Malam itu, lampu-lampu puskesmas terasa kelap-kelip, seperti mengisyaratkan tanda buruk. Bukan karena watt-nya bertambah, melainkan karena mata Zaenal tak pernah benar-benar terpejam sejak sore tadi. Ia duduk di kursi plastik yang dingin, punggungnya menempel ke tembok, kedua tangannya saling menggenggam, selain untuk berdoa, juga agar tubuhnya tidak runtuh. Hafiz terbaring di ranjang periksa. Napasnya pendek. Tidak teratur. Setiap tarikan napas kecil itu seperti palu yang memukul dada Zaenal berulang kali.
“Kenapa, pak?” suara Zaenal serak.
“Tadi sore katanya stabil…”
Dokter jaga menatap layar monitor, lalu ke wajah Hafiz, lalu kembali ke Zaenal.
“Kondisinya menurun,” jawabnya jujur.
“Respons tubuhnya melemah. Ada kemungkinan cedera dalam yang baru menunjukkan efeknya sekarang.”
Zaenal berdiri.
“Lalu?”
“Kami sarankan dirujuk ke rumah sakit umum. Malam ini juga.”
Tak ada kata lain. Tak ada pertimbangan panjang.
“Siapkan rujukan,” kata Zaenal cepat.
“Sekarang.”
Ambulans melaju memecah malam. Sirenenya meraung, menabrak sunyi kampung yang biasanya tenang. Di dalam mobil itu, Hafiz terbaring, wajahnya pucat, matanya terpejam. Selang oksigen terpasang. Zaenal duduk di sampingnya, satu tangan menggenggam tangan kecil itu tanpa henti.
“Tahan ya, Fiz…” bisiknya.
“Amang di sini.”
Laras duduk di kursi depan, diam, kedua tangannya menutup wajah sesekali. Dua tetangga ikut mendampingi, bukan karena diminta, tapi karena mereka tahu: malam ini Zaenal tidak boleh sendirian.
Di setiap guncangan jalan, Zaenal merasa jantungnya ikut terguncang. Ia tidak peduli rumahnya. Tidak lagi peduli pekerjaannya. Tidak lagi peduli pada siapa yang berada di sampingnya.
Yang ia tahu hanya satu: jika Hafiz diambil malam ini, dunia Zaenal selesai.
Rumah sakit umum menyambut mereka dengan bau antiseptik yang lebih tajam. Administrasi terasa seperti labirin yang menyiksa.
“Kartu BPJS?”
“Surat rujukan?”
“Fotokopi KTP wali?”
Zaenal mengurus semuanya dibantu dengan tetangganya dan Laras. Tangannya gemetar tapi pikirannya jernih. Ia tidak boleh runtuh sekarang. Tidak boleh.
Laras beberapa kali ingin membantu, tapi Zaenal hanya mengangguk singkat. Ia berterima kasih. Hafiz dibawa ke ruang observasi.
Dokter spesialis datang.
“Diduga trauma tumpul di dada dan perut,” jelasnya.
“Kami perlu CT-scan. Ada kemungkinan pendarahan dalam.”
"Juga ada benturan di kepala."
Kalimat itu membuat dunia Zaenal terasa berputar.
“Astagfirullah ini berbahaya kan?” tanyanya pelan.
Dokter tidak menjawab dengan cepat.
“Kami akan lakukan yang terbaik, pak,” katanya akhirnya.
Sementara itu, di sekolah…
Hari itu itu menjadi hari pengumuman lomba melukis tingkat kabupaten. Namun suasana sekolah berubah total. Nama Hafiz tidak disebut sebagai peserta lomba hari ini, melainkan sebagai korban pengeroyokan. Di ruang guru, bisik-bisik berubah menjadi perdebatan.
Guru pendamping lomba akhirnya berangkat bersama tiga murid lain yang ikut lomba. Sebelum berangkat, ia berdiri di depan kelas dan berkata dengan suara bergetar: “Anak-anak… hari ini bukan soal juara.”
“Kita doakan Hafiz, ya.”
“Dan kalau Allah berkehendak… semoga lukisannya akan menjadi yang terbaik.”
Anak-anak mengangguk, beberapa menunduk. Bukhori duduk di kelas, tangannya mengepal, matanya kosong. Beberapa anak lain mencoba mendekatinya. Mencoba bertanya kenapa ia dan Hafiz bisa dipukuli kakak kelas. Sementara beberapa anak sudah tahu siapa biang keroknya. Fadlan. Fadlan yang mengajak kakak kelasnya melakukan ini.
Di ruang kepala sekolah, suasana jauh lebih panas. Haji Ahmad duduk di kursi depan. Wajahnya keras. Tegas. Tidak ada senyum ramah seperti biasanya.
Di sampingnya, ibu Bukhori. Di seberang, para orang tua murid yang anaknya terlibat pengeroyokan. Termasuk Pak Heru.
“Kami tidak terima,” suara Haji Ahmad rendah tapi menggetarkan.
“Anak-anak ini dipukuli habis-habisan. Ini pengeroyokan.”
Salah satu wali murid mencoba menyela.
“Pak Haji… mereka kan masih anak-anak. Mungkin hanya...”
“Tidak sengaja?” potong Haji Ahmad tajam.
“Tidak sengaja apa sampai anak lain masuk rumah sakit? Begitu?”
Ruangan hening. Fadlan dan teman-temannya duduk tertunduk. Wajah pucat. Lutut gemetar. Untuk pertama kalinya mereka melihat akibat dari perbuatan mereka. Pak Heru berdiri perlahan.
“Saya… saya minta maaf.”
Suaranya bergetar.
“Sebagai orang tua… saya sudah lalai.”
Ia menunduk dalam-dalam ke arah Haji Ahmad. Namun sebelum suasana melunak, pintu terbuka. Seorang pria berseragam TNI AU berdiri di ambang pintu. Posturnya tegap. Wajahnya keras. Tatapannya dingin.
“Pak Ibrahim,” gumam beberapa guru.
Kakak Bukhori itu melangkah masuk.
“Saya dengar adik saya dipukuli,” katanya datar.
“Saya juga dengar korban lain, tetangga saya sendiri, sekarang tidak sadarkan diri.”
Ia menatap kepala sekolah.
“Ini bukan lagi urusan sekolah.”
“Ini pidana. Bawa ke hukum!”
Ibu kantin berdiri dari kursinya.
“Saya saksinya,” katanya tegas.
“Saya lihat semuanya.”
Tak ada lagi perdebatan. Hari itu, keputusan dibuat. Kasus ini dibawa ke ranah hukum.
Kembali ke rumah sakit… Lampu ruang tunggu menyala sepanjang malam. Zaenal duduk sendirian sekarang. Laras sempat tertidur di kursi. Tetangga pulang bergantian. Jam menunjukkan pukul 02.47 dini hari. Pintu ruang CT-scan terbuka. Dokter keluar. Zaenal berdiri begitu cepat sampai kursinya jatuh.
“Bagaimana, Dok?”
Dokter menarik napas.
“Cedera dalam ada,” katanya jujur.
“Tapi belum sampai tahap operasi.”
“Kita observasi ketat 24 jam ke depan.”
Zaenal mengangguk. Kakinya hampir tak kuat menahan tubuhnya.