Batu Nisan Untuk Paman

Topan We
Chapter #34

Bab | 34

Sekolah libur. 21 April di kalender menunjukkan tanggal merah. Memperingati Hari Kartini.

Pagi datang dengan cahaya yang berbeda. Tidak ada suara bel sekolah. Tidak ada seragam tergantung di balik pintu. Kampung terasa lebih lengang, lebih santai, seolah memberi ruang bagi anak-anak untuk bernafas sedikit lebih panjang.

Hafiz sudah bangun sejak subuh. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi celengan plastik kecil yang selama ini ia sembunyikan. Kadang di balik lemari kadang di kolong ranjang. Yang penting jangan sampai ketahuan Zaenal. Warnanya mencolok. Namun ada retakan halus di satu sisinya, bekas pernah jatuh entah kapan. Celengan itu barang yang sangat istimewa. Isinya adalah dunia Hafiz yang tidak pernah diketahui siapa pun.

Perlahan ia mengangkatnya. Berat. Tangannya yang kecil menggenggam kuat, seakan takut celengan itu mengkhianatinya, menumpahkan rahasia yang selama ini ia jaga sendiri. Dengan hati-hati, Hafiz membongkar celengan itu. Uang-uang kecil berhamburan di lantai. Ada yang lecek. Ada yang dilipat rapi. Ada yang warnanya sudah hampir pudar. Semua itu adalah sisa-sisa jajan yang ia sisihkan sedikit demi sedikit. Dari uang pamannya. Dari uang pemberian orang lain. Bahkan dari uang jajan yang kadang bapaknya Bukhori beri saat mereka bermain bersama.

Tak pernah sekalipun Hafiz melewatkan satu hari tanpa menyisihkan uang. Ia tidak tahu persis kapan niat itu tumbuh. Tapi ia tahu satu hal: uang ini bukan untuk mainan. Bukan untuk jajan berlebihan. Bukan pula untuk pamer. Ini untuk pamannya. Ia mengumpulkan uang itu, memasukkannya ke dalam kantong celana dengan hati-hati. Jumlahnya cukup banyak, lebih dari yang seharusnya dimiliki anak kelas dua SD. Tapi Hafiz tidak menghitungnya dengan teliti. Ia hanya memastikan semuanya ikut terbawa.

Setelah itu, ia keluar rumah. Ia memanggil Bukhori dari depan pagar.

“Bukhooooriiiii!”

Tak lama, Bukhori muncul dengan sandal jepit dan kaus bola bernama Dembele bernomor punggung 10 dari club PSG.

“Mau ke mana, Fiz?” tanyanya sambil tersenyum.

“Main yuk. Antar aku!” jawab Hafiz singkat.

Itu saja. Tidak ada penjelasan. Tidak ada tujuan. Dan Bukhori, seperti biasa, tidak banyak bertanya. Ia hanya mengangguk dan ikut.

Mereka berjalan kaki. Langkah kecil mereka menyusuri jalan kampung, lalu jalan besar, lalu menyempit lagi. Sepanjang perjalanan, mereka tertawa. Membicarakan hal-hal sepele. Tentang lomba melukis. Tentang teman-teman yang iri. Tentang guru yang galak. Tentang mimpi Hafiz jadi pelukis terkenal dan Bukhori jadi Tentara Angkatan Udara.

Tidak ada tanda bahwa tujuan mereka sejauh itu. Padahal jaraknya hampir sepuluh kilometer. Matahari mulai naik saat mereka tiba di sebuah tempat yang asing tapi tidak benar-benar asing bagi Hafiz. Sebuah halaman luas dengan tumpukan batu-batu abu-abu. Beberapa sudah dipahat rapi. Beberapa masih kasar. Beberapa berdiri tegak dengan tulisan nama dan tanggal, sudah dipesan orang.Tempat pemesanan batu nisan.

Bukhori berhenti mendadak.

“Fiz…”

“Ini tempat apaan?”

Hafiz melangkah lebih dulu. Ia melihat seorang pria sedang menghaluskan permukaan batu dengan mesin. Pria itu menoleh, lalu terkejut. Mereka kenal siapa pria itu.

“Hah? Hafiz? Bukhori?”

“Mau ngapain kalian ke sini?”

Itu Mang Asep. Tetangga mereka. Terhalang 3 rumah jika dihitung dari rumah Hafiz. Berseberangan dengan rumah Bukhori.

Hafiz mendekat.

“Saya mau pesan batu nisan, Mang.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Bukhori melongo. Mang Asep tertawa kecil, mengira itu candaan.

“Eh… batu nisan bukan mainan, Fiz,” katanya santai.

“Itu buat orang yang sudah meninggal.”

Wajah Hafiz memerah. Malu. Tapi matanya tetap yakin.

“Iya. Hafiz tahu, Mang.”

“Terus?”

“Saya mau pesan dua.”

Tawa Mang Asep tertahan.

“Dua? Buat siapa?”

Hafiz menunduk sesaat, lalu menjawab pelan, “Buat amang saya… dan saya.”

Hening. Bukhori menoleh cepat ke Hafiz.

“Hah?!”

Mang Asep bingung bukan main.

“Hafiz… kamu ngerti enggak ini apa?”

“Ini bukan mainan. Ini tanda buat kuburan.”

Hafiz mengangguk.

“Hafiz tahu, mang,” katanya lirih.

“Hafiz cuma mau beli batunya aja. Enggak usah ditulis.”

Ia ingin menjelaskan lebih jauh, tapi kata-katanya berantakan. Kalimatnya berbelit. Maksudnya tidak tersampaikan dengan baik. Bukhori akhirnya ikut bicara.

“Begini, Mang,” katanya terbata tapi tulus.

“Hafiz mau gambarin sendiri. Mau dibikin… sendiri. Hafiz butuh batunya doang.”

Mang Asep mengerutkan kening.

“Lah, aneh-aneh aja kalian.”

Ia lalu bertanya, “Mamang kamu tahu? Si Zaenal?”

Hafiz menggeleng.

“Ini hadiah,” katanya cepat.

Mang Asep semakin tidak karuan.

“Hafiz, satu batu nisan itu harganya tiga ratus ribu. Dua berarti enam ratus ribu.”

“Itu bukan uang kecil.”

Hafiz diam. Ia merogoh kantong celananya pelan. Ia rasa uang itu cukup untuk membeli 2 batu nisan. Tapi Mang Asep keburu memalingkan wajah, melayani pelanggan lain. Ia meninggalkan Hafiz dan Bukhori di sudut yang lebih sepi.

Bukhori menatap Hafiz lama.

“Fiz…”

“Kamu mau apaan si?”

“Ngapain beli batu nisan?”

Hafiz menatap tumpukan batu di depan mereka.

“Aku cuma mau gambar,” jawabnya pelan.

Lihat selengkapnya