
Matahari sore di Kampung Cempaka perlahan merosot di balik punggung bukit barisan, menyapukan bias jingga kemerahan yang memantul di atas permukaan air petak-petak sawah yang baru saja selesai dibajak. Angin lembap berhembus pelan, membawa aroma khas jerami kering dan asap dapur yang mengepul dari cerobong-cerobong rumah panggung beratap ijuk. Di beranda sebuah rumah kayu berukuran luas yang terletak di ujung dusun, Raden Bagaswara duduk termenung di atas kursi goyang rotan, mendengarkan sayup-sayup suara desas-desus para ibu yang sedang berkerumun di dekat sumur umum. Waktu menunjukkan pukul lima lewat seperempat sore, saat aktivitas warga mulai melambat dan obrolan-obrolan hangat berganti menjadi bisikan rahasia yang menusuk telinga. Bagas mengenakan kemeja katun abu-abu yang lengannya dilipat hingga siku, sementara di atas meja kecil di sampingnya terletak secangkir teh poci yang mulai mendingin tanpa tersentuh. Suasana tenang kampung mendadak terasa pekat oleh desas-desus yang kian santer beredar dari mulut ke mulut mengenai perubahan nasib Nurhayati. Sejak peristiwa malam menegangkan di pendopo keluarga besar beberapa waktu lalu, nama Nurhayati tidak lagi sekadar dibicarakan sebagai pejuang dokumen adat, melainkan sebagai pusat perhatian dari sebuah rencana perjodohan paksa yang dirancang oleh para tetua kerabatnya. Bagas mengatupkan rahangnya rapat-rapat, meresapi setiap serpihan informasi yang terbawa angin malam, menyadari bahwa ketenangan semu di desa ini sedang bersiap meledak menjadi badai baru yang mengancam kebahagiaan mereka.
"Kau dengar apa yang sedang ramai dibicarakan orang-orang di balai dusun tadi siang, Bagas?" suara Pakde Hasan mendadak memecah kesunyian, muncul dari ambang pintu sambil membawa selembar kain lap kumal.
Bagas menoleh pelan, menatap wajah lelaki paruh baya itu dengan sorot mata yang menyiratkan ketegangan tersembunyi. "Tentang perjodohan itu, Pakde? Kabarnya sudah sampai ke telinga semua warga."
Pakde Hasan menghela napas panjang, lalu duduk di kursi seberang Bagas sambil menggelengkan kepalanya prihatin. "Keluarga besar Nurhayati rupanya tidak mau menyerah begitu saja. Di balik kekalahan Ki Somad, para paman dan bibinya diam-diam sudah mengikat janji dengan keluarga saudagar kaya dari dusun seberang."
"Saudagar dari dusun seberang?" ulang Bagas dengan nada suara tertahan. "Siapa mereka? Apa hak mereka menentukan masa depan Nurhayati tanpa persetujuannya?"
"Namanya Raden Mahendra, anak tunggal juragan perkebunan kopi di kaki bukit sebelah," jawab Pakde Hasan tenang namun serius. "Bagi keluarga besar Nurhayati, perjodohan itu adalah cara paling aman untuk mengembalikan pengaruh politik mereka yang sempat goyah akibat dokumen tanah yang kita temukan."
Bagas mengepalkan kedua tangannya di atas paha, merasakan aliran darahnya berdesir panas mendengar nama lelaki lain disandingkan dengan perempuan yang telah menyerahkan seluruh hatinya di bawah pohon pinus. Desas-desus itu bukan lagi sekadar angin lalu, melainkan sebuah maklumat perang terbuka dari kaum feodal desa yang ingin menjatuhkan harga diri Nurhayati dan memisahkan mereka berdua untuk selamanya.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Bagas malam itu berubah drastis dari sekadar merapikan strategi hukum menjadi sebuah tekad baja untuk melindungi Nurhayati dari cengkeraman ambisi keluarga yang menjadikannya alat tukar kekuasaan. Di sisi lain dusun, di dalam kamar tidurnya yang temaram, Nurhayati sendiri sedang menghadapi badai tekanan psikologis yang jauh lebih menghancurkan dari para paman yang datang silih berganti membawa titah perjodohan. Bibi Rengganis duduk di tepi ranjang kayu, menatap tajam ke arah gadis itu dengan ekspresi wajah yang tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk tawar-menawar.
"Keputusan keluarga sudah bulat, Nur," ucap Bibi Rengganis dengan nada suara dingin dan menghakimi. "Raden Mahendra adalah pemuda terpandang dari keluarga terhormat. Pernikahan ini akan memulihkan kehormatan trah kita yang sempat tercemar oleh perbuatanmu bergaul dengan pemuda luar itu."
Nurhayati berdiri tegak di dekat jendela, membelakangi bibinya dengan tatapan lurus menerobos kegelapan malam di luar sana. "Aku bukan barang dagangan yang bisa kalian tukar dengan pengaruh dan kekayaan, Bibi! Aku tidak akan pernah sudi menikah dengan lelaki yang bahkan belum pernah kulihat batang hidungnya!"
"Jaga mulutmu, anak kurang ajar!" bentak Bibi Rengganis sambil berdiri dengan kemarahan yang meluap-luap. "Kau pikir jasa kakekmu memimpin adat memberi hak bagimu untuk merusak masa depan keluarga? Pilihan ini sudah disetujui oleh seluruh pamanmu, dan suka atau tidak, kau harus bersiap menyambut kedatangan keluarga Raden Mahendra akhir pekan ini!"
Tujuan hidup Nurhayati kini mengerucut menjadi satu titik perlawanan mutlak: menolak tunduk pada tradisi perjodohan kolot yang merendahkan harkat martabat kaum perempuan. Ia tahu bahwa konspirasi busuk para paman ini didorong oleh ketakutan mereka bahwa dokumen tanah adat yang dibongkar bersama Bagas akan mengancam posisi ekonomi keluarga besar mereka di hadapan para investor. Di balik keanggunan dan ketenangannya, darah pejuang mengalir deras di tubuh Nurhayati, menolak untuk menyerahkan kebahagiaan hidupnya kepada pria pilihan orang tua yang hanya mengejar keuntungan materi semata.
Setiap detik yang berlalu terasa begitu mendesak bagi Nurhayati untuk segera mengirimkan pesan rahasia kepada Bagas, menyusun siasat sebelum keluarga besarnya benar-benar mengunci pergerakannya dan memaksanya menjalani ritual pertunangan paksa tersebut. Ia memegang erat sebilah belati kecil pusaka peninggalan ayahnya yang terselip di bawah bantal, sebuah simbol bahwa ia lebih memilih mati daripada harus menyerahkan diri kepada pernikahan tanpa cinta yang dirancang di atas meja perundingan licik para paman.
❖ ❖ ❖
Transisi dari suasana tertekan di dalam rumah keluarga besar menuju pertemuan rahasia mereka di balik rerimbunan rumpun bambu pinggir sungai membawa gelombang ketegangan yang kian memuncak. Langkah kaki Bagas terasa begitu berat menembus pekatnya malam, membawa serta rasa cemas yang teramat sangat setelah mendengar desas-desus yang kian liar beredar di kedai kopi dusun. Di tempat yang telah disepakati, Nurhayati sudah berdiri menanti dengan siluet tubuh yang bergetar halus menahan amarah dan keletihan emosional yang luar biasa. Begitu melihat bayangan Bagas mendekat dari balik pepohonan, gadis itu langsung berlari kecil dan menghambur ke dalam pelukan sang pemuda, menumpahkan segala sesak yang tertahan di dadanya selama berjam-jam.
"Aku tahu kau pasti datang, Bagas," bisik Nurhayati parau, suaranya bergetar hebat di balik dada bidang sang pemuda.
Bagas mendekap erat tubuh gadis itu, mencium puncak kepalanya sambil berupaya menenangkan debar jantungnya sendiri yang ikut bergemuruh kencang. "Aku mendengar semuanya, Nur. Desas-desus itu sudah menyebar ke seluruh penjuru dusun, dan aku tidak akan pernah membiarkan perjodohan konyol itu terjadi."