Siang itu datang seperti siang-siang lain di kampung kecil mereka. Matahari menggantung tanpa ampun, menyiram atap-atap rumah dengan panas yang membuat siapa pun ingin cepat pulang. Di pabrik tahu milik Kang Epi, Zaenal bekerja seperti biasa. Tangannya bergerak cekatan, pikirannya fokus, tubuhnya sudah jauh lebih kuat dibanding beberapa bulan lalu. Ia tidak lagi sering duduk memegangi dada atau batuk berkepanjangan. Hidup, pelan-pelan, terasa lebih bisa ia kendalikan lagi.
Di sela pekerjaannya, Zaenal sempat teringat Hafiz. Hari ini sekolah pulang lebih awal, katanya tadi pagi. Ada acara guru. Zaenal sudah menyiapkan seperti biasa, satu bungkus mi instan dan satu butir telur di rak dapur. Sederhana, tapi cukup. Hafiz tidak pernah menuntut lebih. Zaenal tidak tahu, di rumah, anak kecil itu sedang berdiri lama di depan rak dapur. Perut Hafiz sangat lapar. Ia baru saja pulang bersama beberapa temannya, tapi hari itu ia langsung masuk rumah. Tidak ikut bermain. Kepalanya penuh walau hanya setengah hari diisi pelajaran. Tubuhnya lelah. Sejak beberapa hari terakhir, perasaannya tidak menentu. Ia sering melamun, sering diam. Tangannya meraih mi instan. Lalu berhenti. Matanya beralih ke telur. Ia menggenggam keduanya.
Beberapa detik ia berdiri, menimbang-nimbang, seperti orang dewasa yang sedang memilih sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar makan siang. Akhirnya, telur itu ia kembalikan ke rak.
“Buat amang aja,” gumamnya pelan.
Ia mengambil mi instan saja. Nasi dingin dari pagi masih ada di rice cooker. Itu cukup. Ia sudah biasa. Hafiz menyalakan kompor gas.
Klik....
Tidak menyala. Ia coba lagi.
Klik....
Masih tidak menyala. Ia menunduk, melihat regulator. Jarum indikator sudah di angka nol. Gas habis. Hafiz menghela napas kecil. Tapi tidak panik. Ia sudah sering melihat apa yang Zaenal lakukan saat gas habis. Di dapur mereka, selain kompor gas, ada tungku sederhana dari tanah dan batu bata. Kayu bakar disusun di sudut, dan beberapa potongan karet ban bekas disimpan untuk mempercepat api menyala, kebiasaan lama orang kampung. Hafiz tahu caranya. Ia pernah melihat. Berkali-kali. Ia jongkok, menyusun kayu kecil. Mengambil korek api dari laci. Menyulutnya. Api kecil menyala. Lalu mati. Ia tiup hidup lagi. Beberapa kali. Namun ia pantang menyerah. Tak lama ia baru ingat. Ia harus menambahkan potongan karet ban. Setelah itu...
Wusss....
Api langsung membesar. Mata Hafiz berbinar sesaat. Seperti berhasil melakukan sesuatu yang penting. Ia mengisi panci dengan air. Meletakkannya di atas tungku. Uap mulai naik. Sambil menunggu, ia duduk di bangku kecil. Sesekali meniup api. Sesekali menambahkan karet ban agar nyala tetap besar. Saat itulah suara memanggil terdengar dari luar.
“Hafiiiz!”
Hafiz menoleh.
Seorang temannya berdiri di depan rumah, membawa kelereng di tangan.
“Kelerengan yuk!”
Hafiz bangkit. Melangkah keluar.
“Bentar. Aku mau makan dulu. Lagi masak mie.”
“Ooh. Ya udah.”
Namun temannya justru mengajaknya ngbrol. Ringan tapi terkesan seru sampai Hafiz lupa di dapur ia sedang apa. Mereka duduk di teras. Kelereng beradu. Cerita-cerita kecil mengalir. Tawa muncul. Waktu berjalan. Tanpa Hafiz sadari, api di tungku semakin besar. Potongan karet ban yang ditambahkan terlalu banyak. Api menjilat kayu-kayu kering di sekitarnya. Lalu dinding dapur yang setengah kayu itu. Api menemukan jalannya sendiri.
“KEBAKARAAAN!”
Teriakan itu datang dari belakang rumah. Hafiz terlonjak.
“Astagfirullah…”
Ia berlari masuk. Belum sampai dapur, panas sudah menyambutnya. Asap sudah menjalar ke ruang tengah hampir ke depan. Tapi apinya masih di area dapur. Asap hitam mengepul. Bau menyengat memenuhi rumah. Hafiz berhenti. Kakinya seperti tertanam di lantai. Itu rumahnya. Itu tungku yang ia nyalakan. Dan api itu yang ia buat. Tangannya gemetar. Dadanya sesak. Air mata langsung jatuh. Warga berdatangan. Ember, gayung, apapun yang bisa membawa air.
“Hafiz! Hafiz!”
Seseorang berteriak memanggil namanya. Temannya tadi langsung memberi tahu bahwa Hafiz ke dalam. Seorang tetangga masuk ke rumah, menutup hidung dengan kain. Melihat Hafiz berdiri kaku.
“Hafiz! Keluar!”
Tangannya ditarik. Hafiz tidak melawan. Tubuhnya ringan seperti tidak bernyawa. Api semakin ganas. Atap dapur runtuh. Ruang tengah mulai terbakar, tapi baru sedikit.
Seseorang segera pergi ke pabrik tahu. Menjemput Zaenal. Ketika Zaenal mendengar kata kebakaran, dunia seperti runtuh di kepalanya.
“Rumah saya?”