
Langit sore di atas dusun kecil itu menggantung rendah dengan warna kelabu yang pekat, menumpahkan sisa-sisa hujan gerimis yang membuat jalanan tanah merah berubah menjadi kubangan berlumpur yang licin. Angin lembap berembus malas, menggoyang-goyangkan daun-daun pisang di pekarangan rumah yang tampak basah dan suram. Di bawah naungan emperan warung kopi milik Mang Udin yang sudah reot, suasana terasa begitu sepi dan lengang, jauh berbeda dari biasanya ketika gelak tawa para pemuda desa riuh mengisi waktu menjelang senja. Tempat duduk kayu panjang yang biasanya menjadi pusat kerumunan sore itu kini kosong melompong, menyisakan genangan air kecil di atas permukaannya yang lapuk. Sudah hampir dua minggu penuh Nurhayati tidak lagi menampakkan batang hidungnya di tempat biasa mereka menghabiskan waktu bersama selepas jam kerja ladang. Kursi bambu di sudut warung yang saban hari didudukinya kini hanya ditemani oleh debu dan kesunyian yang kian mencekam, seolah kehadiran gadis itu telah terhapus begitu saja oleh angin musim.
"Kau melihat Yati hari ini, Din?" tanya Rian, seorang pemuda berkaus abu-abu pudar yang sejak tadi duduk termenung sambil menyeruput kopi hitamnya yang mulai mendingin.
Mang Udin, sang pemilik warung yang sedang sibuk menyeka meja kayu dengan kain kusam, menggeleng pelan tanpa menoleh. "Tidak, Rian. Sudah kuberitahu sejak beberapa hari lalu, rumah panggung keluarganya itu belakangan ini selalu tertutup rapat. Lampu pelita di berandanya pun jarang dinyalakan terang seperti dulu."
"Aneh sekali," gumam Rian pelan, matanya menerawang jauh menembus tirai gerimis ke arah jalan setapak yang menuju ke bukit. "Biasanya jam segini dia pasti lewat membawa keranjang kecil berisi daun lontar atau sekadar mampir membeli gula kelapa. Ke mana sebenarnya dia pergi?"
Bagi Rian dan kawan-kawan sepermainannya, ketidakhadiran Nurhayati bukan sekadar absennya seorang teman, melainkan hilangnya poros keseimbangan dari kelompok kecil mereka. Selama ini, Nurhayati adalah tempat mereka bertukar cerita, meminjam buku-buku bacaan tua, atau sekadar mencari ketenangan di tengah tekanan hidup dusun yang monoton. Hilangnya gadis itu secara tiba-tiba tanpa sepatah kata pamit meninggalkan rongga hampa yang besar di sudut-sudut warung kopi, menciptakan rasa penasaran sekaligus kecemasan kolektif yang diam-diam merayap di dada setiap orang yang mengenal baik sepak terjang gadis berjiwa keras itu.
❖ ❖ ❖
Di balik ketidakhadirannya yang misterius di tempat-tempat umum, Nurhayati sebenarnya tengah memikul sebuah tujuan besar yang menuntut seluruh sisa tenaga dan konsentrasinya di dalam bilik sempit rumah panggung keluarganya. Sejak insiden kedatangan utusan perusahaan pengembang beberapa waktu lalu, tekad Nurhayati tidak lagi bisa ditawar: ia harus menyelamatkan seluruh arsip sejarah keluarga dan peta tanah ulayat kakek moyangnya sebelum pihak luar menyegel paksa kawasan tersebut. Tujuannya bukan sekadar mempertahankan bangunan kayu tempat ia dibesarkan, melainkan membuktikan kepada para tetua desa yang bersikap sinis bahwa generasi muda tidak selemah dan sebodoh yang mereka sangka. Setiap malam, ditemani temaram cahaya lampu minyak kelapa yang berjelaga, ia menyortir ratusan lembar surat tanah kuno, kwitansi pajak tua, hingga catatan silsilah keluarga yang ditulis tangan di atas kertas perkamen rapuh.
"Yati, apa kau yakin surat-surat ini cukup kuat untuk melawan akta hukum yang dibawa oleh orang kota itu?" tanya ayahnya dengan suara serak, duduk di tepi dipan bambu sambil memperhatikan putrinya yang sibuk membungkus dokumen dengan kain plastik kedap air.
Nurhayati mendongak, menatap lekat-lekat mata lelah ayahnya dengan senyuman tipis yang menyiratkan keteguhan baja. "Surat-surat ini mungkin sudah usang dimakan usia, Ayah, tapi keabsahannya tercatat di register arsip lama kabupaten. Selama kita bisa membuktikan bahwa tanah ini tidak pernah diperjualbelikan secara sah, mereka tidak punya hak untuk menggusur kita."
"Tapi para sesepuh di balai desa sepertinya sudah bersekongkol dengan mereka, Yati. Kita sendirian di sini," keluh ayahnya lagi, bayangan keputusasaan tampak jelas membayang di balik kerutan wajah tua itu.
"Kita tidak sendirian, Ayah. Rian dan beberapa pemuda dusun sebelah diam-diam bersedia membantu kita menyebarkan salinan dokumen ini ke lembaga bantuan hukum," jawab Nurhayati mantap, kembali melanjutkan pekerjaannya merapikan tumpukan kertas. "Tujuanku jelas: aku tidak akan membiarkan sejarah keluarga kita diinjak-injak begitu saja demi ambisi segelintir orang serakah. Hari-hari di mana aku hanya duduk manis merajut daun lontar sudah berakhir."
❖ ❖ ❖
Transisi dari hari-hari biasa yang tenang di warung kopi menuju hari-hari penuh ketegangan di balik pintu tertutup itu mengubah drastis ritme hidup Nurhayati dan orang-orang di sekitarnya. Jika dulu ia bisa bebas melangkah ke mana saja tanpa rasa curiga, kini setiap kali ia terpaksa keluar rumah di malam hari untuk menemui kurir dokumen, ia harus menyusup lewat jalan-jalan tikus di antara rumpun bambu belakang dusun demi menghindari intaian para penjaga suruhan Mangku Bima. Perubahan pola hidup yang drastis ini dirasakan betul oleh Rian yang kerap mencoba mencari keberadaan Nurhayati di tempat-tempat biasa. Suasana dusun yang tadinya hangat dan terbuka kini berubah menjadi dingin dan penuh kecurigaan; setiap warga seolah saling mengawasi, takut terseret dalam pusaran konflik agraria yang melibatkan keluarga Kartaatmadja.
"Kau tahu, Rian, akhir-akhir ini aku sering melihat orang-orang asing berpakaian rapi hilir mudik di dekat balai desa," ujar Mang Udin suatu sore ketika Rian kembali mampir ke warung dengan wajah kecewa karena tidak menemukan Nurhayati. "Mereka sepertinya sedang merencanakan sesuatu yang besar terkait tanah di sepanjang aliran waduk."