Batu Nisan Untuk Paman

Topan We
Chapter #37

Bab | 37

Sejak pagi, semua murid berasa seperti terlepas dari belenggu ribuan tahun. Rasanya seperti pesta pora. Tidak ada buku pelajaran yang dibuka. Tidak ada suara guru menjelaskan di depan kelas. Hari itu memang bukan hari belajar seperti biasa. Setelah upacara singkat, kepala sekolah memberi pengumuman bahwa kegiatan belajar diganti dengan olahraga bebas. Syaratnya hanya satu: tidak boleh bolos.

Lapangan sekolah penuh oleh suara tawa anak-anak. Ada yang bermain sepak bola dengan bola plastik yang sudah penyok, ada yang berlarian mengejar layang-layang kecil buatan sendiri, ada pula yang sekadar duduk bergerombol di bawah pohon.

Di ruang guru, suasana justru jauh lebih sunyi. Pintu tertutup rapat. Para guru duduk melingkar, membahas agenda sekolah dan beberapa masalah administrasi. Tidak satu pun yang menyangka, di halaman sekolah yang terlihat aman itu, sebuah tragedi kecil sedang menunggu waktunya.

Di sudut lapangan, dekat pohon mangga yang sudah tua, Hafiz dan Bukhori baru saja menyelesaikan permainan badminton. Keduanya terengah, keringat membasahi kaos olahraga mereka. Raket kayu murahan disandarkan ke batang pohon. Nafas mereka memburu, tapi wajah mereka ringan, penuh kepuasan sederhana.

“Aduh… capek,” kata Bukhori sambil duduk bersila.

Hafiz tertawa kecil. “Kamu yang capek. Dari tadi mukulnya keras-keras.”

Bukhori nyengir. “Biar kayak Ginting.”

Tak lama, mereka membeli es cekek dari kantin kecil di pinggir lapangan. Plastik es itu dingin, manis, dan sedikit lengket. Hafiz menyesapnya pelan-pelan, menikmati rasa gula yang sederhana. Mereka duduk berdampingan di bawah pohon mangga. Angin sepoi-sepoi membuat daun-daun bergesekan. Dunia seakan baik-baik saja.

“Fiz,” kata Bukhori tiba-tiba, menatap lurus ke depan, “kalau besar nanti kamu mau jadi apa? Jadi pelukis kan?”

Hafiz terdiam sejenak. Ia memandang tanah, lalu ke langit yang biru.

“Iya. Pelukis,” jawabnya mantap.

Bukhori menoleh. “Pelukis terkenal?”

“Iya,” kata Hafiz pelan, tapi yakin. “Biar lukisan aku bisa sampai ke mana-mana.”

Bukhori tersenyum lebar. “Kalau aku mau jadi tentara angkatan udara.”

“Kenapa enggak polisi?” tanya Hafiz.

“Soalnya abangku itu,” kata Bukhori dengan mata berbinar, “kalau pulang pakai seragam, keren.”

Hafiz terkekeh. “Iya. Kakakmu keliatan gagah. Kamu harus percaya diri.”

“Harus,” balas Bukhori. “Kalau rnggak pede, kita enggak jadi apa-apa. Gitu kan kata Bu Laras.”

Percakapan mereka ringan. Anak-anak. Penuh mimpi. Tidak ada yang berat. Namun dari kejauhan, sepasang mata memperhatikan. Fadlan...

Ia berdiri bersama lima orang kakak kelas, dua dari kelas lima, tiga dari kelas enam. Tubuh mereka lebih besar. Suara mereka lebih keras. Cara berdirinya pun sudah menunjukkan kuasa. Fadlan mendekat. Langkahnya santai, tapi matanya tajam.

“Heh,” sapa Fadlan sambil tersenyum miring, “lagi ngapain kalian?”

Hafiz dan Bukhori diam. Bukhori hanya mengangguk kecil, tidak ingin memancing masalah. Fadlan menendang pelan raket badminton mereka. “Raket butut,” katanya.

Tidak ada balasan. Fadlan tertawa kecil, lalu mendekat ke Bukhori. “Eh, Bukhori… bapak kamu itu kan yang jualan di pasar ya, Haji Ahmad?”

Nada suaranya berubah. Ada ledekan yang disengaja. Bukhori menatapnya. “Kenapa?”

“Cuma nanya,” kata Fadlan. “Kasihan ya, tiap subuh udah ngangkut-ngangkut.”

Salah satu kakak kelas ikut tertawa.

Bukhori menegang. “Bapak saya kerja halal. Lagian duitnya banyak.”

“Ya iya,” sahut Fadlan cepat. “Si anak abah...”

Bukhori berdiri. “Jangan bawa-bawa orang tua kalau becanda.”

Itu kesalahan kecil. Salah satu kakak kelas melangkah maju. “Berani kamu?”

“Kita ke belakang aja,” kata yang lain.

Hafiz berdiri juga. “Kami enggak mau.”

Namun tangan-tangan itu sudah menarik. Mereka dipaksa berjalan ke belakang gedung sekolah, tempat yang jarang dilewati, tertutup tembok dan semak.

Begitu sampai, suasana berubah. Tidak ada tawa. Tidak ada lagi canda.

Bukhori didorong ke tembok. “Tunduk,” kata salah satu kakak kelas.

Hafiz melangkah maju. “Jangan ganggu dia.”

Seketika semua mata beralih. Sebuah tangan mencengkeram kerah kaos Hafiz.

“Kamu berani sekarang?” kata seseorang.

Hafiz mencoba melepaskan diri. Tangannya berhasil menepis satu genggaman.

“Wah, berani nih si Yatim,” sahut yang lain.

Dan pukulan pertama mendarat. Di pipi. Hafiz terjatuh, bangkit, lalu dipukul lagi. Ia mencoba melawan. Menarik baju Fadlan hingga terjatuh. Tapi tubuh-tubuh besar itu segera menindih.

Bukhori berteriak. “Berhenti!”

Ia mencoba menolong, tapi dua orang menghadangnya. Hafiz sudah berkata ampun. Namun mereka tidak berhenti. Hafiz dipukul di area wajah. Di tendang di bagian dada dan perut. Diinjak. Yang parah dipukul dikepala.

Waktu berjalan lambat.

Sekitar sepuluh menit, yang terasa seperti setahun bagi Bukhori dan Hafiz, hingga suara teriakan perempuan memecah udara.

“Kalian ngapain?!”

Ibu kantin. Ia berdiri terpaku sesaat, lalu menjerit histeris.

“Berhenti! Berhenti!”

Lihat selengkapnya