Batu Nisan Untuk Paman

Topan We
Chapter #41

Bab | 41

Hari itu langit tidak mendung. Tidak juga terlalu cerah. Seperti sedang belajar menahan diri. Zaenal dan Bukhori berjalan berdampingan menuju tempat pemesanan batu nisan. Tidak banyak kata di antara mereka. Keduanya membawa beban yang sama, meski dengan usia dan cara menanggung yang berbeda.

Di tengah perjalanan, Bukhori tiba-tiba berhenti melangkah.

“Mang…,” katanya pelan.

Zaenal menoleh.

“Ada yang belum amang tahu.”

Nada suara bocah itu bergetar, seperti menimbang apakah kata-kata ini pantas diucapkan sekarang. Zaenal mengangguk.

“Bilang aja, dek.”

Bukhori menarik napas dalam-dalam.

“Hafiz… dia punya tabungan.”

Langkah Zaenal terhenti.

“Apa?”

Matanya membulat. Ia menatap Bukhori seperti mendengar sesuatu yang mustahil.

“Uang,” lanjut Bukhori, lirih.

“Dia simpan sendiri. Di celengan.”

Zaenal terdiam. Pikirannya kosong. Hatinya seperti diremas pelan.

“Dari mana?” tanyanya akhirnya.

“Dari mana aja, mang. Dari uang jajan. Dari uang yang amang kasih. Dari siapa pun yang ngasih Hafiz duit. Dia selalu bilang… uangnya mau disimpan.”

Zaenal menelan ludah.

“Mau buat apa?”

Bukhori menggeleng pelan.

“Dia enggak pernah bilang. Tapi tiap saya tanya, Hafiz cuma jawab… ‘buat nanti’.”

Kata nanti itu seperti pisau kecil. Menusuk. Pelan....Tapi dalam.

Zaenal dan Bukhori pun putar arah. Sesampainya di rumah, Zaenal langsung menuju kamar Hafiz. Kamar itu masih sama. Tidak ada yang berubah. Hanya penghuninya yang sudah tiada. Ia berlutut di dekat ranjang kecil itu. Tangannya gemetar saat meraba bagian bawahnya. Ia menggeser kasur. Menyingkirkan debu. Dan di pojok kanan bawah, tersembunyi. Nyaris tak terlihat, celengan plastik. Zaenal membeku. Tangannya berhenti di udara. Dadanya sesak. Ia mengambil celengan itu perlahan, seolah takut suara kecil dari dalamnya akan pecah. Begitu benda itu berada di genggamannya, ingatannya runtuh. Hafiz kecil. Duduk di lantai. Menghitung uang receh dengan wajah serius. Menolak jajan. Menolak main. Tangis Zaenal pecah lagi.

Ia memeluk celengan itu ke dadanya. Menunduk. Bahunya berguncang hebat. Tidak ada lagi yang ia tahan.

“Ya Allah…”suaranya patah.

“Anak sekecil itu… bisa berpikir jauh seperti ini…”

Bukhori berdiri di ambang pintu. Matanya basah. Ia tidak masuk. Ia tahu, ini ruang pamannya untuk menangis. Setelah lama, Zaenal menarik napas. Ia mengusap wajahnya. Dengan suara gemetar, ia membaca,

“Bismillahirrahmanirrahim…”

Ia membuka celengan itu. Uang kertas dan recehan tumpah ke lantai. Tidak banyak. Tapi cukup membuat dadanya sesak lagi. Tujuh ratus ribu rupiah. Jumlah yang bagi sebagian orang kecil sangatlah besar. Dan bagi seorang anak seperti Hafiz, itu adalah niat, kesungguhan. Tabungan itu adalah mimpi yang tak sempat ia gunakan.

Bukhori masuk perlahan.

“Setiap hari,” katanya sambil terisak,

“Hafiz selalu nyisihin, mang. Katanya… kalau dikit-dikit lama-lama jadi banyak.”

Zaenal memejamkan mata. Air matanya jatuh lagi. Bukan karena jumlah uang itu. Melainkan karena ia baru sadar, anak yang ia rawat dengan susah payah, ternyata diam-diam sedang belajar menjadi dewasa. Zaenal memungut uang itu satu per satu. Ia menyusunnya rapi. Lalu menatap Bukhori. Ia meletakkan uang tabungan Hafiz di dalam amplop. Uang itu akan ia pakai untuk membeli batu nisan untuk Hafiz.

Sejak pagi itu, Haji Ahmad memperhatikan dari kejauhan. Bukhori hampir seharian penuh berada di rumah Zaenal. Duduk di teras. Masuk ke kamar Hafiz. Kadang hanya diam berdua. Kadang berbicara pelan, seolah takut suara mereka mengganggu kenangan yang masih bergelayut di udara. Haji Ahmad tidak melarang. Tidak pula menyuruh anaknya pulang. Ia tahu, Zaenal sedang sangat membutuhkan kehadiran seorang anak. Bukan anak sembarang anak, hanya Bukhori yang bisa menggantikannya. Bukhori lah sahabatnya. Dan Bukhori…adalah satu-satunya yang bisa mengisi kekosongan itu, meski hanya sementara.

“Biarkan,” gumam Haji Ahmad dalam hati. “Orang dewasa pun butuh ditemani saat kehilangan ia benar-benar kehilangan.”

Setelah celengan itu dibuka, setelah air mata kembali tumpah dan reda, Zaenal mengajak Bukhori pergi.

“Amang mau ke satu tempat,” katanya pelan.

Lihat selengkapnya