Batu Nisan Untuk Paman

Topan We
Chapter #36

Bab | 36

Hari-hari berlalu pelan, seperti seseorang yang baru sembuh dari sakit panjang, tidak benar-benar pulih, tapi juga tidak lagi terbaring.

Dapur Zaenal sudah kembali berdiri. Tidak persis sama seperti sebelumnya, tapi cukup. Tungku sudah rapi. Kompor gas kembali di sudutnya. Rak panci tergantung lagi, meski sebagian masih tampak baru dan asing. Bau kayu gosong perlahan tergantikan oleh aroma bawang tumis dan air mendidih.

Zaenal dan Hafiz bisa memasak kembali. Namun, ada satu hal yang berubah. Hafiz tidak mau menyalakan api. Bukan tidak bisa, ia tahu caranya. Ia sudah sering melihat Zaenal. Tapi setiap kali korek api berada di dekat tangannya, jemarinya mendadak kaku. Dadanya terasa sesak. Bayangan api yang merambat, suara teriakan tetangga, dan panas yang membakar dinding kayu itu kembali muncul.

“Fiz ambilin panci ya,” kata Zaenal suatu pagi.

“Iya,” jawab Hafiz cepat.

Tapi ketika Zaenal berkata, “Tolong nyalain kompornya,” Hafiz langsung terdiam.

“Amang aja,” katanya lirih.

Zaenal tidak memaksa. Ia tahu, Hafiz masih merasakan kejadian itu. Ia tidak ingin bersalah.

***

Sore itu, saat matahari mulai condong ke barat, Laras datang. Ia berdiri di depan rumah dengan senyum yang tetap sama, tenang, sopan, dan hangat. Di tangannya ada beberapa kantong plastik: jajanan anak-anak, dua bungkus kopi, gula pasir, biskuit, dan beberapa kebutuhan dapur lainnya.

“Hafiz!” panggilnya lembut.

Hafiz langsung berlari kecil.

“Bu Laras!”

Ia menerima plastik jajanan itu dengan mata berbinar, tapi masih ada kehati-hatian di geraknya, seperti anak yang baru saja melewati sesuatu yang besar. Zaenal keluar menyambut.

“Bu Laras… jangan repot-repot,” katanya seperti biasa.

Laras tersenyum.

“Ini bukan repot, kang. Saya cuma mampir.”

Ia melirik ke dapur.

“Sekarang sudah rapi ya,” lanjutnya.

“Alhamdulillah.”

Zaenal mengangguk.

“Berkat tetangga semua yang sudah bantu saya dan Hafiz.”

Mereka duduk di kursi depan rumah. Hafiz sibuk dengan jajanan, sesekali mencuri dengar pembicaraan orang dewasa yang baginya terdengar samar.

“Sekarang Hafiz bisa masak lagi...” katanya.

Hafiz menggeleng cepat.

“Enggak bu. Hafiz takut...”

Laras menoleh ke Zaenal. Zaenal mengangguk.

“Itu wajar,” kata Laras lembut.

“Nanti juga kamu bisa kok.”

Lihat selengkapnya