Batu Nisan Untuk Paman

Topan We
Chapter #32

Bab | 32

Kesunyian malam ini membuat rumah tua itu benar-benar terlihat sepi. Tidak ada hujan, tidak ada angin kencang, hanya suara jangkrik yang bersahut-sahutan dari kebun kecil di belakang rumah. Lampu ruang tengah sudah lama dipadamkan. Rumah kayu itu tenggelam dalam gelap yang akrab, gelap yang selama bertahun-tahun menjadi tempat Hafiz tumbuh, menangis, dan belajar menahan banyak hal sendirian. Hafiz tertidur dengan tubuh meringkuk. Selimut tipis menutupinya hingga dada. Tangannya menggenggam ujung kain, seperti takut sesuatu akan diambil darinya jika ia melepaskan genggaman itu. Di dalam tidurnya, mimpi datang perlahan. Bukan mimpi yang tiba-tiba menakutkan. Bukan pula mimpi yang langsung membuat jantungnya berdegup kencang.

Mimpi itu datang seperti kenangan. Ia melihat dirinya berjalan bersama pamannya, Zaenal, di sebuah tempat yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Jalan itu lebar, tanahnya halus, dan langitnya berwarna biru pucat, bukan biru cerah seperti siang, tapi biru yang tenang, seperti sore yang terlalu panjang.

Mereka berjalan berdampingan. Zaenal mengenakan pakaian sederhana, sama seperti yang sering ia pakai sehari-hari. Wajahnya tampak sehat. Tidak pucat. Tidak lelah. Senyumnya lebar, hangat, seperti Zaenal yang dulu, sebelum Hafiz mengerti arti kata sakit.

“Laper?” tanya Zaenal di dalam mimpi itu.

Hafiz ingin menjawab. Ia benar-benar ingin menjawab. Tapi suaranya tidak keluar. Ia hanya mengangguk kecil. Mereka duduk di sebuah warung kecil. Meja kayunya pendek. Bangkunya sederhana. Di atas meja tersaji dua piring nasi dan lauk seadanya. Mereka makan bersama. Tertawa. Bercanda.

Zaenal bercerita banyak hal. Tentang masa kecilnya. Tentang orang tua Hafiz. Tentang hal-hal ringan yang biasanya hanya keluar ketika malam terasa ramah. Hafiz mendengarkan. Ia ingin tertawa.

Ia ingin berkata, “Jangan ke mana-mana.” Ia ingin berkata, “Aku takut ditinggal, amang.”

Tapi bibirnya tetap terkunci. Setiap kali ia mencoba berbicara, suaranya seperti tertelan oleh udara. Dadanya terasa penuh, seolah kata-kata itu menumpuk, mendesak, tapi tidak diberi jalan keluar. Zaenal menatap Hafiz lama. Tatapan itu bukan tatapan biasa. Ada sesuatu di sana, lembut, dalam, dan menyakitkan.

“Fiz,” kata Zaenal pelan, “Amang enggak mau kehilangan kamu.”

Kalimat itu membuat dada Hafiz bergetar. Matanya panas. Air mata menggenang, tapi tetap tidak jatuh. Lalu, seperti mimpi yang bergeser tanpa aba-aba, tempat itu berubah. Mereka tidak lagi di warung. Tidak lagi di jalan lebar. Kini Hafiz berdiri sendiri. Di depannya terbentang ruang luas yang samar. Tidak jelas di mana ujungnya. Tidak jelas apa yang ada di baliknya. Hanya kabut tipis dan cahaya pucat yang membuat semuanya tampak jauh. Dan di kejauhan, Zaenal berdiri. Tidak dekat. Tidak terlalu jauh. Tapi cukup jauh untuk membuat Hafiz panik.

Zaenal melambaikan tangan. Senyumnya masih ada. Tapi kali ini, senyum itu seperti senyum perpisahan. Hafiz berlari. Ia mencoba berteriak. Tapi lagi-lagi, tidak ada suara. Kakinya terasa berat. Langkahnya seperti tertahan tanah. Zaenal tetap di sana. Tetap melambaikan tangan. Dan tanpa suara, tanpa kata, tanpa pelukan terakhir, Zaenal perlahan memudar.

“Fiz…”

Nama itu terdengar samar. Bukan dari mimpi. Dari dunia nyata. Tubuh Hafiz menggeliat. Napasnya memburu. Dada kecilnya naik turun cepat, seperti baru saja dikejar sesuatu yang tak kasatmata.

“Fiz… bangun…”

Kelopak matanya terbuka. Gelap. Wajah Zaenal ada di atasnya. Bukan Zaenal yang jauh. Bukan Zaenal yang melambaikan tangan seperti dalam mimpi.

“Fiz,” katanya lagi, suaranya tertahan.

“Kamu ngigau.”

Jam dinding di ruang tengah berdetak pelan. Jarumnya menunjukkan pukul 03.18 dinihari. Hafiz terisak. Tangis itu pecah. Bukan tangis keras. Bukan jeritan. Tapi sesenggukan yang keluar dari dada kecilnya, seperti bendungan yang retak. Zaenal langsung meletakkan punggung tangannya di jidat Hafiz. Normal....

Lihat selengkapnya