Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Konfrontasi pertama

Matahari sore di sudut kota kecil itu perlahan-lahan menyusut, meninggalkan bias jingga kemerahan yang memantul di kaca-kaca jendela rumah kayu berangka tua. Udara lembap sisa hujan gerimis siang tadi masih menggantung di emperan toko, bercampur dengan bau tanah basah dan aroma kopi sangrai yang mengepul dari warung-warung kecil di sepanjang jalan utama. Di sebuah beranda rumah berpagar cat putih yang mulai mengelupas, Nurhayati berdiri gelisah sambil melipat kedua tangannya di dada. Kain selendang rajut berwarna biru tua yang melingkar di bahunya sesekali ia tarik untuk menahan angin senja yang mulai menusuk pori-pori kulit.

Di seberang jalan, bayangan lampu jalan mulai menyala satu per satu, memancarkan cahaya kekuningan yang temaram ke atas jalan aspal yang basah dan berlubang. Tempat itu biasanya tenang, sebuah sudut pelarian yang nyaman setelah hari-hari melelahkan di tempat kerjanya yang baru. Namun, sore ini, ketenangan itu terasa begitu rapuh, seolah digantung oleh benang tipis yang siap putus kapan saja. Nurhayati menarik napas panjang, mencoba mengisi rongga dadanya dengan oksigen sebanyak mungkin demi meredakan debaran jantung yang bergemuruh tidak karuan di dalam sana.

"Kenapa dia belum juga datang?" gumam Nurhayati pelan pada dirinya sendiri, matanya tak lepas menatap ujung jalan setapak tempat sepeda motor kekasihnya biasa muncul setiap jam kepulangan kerja.

Sudah tiga hari terakhir, suasana batin Nurhayati tidak pernah benar-benar tenteram. Sejak gosip-gosip miring mulai berhembus di antara rekan-rekan sekantor dan tetangga sekitar mengenai kedekatannya dengan atasannya di tempat kerja, hidupnya mendadak terasa seperti panggung sandiwara yang dipenuhi tatapan curiga. Bisik-bisik tetangga yang terdengar setengah berbisik di pasar, pandangan menilai saat ia turun dari mobil kantor, hingga pesan-pesan gelap yang masuk ke ponselnya berhasil merusak benteng pertahanan mental yang telah ia bangun dengan susah payah selama berbulan-bulan di kota ini.

Dan malam ini, puncak dari segala kecemasan itu akan segera tiba. Kekasihnya, Arga—pria yang telah mendampinginya melewati masa-masa sulit kepindahan mereka ke kota ini—meminta waktu untuk bertemu langsung di beranda rumah ini guna meminta kejelasan atas semua berita burung yang telanjur mencoreng telinganya. Nurhayati tahu betul watak Arga; pria itu menjunjung tinggi kejujuran di atas segalanya, namun terkadang terlalu cepat menelan mentah-mentah informasi yang beredar di luar tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.

"Aku harus tenang. Tidak ada yang perlu ditakutkan kalau aku memang tidak melakukan kesalahan apa pun," bisik Nurhayati mencoba meyakinkan diri sendiri, meskipun jemarinya yang dingin terus meremas ujung selendangnya dengan erat. Di kejauhan, suara deru mesin sepeda motor yang sudah sangat ia kenal akhirnya terdengar memecah kesunyian senja, membuat napasnya seketika tertahan di tenggorokan.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Nurhayati malam ini sangat jelas dan tidak bisa ditawar lagi: ia harus memadamkan api kecurigaan yang telanjur membakar pikiran Arga sebelum gosip murahan itu menghancurkan hubungan yang telah mereka jalin dengan penuh pengorbanan. Selama ini, cita-cita mereka sederhana—membangun masa depan bersama di tanah rantau ini dengan kerja keras dan integritas yang bersih. Namun, fitnah keji yang dilemparkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab di kantornya telah mengancam fondasi kepercayaan tersebut.

Langkah kaki Arga menaiki anak tangga beranda terdengar berat dan kaku. Pria itu melepas helmnya dengan gerakan kasar, lalu meletakkannya di atas meja kayu kecil tanpa mengucapkan sepatah kata pun salam pembuka seperti biasanya. Wajah Arga tampak kuyu, dahinya berkerut dalam, dan sorot matanya yang tajam menatap langsung ke arah Nurhayati dengan dingin—sebuah tatapan asing yang belum pernah ditunjukkan pria itu selama bertahun-tahun kebersamaan mereka.

"Arga, kamu sudah datang. Mau kubuatkan segelas teh hangat? Udara di luar sedang dingin," ucap Nurhayati berusaha menyunggingkan senyuman paling ramah yang ia miliki, meskipun suaranya terdengar sedikit bergetar.

Arga tidak langsung menjawab. Ia berdiri tegak dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jaket kulitnya, menghela napas panjang yang terdengar berat di tengah kesunyian beranda. "Simpan saja tehnya, Nur. Aku ke sini bukan untuk santai-santai atau basa-basi menikmati malam. Ada hal serius yang harus kita bicarakan sekarang juga, sebelum semuanya bertambah rumit."

Nurhayati menghentikan langkahnya yang hendak berbalik menuju dapur. Ia menelan ludah kelat, lalu membalikkan badan menghadapi Arga sepenuhnya. "Aku tahu apa yang ingin kamu bicarakan, Arga. Pasti soal gosip konyol yang beredar di kantor kan? Kamu... kamu tidak percaya kan dengan semua kebohongan itu?"

"Bagaimana aku bisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, Nur, kalau separuh orang di kantor tempatmu bekerja sekarang membicarakan kedekatanmu yang tidak wajar dengan direktur baru itu?" suara Arga meninggi satu oktaf, memecah keheningan malam yang baru saja turun. "Mereka bilang kamu sering diantar pulang larut malam, diberi fasilitas khusus, dan dispesialkan dalam proyek-proyek besar. Apa itu semua juga bohong?"

Tujuan Nurhayati malam ini diuji secara telak. Ia sadar, pertahanan terbaik bukanlah dengan marah atau menyerang balik, melainkan dengan membuka lembaran fakta sejujur-jujurnya di hadapan Arga. Ia harus bisa meyakinkan pria itu bahwa dunia korporat tempatnya mencari nafkah tidak sebersih bayangan orang di luar sana, dan bahwa intrik politik kantor sering kali sengaja diciptakan untuk menjatuhkan orang-orang yang sedang naik daun seperti dirinya.

"Arga, dengar dulu penjelasanku," kata Nurhayati dengan nada suara yang ditekan agar tetap tenang dan terkendali, meskipun dadanya terasa sesak seolah dihantam palu. "Fasilitas khusus itu kudapatkan murni karena aku memenangkan tender proyek nasional kemarin, bukan karena kedekatan personal. Dan soal mobil kantor yang mengantarku malam itu, itu karena lembur sampai jam dua belas malam dan tidak ada kendaraan umum yang beroperasi lagi. Direktur hanya menjalankan prosedur keselamatan perusahaan untuk stafnya!"

"Alasan! Semua itu cuma alasan yang dibuat-buat untuk menutupi kenyataan!" potong Arga tajam, matanya menyipit menatap Nurhayati dengan penuh kekecewaan. "Orang-orang tidak akan bergosip kalau tidak ada asap di baliknya, Nur. Kenapa harus kamu? Kenapa bukan pegawai lain yang difasilitasi seperti itu?"

❖ ❖ ❖

Transisi dari suasana malam yang tenang menuju arena konfrontasi yang memanas terjadi begitu cepat, secepat kilatan petir di musim pancaroba. Udara di beranda rumah itu mendadak terasa hampa dan menyesakkan. Bayangan lampu jalan yang temaram memperlihatkan ketegangan otot di rahang Arga, sementara Nurhayati berdiri terpaku dengan air mata yang mulai mendesak di pelupuk matanya akibat rasa tidak adil yang menghujam ulu hatinya.

Lihat selengkapnya