
Deru mesin mobil sedan hitam itu bergetar halus sebelum akhirnya mati total di depan sebuah rumah panggung tradisional bergaya khas Mandailing berukuran besar. Halaman rumah tersebut tampak asri, dikelilingi oleh jajaran pohon kopi yang daunnya berkilat basah sisa embun pagi. Langit di atas tanah Tapanuli Selatan masih menyembunyikan matahari di balik punggung bukit, menyisakan bias cahaya kebiruan yang tenang. Udara dingin pegunungan menyergap seketika begitu pintu mobil dibuka, membawa serta aroma tanah basah dan dedaunan pinus yang menyegarkan.
Arya merapikan kerah kemeja flanelnya dengan jemari yang sedikit basah oleh keringat dingin. Jantungnya berdegup jauh lebih kencang dibanding saat ia harus mempresentasikan proyek miliaran rupiah di hadapan dewan direksi perusahaan. Di sampingnya, Nurhayati berdiri sambil tersenyum kecil, melihat kecemasan yang jelas terpancar di wajah lelaki itu. Mengenakan selendang ulos yang tersampir rapi di bahu kanannya, Nurhayati tampak begitu tenang, memberikan ketenteraman batin bagi Arya yang tengah diselimuti rasa gugup luar biasa.
"Jangan tegang begitu, Arya. Ayahku tidak akan menerkammu hanya karena kau datang mengenakan kemeja kasual," goda Nurhayati pelan, mencoba mencairkan atmosfer tegang yang melingkupi halaman rumah orang tuanya.
"Ini bukan soal pakaian, Nur," jawab Arya setengah berbisik sambil meraba saku jaketnya untuk memastikan kotak kecil berisi buah tangan dari kota tidak bergeser posisi. "Ini tentang bagaimana aku harus berdiri di hadapan orang tua perempuan yang paling berharga dalam hidupku, meminta restu tanpa membawa latar belakang keluarga bangsawan atau status sosial yang megah."
"Ayahku bukan bangsawan, Arya. Beliau hanya seorang pensiunan guru yang mencintai tanah kelahirannya dan menjunjung tinggi kejujuran di atas segalanya," balas Nurhayati lembut, menyentuh lengan Arya untuk meredakan gemetar di tubuh lelaki itu. "Yang beliau cari dari seorang lelaki bukan seberapa tebal dompetnya, melainkan seberapa tulus niatnya untuk menjaga anak perempuannya."
Suara langkah kaki berat yang berderit di atas lantai kayu rumah panggung itu mendadak menghentikan percakapan mereka. Dari balik pintu ukir kayu jati yang terbuka lebar, muncullah seorang lelaki paruh baya berambut putih dengan garis-garis ketegasan yang jelas terpahat di wajahnya. Beliau mengenakan sarung tenun tradisional yang dililitkan rapi di pinggang dan baju koko putih lengan panjang yang bersih. Tatapan matanya tajam, menyapu sosok Arya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan penuh penilaian yang cermat dan berwibawa.
"Jadi, inilah pemuda dari ibu kota yang selama beberapa bulan terakhir sering disebut-sebut dalam sambungan teleponmu, Nur?" suara berat nan berwibawa itu menggelegar pelan di teras rumah, menciptakan keheningan seketika di antara mereka berdua.
Arya menelan ludah, menegakkan punggungnya, dan melangkah maju mendekati undakan tangga kayu dengan penuh kesadaran. "Selamat pagi, Pak. Saya Arya. Suatu kehormatan yang luar biasa bisa berdiri di sini dan berkenalan langsung dengan Bapak."
Pak Sutan—ayah Nurhayati—tidak langsung menjawab. Ia menatap Arya lekat-lekat selama beberapa detik yang terasa begitu panjang, seolah sedang membaca setiap rahasia dan niat tersembunyi di balik mata lelaki kota itu. Angin pagi berhembus pelan, menerbangkan ujung selendang Nurhayati, sementara ketegangan di teras rumah panggung itu mencapai puncaknya pada detik-detik awal pertemuan lintas dunia tersebut.
❖ ❖ ❖
"Mari masuk ke dalam. Tidak sopan berbicara serius di bawah terik matahari pagi yang baru merangkak naik," ucap Pak Sutan akhirnya, memecah keheningan dengan nada suara yang tidak lagi sedingin tadi, meski ketegasannya tetap terasa kental.
Arya mengangguk cepat, melepaskan sepatunya di teras sebelum mengikuti langkah Pak Sutan masuk ke dalam ruang tamu yang luas dan klasik. Dinding rumah tersebut dipenuhi oleh bingkai-bingkai foto lama keluarga, piagam penghargaan guru teladan, serta beberapa ukiran kayu tradisional khas Batak Mandailing. Aroma khas teh tubruk hangat dan kue tradisional lemang langsung menyambut indra penciuman mereka begitu duduk di atas kursi rotan berpelapis kain bludru merah tua.
Nurhayati memilih duduk di sofa seberang, membiarkan sang ayah dan Arya saling berhadapan. Suasana ruangan mendadak terasa begitu sunyi, hanya diselingi oleh suara detak jam dinding antik berbandul kuningan yang berayun konstan di sudut ruangan. Pak Sutan duduk dengan postur tegap, melipat kedua tangannya di atas meja kayu mahoni sebelum ia menatap tajam ke arah Arya yang duduk siaga.
"Nurhayati sudah banyak bercerita tentang pekerjaanmu di agensi kreatif ibukota, juga tentang bagaimana kalian tidak sengaja dipertemukan di tepian Danau Toba beberapa bulan lalu," buka Pak Sutan langsung pada intinya, tanpa basa-basi yang bertele-tele. "Tapi bagi seorang ayah, cerita dari anak perempuannya saja tidak cukup untuk menjadi landasan kepercayaan."
Arya merespons dengan postur tubuh yang tetap sopan, menatap mata Pak Sutan tanpa keraguan sedikit pun. "Saya sangat mengerti kekhawatiran Bapak. Wajar jika seorang ayah bersikap selektif terhadap pria yang datang menemui putrinya. Karena itulah tujuan kedatangan saya hari ini bukan sekadar bersilaturahmi, melainkan menyampaikan niat tulus saya secara langsung di hadapan Bapak."
"Niat tulus seperti apa yang kau maksud, anak muda?" tanya Pak Sutan menaikkan sebelah alisnya, nada suaranya menyelidik namun tetap terkontrol. "Di ibukota sana, kata 'tulus' sering kali menjadi komoditas murah yang diobral demi mendapatkan apa yang diinginkan. Apa yang membuatmu berbeda dari lelaki-lelaki lain yang datang dan pergi dalam hidup anakku?"
"Saya tidak datang membawa janji-janji muluk tentang kekayaan atau kemewahan duniawi, Pak," jawab Arya mantap, suaranya terdengar jujur dari lubuk hati yang paling dalam. "Tujuan saya datang ke sini adalah untuk meminta restu Bapak agar saya bisa berjalan berdampingan dengan Nurhayati secara sah. Saya ingin menjadi sandaran hidupnya, bukan karena kesepian di kota besar, melainkan karena saya tahu bahwa hidup saya tidak akan utuh tanpa kehadirannya."
Nurhayati yang mendengar kalimat itu langsung menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyuman haru yang merekah di bibirnya. Sementara itu, Pak Sutan terdiam sejenak. Sorot mata lelaki tua itu melunak sepersekian milimeter, meski garis ketegasan di wajahnya belum sepenuhnya mencair.
"Kata-katamu tertata rapi, Arya. Wajar, kau terbiasa menjual ide dan citra di dunia periklanan," komentar Pak Sutan dengan nada setengah menyindir. "Tapi restu seorang ayah tidak bisa dibeli dengan kalimat manis yang dihafal di luar kepala. Restu itu harus dibuktikan melalui tindakan nyata, tanggung jawab, dan kesiapan mental untuk menghadapi badai kehidupan bersama anakku."
"Saya siap membuktikannya, Pak. Berikan saya kesempatan untuk menunjukkan bahwa ucapan saya selaras dengan tindakan saya," ucap Arya dengan keyakinan penuh, menatap lurus mata orang tua di hadapannya tanpa rasa gentar sedikit pun.
❖ ❖ ❖
Percakapan yang mendalam itu perlahan bertransisi ke arah obrolan yang lebih santai namun tetap sarat akan makna ketika Ibu Nurhayati—Ibu Rosmawita—muncul dari arah dapur membawa nampan berisi cangkir teh panas dan piring jajanan pasar tradisional. Kehadiran sang ibu seolah menjadi jembatan transisi yang melunakkan ketegangan di ruang tamu tersebut. Ibu Rosmawita meletakkan nampan dengan senyuman ramah yang langsung mengingatkan Arya kepada kehangatan senyum Nurhayati.
"Silakan diminum tehnya, Nak Arya. Jangan sungkan-sungkan, rumah ini memang sederhana tapi selalu terbuka untuk tamu yang datang dengan niat baik," ucap Ibu Rosmawita lembut sambil menuangkan teh ke dalam cangkir keramik tua.
"Terima kasih banyak, Bu. Maafkan saya jika kedatangan saya ini tiba-tiba dan merepotkan keluarga di sini," balas Arya sopan, menerima cangkir teh yang disodorkan dengan kedua tangan sebagai bentuk penghormatan.