Batu Nisan Untuk Paman

Topan We
Chapter #39

Bab | 39

Tidak ada suara yang lebih berat daripada kalimat yang diucapkan pelan. Dokter berdiri di depan Zaenal. Wajahnya lelah. Matanya redup, bukan karena kurang tidur, tetapi karena terlalu sering menyampaikan kabar yang tidak pernah ingin ia sampaikan.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin…”

Kalimat itu saja sudah cukup. Zaenal tidak menunggu lanjutan kata-kata dokter. Ia seperti tahu apa yang akan menyusul. Dadanya sesak. Pandangannya berkunang-kunang. Kaki yang sejak tadi menahan tubuhnya tiba-tiba kehilangan daya. Ia mundur setengah langkah. Lalu tubuhnya ambruk.

“Kang!” Laras berteriak.

Ia menangkap tubuh Zaenal sebelum benar-benar jatuh ke lantai. Pelukannya kuat, tapi tubuhnya sendiri gemetar. Dua hari. Dua malam. Ia belum pulang. Hanya mengganti pakaian dengan bekal yang ia bawa. Belum benar-benar tidur. Dan kini, di titik itu, kekuatannya runtuh bersamaan. Dokter melanjutkan dengan suara lirih, hampir seperti doa.

“Ini sudah kehendak Allah…”

Kata-kata itu mengambang di udara. Tidak ada yang menjawabnya. Laras memeluk Zaenal lebih erat. Kepalanya bersandar di bahu pria itu. Tangisnya pecah, tidak lagi tertahan, tidak lagi berusaha kuat.

“Maaf…” isaknya.

“Maaf, Kang…”

Ia sendiri tidak tahu kenapa meminta maaf. Mungkin karena hidup terlalu kejam pada pria itu. Mungkin karena ia masih hidup, sementara Hafiz tidak. Beberapa tetangga Zaenal yang sejak sore menunggu di luar ikut menangis. Ada yang menutup wajah dengan kerudung. Ada yang duduk terdiam sambil menatap lantai. Tidak ada yang berani bicara.

Anak itu, yang selalu menyapa dengan senyum kecil, yang suka melukis keindahan, yang tidak pernah mengeluh, kini benar-benar pergi. Salah satu tetangga tiba-tiba berdiri. Matanya merah, rahangnya mengeras. Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil kunci motor. Ia tidak pulang untuk istirahat. Ia pulang untuk memberi kabar. Gas ditancapkan. Jarak satu jam terasa terlalu singkat untuk membawa berita seberat itu. Dan di kampung, kabar itu jatuh seperti petir di siang bolong.

“Hafiz telah meninggal…”

Kalimat itu berpindah dari mulut ke mulut. Dari teras ke dapur. Dari sawah ke warung kopi. Tangisan pecah di banyak rumah. Ibu-ibu duduk lemas. Bapak-bapak terdiam. Anak-anak bertanya dengan suara kecil, “Si Hafiz meninggal?”

Semua mengangguk. Tidak ada yang menyangka. Di sudut kampung lain, kabar itu sampai ke telinga Fadlan dan teman-temannya. Wajah mereka pucat. Beberapa ibu langsung memukul lengan anaknya sendiri sambil menangis.

“Lihat! Lihat apa yang kalian buat!”

Pak Heru duduk di kursi ruang tamu. Tangannya gemetar. Dadanya naik turun tak teratur. Nama Hafiz terngiang di kepalanya, anak kecil yang dulu sering lewat depan rumahnya. Ia menutup wajahnya. Rasa bersalah itu kini berubah menjadi ketakutan yang nyata.

Sementara itu, mobil Bukhori melaju cepat menuju rumah sakit. Bukhori duduk di kursi belakang. Tangisnya tidak lagi tertahan. Bahunya berguncang. Setiap tikungan jalan mengingatkannya pada Hafiz, tawa kecilnya, cara ia menyebut nama “khori atau Bukh” dengan cadel, gambar-gambar yang ia tunjukkan dengan bangga.

“Aku belum bilang… aku belum sempat bilang makasih…” gumamnya berulang.

Ibunya ikut menangis. Tangannya sesekali mengusap rambut Bukhori. Haji Ahmad menyetir dengan wajah kaku. Matanya basah, tapi air mata itu tertahan di pelupuk. Ia fokus pada jalan. Jika ia menangis sekarang, ia tahu, ia tidak akan mampu mengendalikan mobil.

Tiba di rumah sakit, suasana sudah berubah. Sunyi....Zaenal terbaring di kursi panjang ruang tunggu. Wajahnya pucat. Tidak sadarkan diri. Laras dan satu tetangga perempuan berusaha menyadarkannya, mengusap wajahnya, memanggil namanya pelan.

“Zaenal…”

“Bangun, Nal…”

Tidak ada respon. Di ruangan lain, jasad Hafiz sudah disiapkan. Tubuh kecil itu terbaring tenang. Wajahnya bersih. Lebih tenang daripada saat hidup.

Bukhori masuk perlahan. Begitu melihat keranda itu, kakinya lemas. Ia berlari kecil, lalu berlutut. Tangisnya meledak.

“Hafiz…”

“Bangun, dong…”

“Kamu kan juara. Kamu harus lomba lagi…”

Lihat selengkapnya