
Udara sore di Kampung Cempaka membawa aroma basah tanah liat yang berpadu dengan kepulan asap tipis dari dapur-dapur rumah panggung berbilik bambu. Sinar matahari senja menyapukan warna jingga keemasan di atas permukaan air petak-petak sawah yang membentang luas di lereng bukit barisan, menciptakan pemandangan yang tenang namun menyimpan ketegangan tersendiri. Di jalan setapak berbatu kerikil yang membelah dusun, Raden Bagaswara melangkah tegap dengan mengenakan kemeja katun putih bersih serta celana bahan hitam, membawa sebuah bakul anyaman bambu berisi buah-buahan segar sebagai bentuk niat baik. Waktu menunjukkan pukul empat lewat empat puluh lima menit sore, saat para petani mulai pulang menggiring kerbau mereka kembali ke kandang dan aktivitas warga berangsur-angsur melambat dalam ketenangan semu. Di ujung jalan setapak itu, berdirilah sebuah rumah panggung berukuran besar milik keluarga besar Nurhayati, dengan ukiran kayu jati kuno menghiasi setiap pilar dan daun pintu utamanya. Bagas menarik napas dalam-dalam, menenangkan debar jantungnya yang bergemuruh hebat bukan karena rasa lelah berjalan jauh, melainkan karena beban moral yang harus dipikulnya sore ini. Ia tahu persis bahwa kedatangannya ke rumah utama keluarga besar sang kekasih di tengah badai desas-desus perjodohan paksa merupakan sebuah pertaruhan besar yang bisa berujung pada pengusiran atau penghinaan terbuka. Namun, tekadnya sudah bulat; ia tidak ingin terus-menerus bergerak di balik bayang-bayang persembunyian atau mengandalkan bantuan orang lain tanpa berani menghadapi langsung akar permasalahan yang membentang di hadapannya.
"Mau kemana kau, anak muda? Jalan itu bukan tempat yang ramah untuk orang yang membawa angin perubahan sembrono," sapa seorang tetua dusun yang sedang duduk melinting tembakau di teras sebuah warung kecil di dekat gerbang halaman rumah tersebut.
Bagas menoleh sekilas, lalu mengangguk sopan kepada orang tua itu tanpa menghentikan langkah kakinya. "Saya hanya ingin bersilaturahmi, Pak. Menyampaikan maksud baik secara langsung kepada keluarga besar di rumah itu."
Orang tua itu mendengus pelan sambil mengepulkan asap rokoknya ke udara bebas. "Silaturahmi macam apa yang kau cari di sana, sementara para paman dan bibi gadis itu sedang menutup rapat pintu bagi siapapun yang menentang titah keluarga? Hati-hatilah, lidah mereka tidak bertulang tapi tajamnya bisa meremukkan tulang belulang."
Peringatan itu tidak menyurutkan niat Bagas; ia justru mempercepat langkahnya hingga tiba tepat di depan tangga kayu rumah panggung yang kokoh tersebut. Di atas beranda yang luas, dua orang pengawal berbadan tegap langsung berdiri menghalangi jalan, menyilangkan tangan di dada dengan tatapan permusuhan yang kentara. Bagas berhenti sejenak, mengangkat bakul buah di tangan kanannya setinggi dada, lalu menatap lurus ke arah kedua penjaga tersebut dengan sorot mata yang tenang namun berwibawa.
"Tolong sampaikan kepada Ki Sanusi atau nyonya rumah bahwa Raden Bagaswara datang untuk bertamu secara baik-baik," ucap Bagas tegas, memastikan suaranya terdengar jelas hingga ke dalam ruangan utama.
Salah satu penjaga mendengus sinis, melirik remeh ke arah bakul yang dibawa Bagas. "Tuan rumah tidak punya waktu untuk menerima tamu tidak diundang, apalagi orang luar yang sudah membuat kekacauan di dusun ini. Cepat pergi sebelum kami mengusirmu secara paksa!"
❖ ❖ ❖
Tujuan utama kedatangan Bagas sore itu bukanlah untuk memicu keributan baru atau menantang kekuasaan keluarga besar Nurhayati dengan kekerasan, melainkan membuktikan itikad baiknya sebagai seorang lelaki terhormat yang bertanggung jawab atas perasaannya. Di balik dinding bilik kayu bagian belakang rumah tersebut, Nurhayati sendiri sedang dikurung di dalam kamar oleh bibinya, mendengarkan setiap patah kata percakapan di beranda melalui celah jendela yang terkunci rapat. Hati gadis itu berdegup kencang diliputi rasa cemas bercampur haru yang teramat sangat; ia tidak menyangka Bagas memiliki keberanian sebesar itu untuk datang langsung ke sarang harimau demi menemuinya.
"Kau tidak akan pernah diizinkan masuk, Bagas!" teriak Nurhayati lirih dari balik jendela kamarnya, air matanya menetes perlahan membasahi pipinya. "Paman-paman sudah merencanakan cara untuk menolakmu secara halus namun mematikan!"
Di beranda depan, sebelum situasi berubah menjadi perkelahian fisik yang tidak diinginkan, pintu utama rumah tiba-tiba berderit terbuka perlahan, menampilkan sosok Bibi Rengganis yang berjalan anggun dengan senyuman dingin tersungging di bibirnya. Wanita paruh baya itu mengenakan kebaya beludru ungu tua dengan perhiasan emas melingkar di lehernya, memancarkan aura kebangsawanan feodal yang angkuh dan sukar disentuh. Para pengawal langsung membungkuk hormat memberi jalan, sementara Bagas berdiri semakin teak, menatap mata wanita yang menjadi salah satu arsitek utama rencana perjodohan paksa tersebut.
"Wah, rupanya tamu yang tidak diharapkan benar-benar datang mengantar diri ke halaman rumah kami," ucap Bibi Rengganis dengan nada suara yang sengaja dibuat ramah namun sarat akan racun sindiran. "Ada keperluan apa kau datang kemari membawa bakul buah murahan ini, anak muda?"
Bagas menunduk hormat seketika, menjaga sopan santun adat Sunda meskipun ia tahu wanita di hadapannya tidak menyukai kehadirannya. "Selamat sore, Nyonya. Saya datang untuk menghadap keluarga besar, memohon izin bersilaturahmi sekaligus meluruskan kesalahpahaman yang terjadi belakangan ini mengenai Nurhayati."
Bibi Rengganis melipat kedua tangannya di dada, menatap Bagas dari ujung kaki hingga kepala dengan pandangan merendahkan. "Meluruskan kesalahpahaman? Bagus sekali pilihan katamu. Tapi ketahuilah, anak muda, di keluarga kami tidak ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan oleh orang luar. Status sosial dan masa depan Nurhayati sudah ditentukan oleh garis keturunan serta keputusan bulat seluruh paman dan kerabatnya."
Tujuan hidup Bagas di hadapan wanita itu kini diuji secara langsung oleh dinding penolakan sosial yang sangat tebal; ia harus mampu menembus benteng keangkuhan feodal tersebut tanpa menggunakan emosi amarah yang hanya akan merugikan posisinya di mata warga dusun.
❖ ❖ ❖
Transisi dari suasana tegang di beranda depan menuju percakapan empat mata yang diselubungi senyuman palsu memperlihatkan betapa liciknya cara keluarga besar Nurhayati dalam menolak kehadiran sang pemuda kota. Bibi Rengganis tidak membentak atau mengusir Bagas dengan kasar seperti para pengawalnya tadi, melainkan memilih jalur diplomasi halus yang justru terasa jauh lebih menyakitkan dan mematikan bagi harga diri seorang lelaki. Wanita itu mempersilakan Bagas duduk di kursi kayu rotan di tepi beranda, sementara para pengawal tetap berdiri mengawasi dengan siaga di dekat pintu masuk.
"Duduklah, nak Bagas. Tidak enak rasanya berbicara urusan keluarga sambil berdiri di teras terbuka seperti pengemis jalanan," ujar Bibi Rengganis dengan senyuman manis yang tidak sampai ke matanya.