Ruang sidang itu terasa dingin, meski siang belum benar-benar mencapai puncaknya. Zaenal duduk di bangku pengunjung, tubuhnya tegak tapi jiwanya terasa kosong. Kemeja lusuh yang ia kenakan rapi, namun wajahnya seperti menyimpan malam panjang yang tak kunjung usai. Beberapa tetangga duduk di samping dan belakangnya. Mereka datang bukan karena kewajiban, tapi karena rasa setia. Karena Hafiz bukan hanya milik Zaenal, ia milik kampung itu.
Di barisan lain, keluarga Bukhori duduk berdekatan. Haji Ahmad menunduk sejak tadi. Ibrahim, kakak Bukhori yang berseragam sipil, duduk tegap. Tatapannya lurus ke depan. Tenang. Tapi siapa pun yang mengenalnya tahu, itu adalah wajah orang yang sedang menahan amarah sedalam-dalamnya. Bukhori sendiri tidak ikut masuk ke ruang sidang utama. Ia menunggu di luar bersama ibunya. Anak itu belum sanggup mendengar nama Hafiz disebut-sebut dalam kalimat hukum yang dingin dan kaku.
Di sisi berlawanan, para orang tua wali murid pelaku pengeroyokan hadir lengkap. Tidak satu pun absen. Wajah-wajah tegang, mata sembab, dan tangan-tangan yang saling menggenggam dalam diam. Di antara mereka, Fadlan duduk dengan kepala tertunduk. Seragam sekolahnya sudah tidak dikenakan. Rambutnya rapi, wajahnya pucat. Tak ada lagi sikap angkuh. Tak ada lagi senyum mengejek. Yang ada hanya ketakutan, dan penyesalan yang datang terlambat. Orang tuanya duduk di kiri-kanannya. Sang ayah menatap lantai. Sang ibu sesekali menyeka air mata. Mereka tampak hancur, tapi kehancuran itu tidak pernah bisa dibandingkan dengan rasa kehilangan Zaenal.
Di sudut lain, Laras duduk tenang. Tangannya terlipat di pangkuan. Matanya sembab, namun ia berusaha terlihat kuat. Tak jauh darinya, Maya duduk diam. Ia datang tanpa memberi tahu Zaenal. Ia tahu, kehadirannya bukan untuk dilihat, tapi untuk menyaksikan. Untuk menanggung rasa bersalahnya sendiri. Entah salah seperti apa yang ia lakukan untuk Zaenal.
Sidang dimulai. Jaksa membacakan kronologi. Kata demi kata terdengar jelas. Terlalu jelas. Tentang pengeroyokan. Tentang luka-luka. Tentang seorang anak kelas dua yang tubuh kecilnya tak mampu melawan lima tubuh yang lebih besar. Zaenal menunduk. Ia sudah mendengar semua itu berkali-kali. Namun mendengarnya kembali tetap saja seperti mengorek luka yang belum sempat mengering. Ketika nama Hafiz disebut, dadanya bergetar. Bukan karena ingin menangis, air matanya seolah sudah habis. Tapi karena ada sesuatu di dadanya yang kosong dan tak bisa diisi apa pun lagi.
Lalu saksi dipanggil. Ibu kantin maju ke depan. Langkahnya pelan. Suaranya bergetar saat bersumpah. Ia menceritakan apa yang ia lihat. Tanpa menambah. Tanpa mengurangi. Tentang keributan di belakang gedung. Tentang Hafiz yang sudah tak berdaya. Wajah kecil yang penuh darah dan mata yang setengah terpejam.
Di tengah kesaksiannya, ia berhenti sejenak. Menangis. Ruang sidang hening. Bahkan hakim pun memberi waktu. Zaenal menutup mata. Ia seperti melihat kembali hari itu. Suara teriakan. Tubuh Hafiz yang lemas. Nama pamannya yang dipanggil berulang kali.
Sidang berlanjut.
Penasihat hukum menjelaskan bahwa para pelaku masih di bawah umur. Bahwa tidak ada niat membunuh. Bahwa ini adalah bentuk kekerasan anak-anak yang berujung fatal. Kalimat-kalimat itu terdengar rapi. Terlalu rapi untuk sesuatu yang begitu kacau. Akhirnya, majelis hakim membacakan putusan. Suara palu terdengar.
Para pelaku dinyatakan bersalah melakukan pengeroyokan yang mengakibatkan kematian. Namun karena usia mereka, hukuman pidana penjara tidak dapat dijatuhkan. Sebagai gantinya, majelis menjatuhkan denda dengan jumlah maksimal sesuai hukum yang berlaku. Setiap kepala didenda besar. Dan Fadlan, sebagai pelaku utama, mendapatkan denda paling besar. Beberapa orang tua pelaku langsung menangis. Ada yang terisak, ada yang terduduk lemas. Fadlan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Namun Zaenal tetap diam. Tidak ada rasa puas. Tidak ada kelegaan. Uang sebanyak apa pun tidak pernah bisa membeli satu nyawa. Tidak pernah bisa mengganti suara Hafiz. Tidak pernah bisa menghidupkan kembali tawa kecil di rumah sempit itu. Hakim menutup sidang. Orang-orang mulai berdiri. Laras menoleh ke arah Zaenal, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun Zaenal sudah bangkit lebih dulu. Ia berjalan keluar ruang sidang tanpa menoleh ke siapa pun.
Di ambang pintu, Maya berdiri. Pandangan mereka sempat bertemu. Zaenal mengangguk singkat. Itu saja. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Di luar gedung pengadilan, matahari bersinar terik. Zaenal berhenti sejenak. Menghirup napas panjang. Hafiz tidak kembali. Dan hidup ini tidak pernah benar-benar adil padanya.
Namun hari itu, satu hal menjadi jelas baginya: Ia tidak datang ke persidangan untuk menang. Ia datang untuk memastikan dunia tahu, bahwa seorang anak kecil pernah hidup, pernah bermimpi, dan mati karena kebencian yang tidak pernah ia ciptakan.
Zaenal melangkah pergi. Dengan langkah pelan. Membawa luka yang akan tinggal seumur hidup di dalam tubuhnya.
***
Setelah persidangan, hari-hari terasa berjalan lambat. Terlalu lambat.
Zaenal pulang ke rumah yang kini terasa asing. Pintu kayu itu masih sama. Dindingnya masih berdiri. Tapi isinya, jiwanya, sudah runtuh. Rumah itu tidak lagi bernapas seperti dulu. Tidak ada suara langkah kecil di pagi hari. Tidak ada pertanyaan sepele yang selalu muncul sebelum tidur. Tidak ada lagi Hafiz.