
Udara Senja di Kampung Cempaka selalu membawa aroma basah tanah liat setelah hujan sore, berpadu dengan kepulan asap dari dapur-dapur kayu yang menyala di balik dinding bilik bambu. Langit merona jingga tua, menyisakan bias keemasan di atas permukaan kubangan kerbau yang berkilau di pinggir jalan setapak. Di teras sebuah rumah panggung berukuran sedang, Raden Bagaswara berdiri tegak dengan tatapan menerawang jauh menembus deretan pohon kelapa yang melambai ditiup angin lembap. Langkah kakinya membawa beban berat dari perjalanan panjang lintas kabupaten, meninggalkan hiruk-pikuk kota kabupaten yang mulai terjangkit modernitas demi mencari ketenangan sekaligus jejak masa lalu keluarganya yang terpendam di tanah pedalaman ini. Waktu menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit, ditandai oleh suara lesung penumbuk padi dari kejauhan yang berirama konstan, seolah menjadi detak jantung bagi seluruh kehidupan yang terisolasi di balik bukit barisan tersebut. Bagas mengenakan kemeja katun putih yang kini telah berdebu di bagian bahunya, serta celana bahan hitam yang sedikit basah pada ujungnya karena ia harus menyeberangi titian bambu di atas sungai kecil yang meluap. Di tangan kanannya, sebuah koper kulit tua berwarna cokelat legam tergantung lemas, menyimpan beberapa helai pakaian ganti dan sebuah buku harian bersampul kulit kerbau milik almarhum ayahnya. Suara serangga malam mulai bersahutan, menandakan transisi hari yang bergerak lambat, seirama dengan derit jendela kayu rumah tua tempat ia akan menumpang selama beberapa pekan ke depan. Suasana hening itu sesekali dipecahkan oleh suara ayam jantan yang berlarian mencari induknya, menciptakan atmosfer pedesaan yang begitu autentik, jauh dari deru mesin kendaraan bermotor yang biasa meracuni telinganya setiap pagi di kota. Bagas menarik napas dalam-dalam, membiarkan oksigen murni yang kaya akan aroma damar dan humus meresap ke dalam paru-parunya, mencoba meredakan debar jantung yang belum juga tenang sejak ia memutuskan untuk turun dari bus terakhir di simpang jalan raya utama tadi siang.
"Kau pasti Bagas, cucu dari Ki Demang yang dulu pernah disegani di sini, bukan?" Suara serak dan berwibawa itu membuyarkan lamunan Bagas, datang dari arah samping rumah tempat seorang lelaki paruh baya berjalan mendekat sambil membawa cangkir tanah liat berisi kopi hitam pekat.
Bagas menoleh cepat, lalu mengangguk sopan sambil merapikan kerah bajunya yang sedikit kusut. "Betul, Pakde. Saya Bagas. Terima kasih sudah mengizinkan saya tinggal di sini untuk sementara waktu."
Lelaki tua yang dipanggil Pakde oleh warga sekitar itu tersenyum ramah, garis-garis di wajahnya terlihat jelas diterpa cahaya lampu pelita minyak tanah yang baru saja dinyalakannya di tiang teras. "Mari masuk, jangan sungkan. Rumah ini sudah lama kosong dari kehangatan keluarga muda, kedatanganmu tentu membawa warna tersendiri bagi orang-orang tua sepertiku di dusun ini."
Bagas melangkah masuk melewati ambang pintu kayu jati yang berukir sederhana namun kokoh, merasakan lantai papan rumah yang berderit pelan di setiap pijakannya. Ruangan tengah itu tampak temaram, hanya diterangi oleh nyala api pelita yang menari-nari di atas meja kecil berpelapis taplak rajutan tangan berwarna krem. Di dinding, terpajang beberapa foto hitam putih berbingkai kayu tua yang menampilkan wajah-wajah kaku namun penuh kharisma dari leluhur keluarga Bagas. Bau harum kemenyan tipis bercampur aroma kayu manis menggantung di udara, memberikan kesan sakral yang langsung mencengkeram nurani Bagas, mengingatkannya bahwa ia tidak sedang sekadar berlibur, melainkan sedang menapak tilas sejarah darah yang mengalir di dalam tubuhnya.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama kedatangan Bagas ke Kampung Cempaka bukanlah sekadar mencari ketenangan batin atau menghindar dari kejenuhan rutinitas birokrasi di kota besar, melainkan sebuah misi rahasia yang diwariskan melalui sebuah surat wasiat tua. Ayahnya, sebelum menutup mata untuk selamanya, berpesan agar Bagas menemukan sebuah naskah kuno beraksara Sunda buhun yang disembunyikan di suatu tempat rahasia di sekitar lereng bukit tempat leluhur mereka dulu bermukim. Naskah tersebut diyakini menyimpan catatan penting mengenai asal-usul tanah adat serta batas-batas wilayah pusaka yang kini terancam diserobot oleh korporasi perkebunan swasta dari ibukota.
"Kita tidak boleh membiarkan tanah leluhur ini jatuh ke tangan orang-orang serakah yang hanya melihatnya sebagai deretan angka di atas kertas kontrak," ucap Bagas pelan kepada dirinya sendiri saat ia membentangkan peta usang di atas meja kayu pada malam pertama kedatangannya.
Pakde Hasan, yang sejak tadi mengamati gerak-gerik pemuda itu dari balik pintu dapur, melangkah mendekat sambil membawa sepiring ubi rebus hangat dan meletakkannya di dekat peta. "Kau berniat mencari warisan itu sendirian, Bagas? Jalan menuju situs keramat di kaki bukit sana tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak cerita mistis dan aturan adat yang harus kau patuhi jika tidak ingin bernasib malang seperti para pencari harta karun beberapa tahun lalu."
Bagas mendongak, menatap mata lelaki tua itu dengan tatapan tajam penuh tekad yang tidak bisa ditawar lagi. "Saya harus mencobanya, Pakde. Ayah mempercayakan tugas ini kepada saya, dan saya tidak akan pulang sebelum naskah itu berada di tangan saya."
"Bukannya Pakde melarang," sahut Pakde Hasan sambil duduk di kursi rotan reyot di hadapan Bagas, "tetapi zaman telah berubah. Orang-orang di dusun ini sekarang lebih takut pada amplop berisi uang daripada kutukan leluhur. Kau harus berhati-hati kepada siapa kau berbicara mengenai niatmu ini."
Bagas mengangguk paham, meskipun di dalam hatinya api ambisi itu justru semakin berkobar besar setelah mendengar peringatan tersebut. Ia tahu bahwa perjuangannya tidak akan mudah, karena selain harus menghadapi medan alam yang terjal dan terisolasi, ia juga harus berhadapan dengan intrik-intrik lokal yang melibatkan oknum kepala desa yang telah lama menjual pengaruhnya kepada pihak investor luar. Tujuan hidupnya kini telah mengerucut menjadi satu titik fokus yang mutlak: menemukan bukti autentik kepemilikan tanah adat sebelum tenggat waktu tiga puluh hari yang diberikan oleh pihak perusahaan berakhir pada akhir bulan depan.
Setiap malam, Bagas menghabiskan waktunya berjam-jam mempelajari catatan harian sang ayah, mencocokkan nama-nama tempat kuno yang tercantum di dalamnya dengan kondisi geografis desa saat ini. Ia mencatat setiap petunjuk kecil, mulai dari batu berbentuk kepala harimau di hulu sungai hingga pohon beringin kembar yang menjadi batas alam wilayah ulayat. Targetnya jelas, yakni memetakan jalur pendakian rahasia menuju situs makam tua di puncak bukit, tempat di mana naskah pusaka tersebut diyakini disembunyikan oleh buyut mereka di dalam sebuah guci tanah liat bersegel khusus.
❖ ❖ ❖
Hari-hari berikutnya menuntut Bagas untuk membaur dengan denyut kehidupan warga desa yang sederhana namun penuh dengan aturan tak tertulis yang ketat. Pagi itu, matahari baru saja memunculkan sinarnya di balik punggung bukit ketika Bagas memutuskan untuk berjalan-jalan ke pasar tradisional desa yang terletak di bawah rindangnya pohon beringin tua dekat balai dusun. Suasana pasar tampak riuh oleh suara tawar-menawar harga sayur mayur segar, ikan sungai hasil tangkapan pagi, serta aroma rempah-rempah yang tajam menusuk hidung. Bagas berjalan menyusuri lorong-lorong sempit berlantai tanah yang agak becek, mengenakan kemeja flanel tipis dan topi jerami pinjaman dari Pakde Hasan untuk melindungi kepalanya dari sengatan matahari tropis yang mulai terik.
Transisi dari keheningan rumah panggung menuju keramaian pasar ini memberikan Bagas kesempatan emas untuk mengamati dinamika sosial masyarakat Kampung Cempaka secara langsung tanpa harus terlihat mencolok. Ia melihat bagaimana para perempuan paruh baya menggendong bakul besar berisi hasil bumi di punggung mereka dengan ikatan kain selendang batik yang melingkar di bahu, sementara anak-anak kecil berlari-larian tanpa alas kaki sambil tertawa riang mengejar ayam jantan milik pedagang.
"Mau cari apa, anak muda? Kelihatannya baru pertama kali menginjakkan kaki di pasar ini," tanya seorang ibu penjual kopi keliling yang membawa termos alumunium tua di punggungnya.
"Hanya jalan-jalan melihat suasana, Bi. Mencari tahu harga hasil bumi di sini," jawab Bagas ramah sambil tersenyum kecil.
Ibu itu tertawa renyah, memperlihatkan gigi yang sebagian telah berwarna kemerahan karena kebiasaan mengunyah sirih pinang. "Suasana di sini memang tenang, tapi jangan salah, di balik ketenangan itu banyak mata yang mengawasi gerak-gerik pendatang baru sepertimu, apalagi kau membawa ransel dan sering terlihat memegang buku catatan."
Peringatan itu menyadarkan Bagas bahwa keberadaannya di desa ini telah menjadi pusat perhatian tersendiri bagi penduduk setempat yang jarang kedatangan orang luar dengan penampilan akademis sepertinya. Ia harus lebih berhati-hati dalam menyusun langkah, tidak boleh terlalu mencolok dalam mencari informasi mengenai dokumen tanah adat yang menjadi incaran utamanya. Transisi peran dari seorang pemuda kota yang naif menjadi seorang pengamat diam-diam harus ia lakoni dengan sempurna jika ingin misinya berhasil tanpa hambatan yang berarti dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Langkah Bagas terhenti di depan sebuah lapak kecil yang menjual berbagai kerajinan tangan dari bambu dan anyaman rotan tradisional. Di sana, seorang kakek tua sedang merajut bilah-bilah bambu tipis menjadi sebuah nyiru dengan ketelatenan tingkat tinggi yang luar biasa. Bagas berjongkok sejenak untuk mengagumi kehalusan karya tangan tersebut, merasakan tekstur permukaan bambu yang licin dan dingin di ujung jarinya. Suasana di sekitar lapak itu mendadak terasa sedikit berbeda, seolah waktu melambat ketika aroma wangi bunga melati putih menyergap indra penciumannya dari arah samping, membawa serta debar aneh yang belum pernah ia rasakan selama berada di kota besar.
❖ ❖ ❖
Rintangan pertama yang sesungguhnya mulai menghadang ketika Bagas mencoba menyusuri jalan setapak menuju kawasan hutan larangan di lereng bukit bagian barat keesokan harinya. Langkah kakinya terhenti secara mendadak di sebuah jembatan gantung tua yang melintang di atas jurang berbatu tajam, tempat aliran sungai deras mengalir bergemuruh di bawah sana. Papan-papan kayu jembatan tersebut tampak sudah lapuk dimakan usia, beberapa di antaranya bahkan berlubang besar, memperlihatkan jurang menganga yang siap menelan siapa saja yang kurang berhati-hati. Angin lembah bertiup kencang, menggoyang-goyangkan tali kawat baja jembatan hingga berderit nyaring, menciptakan ketegangan psikologis yang cukup menguji mental pemuda kota sepertinya.