Batu Nisan Untuk Paman

Topan We
Chapter #31

Bab | 31

Rumah Haji Sakib selalu jatuh lebih sunyi dibanding rumah-rumah lain di kampung itu. Tidak ada suara televisi yang keras, tidak ada tawa yang berlebihan. Hanya desir angin, jam dinding tua yang berdetak pelan, dan lampu ruang tengah yang temaram, seolah sengaja dibuat agar setiap kata yang keluar terasa lebih khidmat.

Haji Sakib duduk bersila di atas tikar pandan. Peci hitamnya diletakkan di samping, sarungnya rapi. Di hadapannya, Bu Haji Sanah menyeduh teh panas, meniupnya perlahan sebelum meletakkannya di atas nampan kecil.

Mereka sudah lama duduk begitu, tanpa bicara. Sampai akhirnya Haji Sakib membuka suara.

“Mah… Laras sekarang usianya berapa?”

Bu Haji Sanah tidak terkejut. Pertanyaan itu seperti pertanyaan yang sudah lama menggantung di udara, hanya menunggu waktu untuk jatuh.

“Dua puluh lima,” jawabnya pelan.

“Hampir dua puluh enam kalau enggak salah.”

Haji Sakib mengangguk perlahan.

Usia itu bukan usia muda lagi di mata kampung mereka. Usia yang sudah terlalu sering disebut dalam bisik-bisik tetangga, dalam undangan hajatan, dalam kalimat-kalimat setengah bercanda yang sebenarnya menekan.

“Orang-orang mulai banyak nanya,” lanjut Bu Haji Sanah lirih.

“Kadang aku capek jawabnya.”

Haji Sakib menarik napas panjang.

Ia tahu. Ia selalu tahu. Tapi sebagai kepala keluarga, ia juga tahu bahwa diam terlalu lama hanya akan menambah beban di pundak anak perempuannya.

“Laras itu anak baik,” katanya akhirnya.

Bu Haji Sanah menatap suaminya.

“Bukan salah Laras kalau hatinya belum bisa berpindah.”

Kalimat itu membuat Haji Sakib terdiam sejenak. Nama itu tidak disebut. Tapi mereka berdua tahu. Ya. Zaenal....

Haji Sakib mengusap jenggotnya pelan. Ia bukan orang yang mudah melunak. Selama ini, sikapnya terhadap Zaenal jelas, bukan membenci, tapi juga tidak merestui. Terlalu banyak pertimbangan. Terlalu banyak kekhawatiran.

“Mah,” ucapnya pelan,

“Kalau Laras terus menunggu… kita takutnya bukan dapat yang terbaik, tapi yang.....”

Kalimat itu tajam, tapi menggantung...

Dan justru karena itulah Bu Haji Sanah tidak membantah. Malam itu, mereka sepakat memanggil Laras. Laras datang dengan langkah ragu. Ia masih mengenakan mukena, tanda ia baru saja selesai salat Isya. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan kegelisahan yang tidak ia sembunyikan sepenuhnya.

“Duduk,” kata Bu Haji Sanah lembut.

Laras duduk di antara mereka, menunduk sedikit. Ia tahu, percakapan ini suatu hari pasti datang. Ia hanya tidak pernah tahu kapan.

Haji Sakib memulai dengan nada yang tidak biasa, lebih rendah, lebih hati-hati.

“Abah mau ngobrol. Bukan marah. Bukan mau maksa.”

Laras hanya menunduk. Bersiap-siap menunggu kata-kata atau pertanyaan bapaknya yang terus diulang akhir-akhir ini.

“Kamu sudah dewasa,” lanjut Haji Sakib. “Sudah bisa mikir masa depan sendiri. Tapi sebagai orang tua, abah dan emakmu juga punya tanggung jawab.”

Laras menarik napas. Tangannya saling menggenggam di pangkuan.

“Abah enggak mau kamu salah pilih, itu doang,” ucap Haji Sakib.

“Bukan hanya soal cinta saja. Tapi soal hidupmu, masa depanmu. Soal kamu nanti bahagia atau tidak.”

Nada itu tidak menghakimi. Tidak seperti biasanya. Laras mengangkat wajahnya perlahan. Ada sesuatu yang berubah malam itu, ia bisa merasakannya.

“Abah tahu… kamu punya rasa,” lanjut Haji Sakib.

“Dan abah enggak bilang itu salah.”

Kalimat itu membuat dada Laras bergetar pelan.

“Tapi abah juga mau kamu jujur sama diri sendiri,” sambungnya.

“Orang yang kamu tunggu itu… apa benar-benar siap berdiri di depan kamu?”

Laras terdiam. Pertanyaan itu bukan baru. Tapi kali ini, ia datang dari arah yang tidak ia duga.

Lihat selengkapnya