Sebuah mobil elf kecil berwarna putih terparkir di depan gerbang. Di kaca depannya tertempel tulisan lusuh: Rombongan SD 02 Negeri Camar Lomba Melukis Tingkat Kabupaten. Beberapa guru berdiri sambil mengecek daftar nama. Anak-anak yang terpilih tampak duduk rapi dengan tas gambar di pangkuan masing-masing.
Hafiz berdiri di antara mereka. Tubuhnya paling kecil. Seragamnya tampak kebesaran, terutama di bagian lengan. Tas gambar yang ia bawa hampir seukuran tubuhnya sendiri. Tapi wajahnya, wajah itu tenang. Tidak ceria berlebihan, tidak pula murung. Ia hanya menarik napas perlahan, mencoba mengatur detak jantungnya. Empat murid. Satu dari kelas dua, dirinya. Tiga lainnya dari kelas yang lebih tinggi: kelas tiga, empat, dan lima.
Mereka akan mewakili sekolah dalam perlombaan melukis tingkat kabupaten. Jika salah satu dari mereka menang, pintu ke tingkat provinsi akan terbuka. Beberapa guru sudah memberi bocoran kecil, setengah berbisik, setengah bercanda.
“Kalau juara satu hadiahnya lima juta,” kata seorang guru sambil tersenyum.
“Juara dua tiga juta. Juara tiga satu juta.”
Anak-anak lain tampak berbisik, mata mereka berbinar. Lima juta bukan angka kecil, bahkan bagi orang dewasa. Tapi Hafiz hanya mendengarkan sambil mengangguk kecil. Uang tidak pernah benar-benar tinggal lama di pikirannya. Yang ia pikirkan hanya satu: Apakah gambarnya nanti bisa dipertimbangkan juri?
Bu Laras berdiri agak jauh dari rombongan. Ia tidak ikut mendampingi. Ia hanya ditugaskan mengantar sampai pemberangkatan. Tangannya melambai kecil saat Hafiz menoleh.
“Hafiz,” panggilnya.
Hafiz mendekat.
“Kamu jangan gugup, ya,” kata Bu Laras sambil menunduk agar sejajar dengannya.
“Gambar saja seperti biasa. Seperti kamu menggambar di rumah dan di sekolah. Seperti kamu latihan saja.”
Hafiz mengangguk. "Iya,Bu."
Ia sebenarnya berharap Bu Laras ikut. Entah kenapa, keberadaan guru muda itu selalu membuatnya merasa aman. Tapi ia tidak berkata apa-apa. Ia sudah belajar, tidak semua yang kita harapkan akan terjadi. Mobil mulai dinyalakan. Sebelum naik, Hafiz teringat sesuatu.
Pagi tadi, sebelum berangkat, Zaenal berdiri di depan rumah sambil merapikan tasnya.
“Fiz,” kata pamannya, suaranya tenang tapi tegas,
“Nanti pas lomba, jangan lihat kiri kanan.”
Hafiz sempat bingung.
“Gimana Mang?”
“Jangan lihat gambar orang lain. Nanti kamu enggak fokus.” jawab Zaenal.
“Fokus sama gambar kamu sendiri, ya.”
Zaenal lalu menyelipkan uang ke saku celana Hafiz. Tiga lembar sepuluh ribuan dan satu lima ribuan.
“Ini buat jajan.”
Hafiz terkejut.
“Banyak, Mang…”
Zaenal tersenyum tipis.
“Enggak apa-apa. Buat beli jajan apa aja.”
Padahal Zaenal tahu, semua kebutuhan lomba sudah ditanggung sekolah. Tapi ia juga tahu keponakannya. Hafiz jarang jajan. Dan jika punya uang sendiri, ia merasa… punya kendali kecil atas hidupnya.
Mobil bergerak.
Perjalanan menuju kabupaten memakan waktu hampir satu jam. Gedung tempat lomba berlangsung besar, ramai, dan dipenuhi anak-anak dari berbagai sekolah. Bau kertas, cat air, dan krayon bercampur jadi satu. Hafiz duduk di meja bernomor 67.
Di sekelilingnya, anak-anak lain sibuk menata alat. Ada yang sudah mulai mencoret-coret kertas, ada yang tampak gelisah.
Ronde pertama dimulai. Tema diumumkan oleh juri: “Pemandangan Air Terjun.”
Hafiz menghela napas kecil. Ia memejamkan mata sebentar. Air terjun…
Ia membayangkan suara air jatuh. Dingin. Deras. Alam yang tidak peduli siapa kita. Tangannya mulai bergerak.
Awalnya sedikit gemetar. Garis pertama selalu paling sulit. Tapi begitu garis itu tercipta, dunia seakan mengecil, hanya tersisa kertas, warna, dan pikirannya sendiri.
Ia menggambar air terjun tinggi, dikelilingi pepohonan. Ramai. Hampir detail. Dominasi warna hijau dan biru mencolok. Tapi ada keseimbangan. Ada ruang yang membuat mata bisa menikmati keindahannya. Guru pendamping sesekali melirik. Ia mengangguk pelan.
Ronde pertama selesai. Tanpa banyak istirahat, ronde kedua diumumkan. Tema bebas.
Beberapa anak langsung tersenyum lega. Mereka mulai menggambar rumah, gunung, sawah, matahari besar di pojok kertas, gambar-gambar ceria yang wajar untuk usia mereka.
Hafiz diam. Ia menatap kertas kosongnya lama. Lalu, perlahan, ia mulai menggambar sesuatu yang berbeda. Hamparan luas. Kosong...
Tanah kering seperti padang pasir, mengingatkan pada gurun Sahara yang pernah ia lihat di televisi. Langit pucat. Tidak ada pohon. Tidak ada manusia...
Di tengah padang itu, dua kuburan. Sederhana. Dua gundukan tanah dengan batu nisan kecil. Tidak ada nama tertulis. Tidak ada bunga. Hanya tercium kesunyian. Tangannya bergerak dengan presisi yang tidak biasa untuk anak kelas dua. Bayangan, tekstur tanah, jarak antara dua nisan, semuanya diperhatikan.
Guru pendamping yang melihatnya terdiam. Ini bukan gambar anak-anak. Ini layaknya lukisan anak dewasa yang sudah mengerti filosofi.
“Hafiz…” gumam sang guru pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Hafiz tidak tahu itu. Ia hanya menggambar. Bukan karena ingin menang. Bukan karena ingin dipuji. Ia menggambar karena itu yang ia punya setiap hari. Imajinasi lukisannya membawa dirinya lebih cepat peka dianak seusianya.
Perlombaan selesai.
Kertas-kertas dikumpulkan. Anak-anak mulai ribut, saling membandingkan gambar. Hafiz menggulung kertas sisa pelan, lalu memasukkannya ke dalam tas. Ia merasa… lega. Hasil tidak diumumkan hari itu. Juri butuh waktu. Beberapa hari ke depan.