Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #32

Bayangan wajah Nurhayati

Matahari baru saja merayap naik dari balik punggung bukit barisan, menyapukan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah jendela kamar panggung berbilik bambu di pinggiran Kampung Cempaka. Di atas tempat tidur kayu berukuran sedang, Raden Bagaswara terjaga dari tidurnya yang tidak nyenyak, dengan kelopak mata yang terasa berat akibat sisa-sisa kelelahan fisik dan mental dari malam sebelumnya. Bayangan wajah Nurhayati terus berkelebat di mata Bagas, tidak luput sedetik pun dari pandangannya, seolah gadis itu sedang duduk tepat di hadapannya dalam keheningan pagi yang dingin. Bagas mengusap wajahnya perlahan, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan debar jantung yang tidak kunjung tenang sejak insiden dramatis di pinggir jurang kemarin. Setiap kali ia memejamkan mata, yang terlintas di benaknya bukanlah catatan arsip pertanahan atau strategi hukum untuk melawan para paman, melainkan senyuman getir dan sorot mata penuh keteguhan milik Nurhayati saat mereka berjuang bersama melawan cengkeraman feodalisme keluarga besar. Ia bangkit dari pembaringan, mengenakan kemeja katun abu-abu yang tersampir di kursi rotan, lalu melangkah pelan menuju jendela kamar yang menghadap langsung ke arah jalan setapak menuju rumah utama keluarga sang kekasih. Suasana desa masih terasa sangat sunyi, hanya terdengar suara kokok ayam jantan bersahutan dari kejauhan dan desau angin pagi yang menggoyang daun-daun pisang di pekarangan. Namun, di balik ketenangan fajar itu, pikiran Bagas sepenuhnya dipenuhi oleh bayangan wajah perempuan yang telah mencuri seluruh perhatian dan hatinya, membuatnya menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa mundur dari pertempuran ini selama keselamatan Nurhayati masih menjadi taruhannya.

"Kau melamun pagi-pagi begini, Bagas? Teh poci hangat ini bisa dingin jika kau terus menatap kosong ke luar jendela," suara Pakde Hasan mendadak memecah kesunyian ruangan, muncul dari balik pintu sambil membawa nampan berisi dua cangkir tanah liat.

Bagas menoleh pelan, tersenyum tipis menyambut kedatangan lelaki paruh baya yang telah menjadi penasihat sekaligus pelindungnya selama berada di dusun terpencil itu. "Bayangan Nurhayati tidak mau pergi dari kepala saya, Pakde. Rasanya baru kemarin malam kami hampir kehilangan segalanya di jurang itu."

Pakde Hasan meletakkan nampan di atas meja kecil, lalu duduk bersila di atas lantai papan sambil menghela napas panjang penuh kehangatan kebapakan. "Wajar jika kau merasa begitu, Nak. Apa yang kalian lalui bukanlah perkara sepele. Cinta yang diuji di tengah badai permusuhan keluarga besar memang meninggalkan bekas yang mendalam di jiwa."

"Saya hanya mencemaskan kondisinya sekarang, Pakde," lanjut Bagas dengan nada suara tertahan, kembali mengarahkan pandangannya ke arah jalan setapak yang tertutup kabut tipis. "Setelah kejadian kereta kuda yang hampir celaka kemarin, saya yakin keluarga besar pasti semakin memperketat penjagaan dan mengurungnya rapat-rapat."

Pakde Hasan mengangguk prihatin, menuangkan teh panas ke dalam cangkir tanah liat. "Keluarga Sanusi sedang menanggung malu yang luar biasa besar di hadapan warga dusun. Kegagalan rencana perjodohan dan insiden jurang itu membuat mereka kehilangan muka. Kau harus lebih berhati-hati melangkah mulai hari ini."

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Bagas hari ini adalah menyusun siasat baru yang lebih terarah untuk menembus benteng pengamanan rumah utama keluarga besar Nurhayati, memastikan kondisi sang gadis baik-baik saja di balik kurungan para paman yang murka. Di sisi lain dusun, di dalam kamar tidurnya yang terkunci rapat dari luar, Nurhayati sendiri sedang mengalami hal yang sama; bayangan wajah Bagas terus berkelebat di matanya, tidak luput dari pandangannya meski ia memejamkan mata erat-erat di atas tikar pandan. Gadis itu memegang erat sebilah belati kecil pusaka peninggalan ayahnya yang ia simpan di bawah bantal, menemukan kekuatan batin yang luar biasa besar dari kenangan senyuman Bagas saat mereka berdua berpegangan tangan di tepi jurang maut.

"Aku tahu kau sedang memikirkanku di sana, Bagas," bisik Nurhayati lirih pada angin pagi yang berhembus melalui celah jendela kayunya yang berjeruji besi. "Aku tidak akan pernah menyerah pada kehendak mereka."

Tujuan hidup Nurhayati kini sepenuhnya diserahkan untuk memperjuangkan kebebasan cintanya dan membongkar kebusokan para paman yang selama ini memanfaatkan status sosial dan ekonomi keluarga demi kepentingan pribadi. Di balik dinding bilik kayu yang kaku, ia mulai merancang cara untuk menyelipkan pesan rahasia lewat anak tetangga yang biasa mengantar air bersih, berharap kabar tentang keselamatannya bisa sampai ke tangan Bagas sebelum fajar berganti siang.

Pintu kamar mendadak diketuk keras dari luar, disusul oleh suara serak Bibi Rengganis yang membawakan sarapan pagi dengan nampan kayu. "Makanlah makanan ini, Nur! Jangan buat dirimu jatuh sakit hanya karena meratapi pemuda kota tidak tahu diuntung itu!"

Nurhayati bangkit berdiri dari sudut kamarnya, menatap tajam ke arah pintu tanpa sedikit pun rasa gentar. "Sampai kapan pun, kalian tidak akan pernah bisa menghapus bayangan dan rasa cinta di dalam hatiku untuknya, Bibi!"

❖ ❖ ❖

Transisi dari keheningan pagi menuju hiruk-pikuk aktivitas warga di balai dusun membawa gelombang ketegangan baru yang dirasakan oleh Bagas saat ia berjalan keluar rumah didampingi oleh Pakde Hasan untuk menemui Ki Demang sepuh. Langkah kaki Bagas terasa begitu mantap, didorong oleh bayangan wajah Nurhayati yang terus menari-nari di ruang matanya, memacu semangatnya untuk segera menyelesaikan urusan dokumen pertanahan adat sebelum pihak kerabat melancarkan serangan balasan berikutnya. Di sepanjang jalan setapak, beberapa warga dusun yang melihat kedatangan Bagas menyapa dengan anggukan hormat dan senyuman tulus, menunjukkan bahwa dukungan moral masyarakat kini sepenuhnya berpihak kepada pemuda kota tersebut.

"Pagi, Den Bagas," sapa seorang petani paruh baya yang sedang memikul cangkul di bahunya. "Tetaplah berhati-hati, Ki Sanusi terlihat mondar-mandir di dekat balai dusun tadi pagi dengan wajah murka."

Lihat selengkapnya