Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #28

Pertemuan singkat

Matahari pagi belum sepenuhnya meninggikan sinarnya di atas permadani air Danau Toba yang membiru tenang, ketika riuh rendah suara pedagang pasar tradisional mulai berderap memecah keheningan dermaga kecil di tepian perbukitan. Aroma rempah basah, ikan tawar segar yang baru diangkat dari jala nelayan, serta wangi khas daun pisang tua berpadu di udara, menciptakan atmosfer pedesaan yang hidup dan bersahaja. Di antara lorong-lorong sempit beratap terpal biru yang membentang di sepanjang pasar, langkah kaki Maya terhenti sejenak di dekat sebuah lapak kecil yang menjual kain ulos tradisional. Tangannya meraba permukaan kain yang kasar namun sarat makna seni, sementara matanya menerawang menatap lalu-lalang warga lokal yang sibuk tawar-menawar barang kebutuhan harian. Udara pagi pegunungan yang menusuk kulit perlahan dihangatkan oleh kerumunan orang yang saling berdesakan, membawa serta memori masa lalu yang sempat terkubur rapat di balik kesibukan kota besar.

"Berapa harga selendang ini, Inang?" tanya Maya ramah kepada seorang wanita paruh baya penjaga lapak yang mengenakan kebaya sederhana.

"Tiga ratus ribu, Neng. Tenunan asli buatan tangan dari desa seberang, dijamin awet sampai bertahun-tahun," jawab sang penjual tersenyum lebar, memperlihatkan kerutan di sudut matanya yang menyiratkan keramahan khas masyarakat batak.

Maya mengangguk pelan, merogoh tas selempangnya untuk mengambil dompet kecil, menikmati momen kedamaian yang mendadak terasa begitu kontras dengan hiruk-pikuk kehidupannya beberapa waktu lalu. Tempat ini, pasar tradisional yang berdampingan langsung dengan hamparan air danau yang luas, dipilihnya bukan tanpa alasan. Setelah sekian lama berkutat dengan ketidakpastian batin dan keretakan emosional bersama Bara, pasar pagi ini adalah tempat di mana ia bisa bernapas lega, membaur dengan kesederhanaan hidup masyarakat lokal yang tidak mengenal rumitnya ambisi korporat. Namun, di balik senyum tipis yang tersungging di bibirnya, ada sebuah rasa penasaran tersembunyi yang sejak subuh tadi terus mengusik ketenangan pikirannya—sebuah bayangan tentang kemungkinan-kemungkinan kecil yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Pasar tradisional itu tampak begitu luas, terbentang dari batas perbukitan hingga mendekati bibir dermaga tempat perahu-perahu kayu bersandar. Setiap sudutnya dipenuhi oleh warna-warni sayuran segar, buah-buahan lokal seperti mangga dan markisa, serta tumpukan keranjang rotan yang dijajakan di atas tanah berpasir. Maya melangkah perlahan menyusuri lorong los ikan, membiarkan pikirannya mengambang bebas bersama desis angin danau yang sesekali bertiup kencang, membawa serta aroma air tawar yang khas dan menyegarkan paru-parunya.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Maya datang seorang diri ke pasar tradisional di tepi danau pagi ini sebenarnya sangat sederhana namun krusial bagi ketenangan jiwanya: mencari bahan-bahan makanan segar untuk memasak sarapan pagi bersama Bara, sekaligus menjauhkan diri sejenak dari bayang-bayang perdebatan panjang yang sempat melanda hubungan mereka. Setelah malam sebelumnya mereka menghabiskan waktu dengan air mata dan rekonsiliasi yang rapuh di kamar penginapan, Maya menyadari bahwa dirinya butuh ruang terbuka untuk berpikir jernih tanpa tekanan dari siapa pun. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia bisa berdiri mandiri, menikmati keindahan Samosir dengan sudut pandangnya sendiri, dan meredakan sisa-sisa badai emosi yang masih bergemuruh di dadanya.

"Mbak Maya...?" sebuah suara parau mendadak terdengar memanggil namanya dari arah deretan lapak bumbu dapur di sebelah kiri.

Langkah kaki Maya terhenti seketika. Jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar. Suara itu terasa begitu akrab di telinganya, sebuah suara yang sangat ia kenal di luar kepala meskipun sudah berbulan-bulan tidak ia dengar di tengah bisingnya kota Jakarta. Ia menoleh perlahan, membalikkan badannya menghadap ke arah sumber suara dengan napas yang mendadak tertahan di tenggorokan.

Di antara kerumunan pembeli yang berdesakan, berdiri sesosok pria berjaket denim pudar dengan ransel tersampir di satu bahu—Bara. Pria itu tampak sama terkejutnya, mematung di tempat dengan kantong plastik berisi jeruk nipis di tangan kanannya, menatap Maya seolah ia sedang melihat fatamorgana di tengah keramaian pasar.

"Bara...? Kamu... sedang apa di sini?" suara Maya tercekat, matanya membelalak lebar tidak percaya. "Bukankah kamu bilang mau membereskan urusan kantor lewat sambungan telepon di penginapan tadi?"

Bara melangkah mendekat perlahan, membelah kerumunan orang yang lalu-lalang, hingga jarak di antara mereka kini hanya tinggal beberapa jengkal saja. Wajah pria itu tampak lelah, namun ada binar kelegaan yang luar biasa terpancar dari sorot matanya. "Aku tidak bisa diam saja di kamar, Maya. Hatiku tidak tenang memikirkan pembicaraan kita semalam, jadi aku memutuskan menyusulmu ke pasar ini setelah diberitahu pemilik penginapan arah jalanmu tadi."

Tujuan Maya untuk mencari ketenangan seorang diri mendadak buyar oleh kehadiran tak terduga tersebut. Namun, di balik rasa terkejutnya, ada tarikan magnet emosional yang begitu kuat yang langsung menyatukan kembali ruang di antara mereka berdua di tengah riuhnya pasar tradisional yang bersahaja itu.

❖ ❖ ❖

Transisi suasana di sekitar mereka mendadak berubah drastis dari kebisingan pasar yang riuh menjadi keheningan batin yang hanya bisa dirasakan oleh dua orang yang saling merindukan di tengah keterasingan. Suara tawar-menawar pedagang, deru mesin perahu di dermaga, dan langkah kaki orang-orang yang berlalulalang seolah melebur menjadi latar suara yang jauh di ambang pendengaran. Maya terpaku menatap wajah Bara yang kini berdiri tepat di hadapannya, menyadari bahwa takdir tampaknya tidak pernah membiarkan mereka berjalan terpisah terlalu jauh, bahkan di tempat terpencil sekalipun.

"Kamu mengikutiku?" tanya Maya dengan nada suara yang setengah berbisik, berusaha menyembunyikan getaran halus yang mulai merayap di dadanya.

"Bukan mengikuti untuk memata-matai, Maya," jawab Bara lembut, meletakkan kantong belanjaannya ke tangan kiri agar tangan kanannya bebas. Ia menatap Maya dengan tatapan penuh kejujuran yang belum pernah dilihat wanita itu sebelumnya. "Aku mencarimu karena aku sadar, sejauh apa pun kita berlari atau mencari ketenangan di tempat lain, kedamaian yang sesungguhnya tidak akan pernah kutemukan kalau aku tidak menyelesaikannya langsung denganmu."

Lihat selengkapnya