pelan. Zaenal kemudian duduk di kursi dan mengajak Aldi bercanda.
“Tumben kamu mau diajak kesini? Karena udah gede ya?"
“Aku suka berenang,” jawab Aldi cepat.
“Oh iya?” Zaenal tertawa. “Pantesan pengen kesini."
Hafiz mendengar semua itu. Ia duduk kembali, menunduk ke bukunya, tapi angka-angka di halaman tak lagi berarti apa-apa.
Ia merasa… dilihat tapi tidak benar-benar diperhatikan. Maya memperhatikan Hafiz yang diam. Padahal biasanya, ia anak yang mudah bergaul. Tapi hari itu, ada rasa asing di dadanya, rasa tidak ingin berbagi.
Tak lama kemudian, Maya membuka pembicaraan yang membuat Hafiz semakin tak nyaman.
“Zaenal,” kata Maya santai, “Aku kesini kepikiran ngajak kalian ke kolam renang. Tuh si Aldi ngebet aja..”
Zaenal menoleh ke Hafiz. “Gimana, mau, Fiz?”
Hafiz reflek menggeleng. “Enggak.”
Zaenal mengernyit. “Kenapa?”
“Aku mau main sama Bukhori.”
Padahal ia belum janjian apa-apa. Maya tersenyum, mengira itu alasan biasa. “Nanti mainnya setelah berenang. Kan kamu juga nanti main sama Aldi.”
Hafiz menggeleng lagi. Kali ini lebih tegas. “Enggak mau.”
Zaenal menatapnya lebih serius. “Hafiz.”
Nada itu membuat Hafiz menahan napas. Ia tahu pamannya tidak marah. Tapi ia juga tahu, pamannya berharap ia menurut.
“Ayo ikut aja,” kata Zaenal lebih lembut. “Jarang-jarang, kok."
Hafiz menunduk. “Enggak mau, Mang.”
Ada hening sesaat.
"Waduh maaf, May. Kalau begitu saya juga enggak bisa ikut. Karena Hafiz nya enggak mau." Ucap Zaenal dengan wajah yang tidak enak.