Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #36

Rasa tidak percaya sang lelaki

Langkah kaki Arya terhenti tepat di tikungan jalan setapak desa yang dikelilingi rimbunnya pohon bambu. Suara bising benturan besi, deru mesin generator diesel, dan riuh rendah suara manusia yang bersahut-sahutan merusak keheningan sore di pedalaman Tapanuli Selatan. Jantungnya mendadak berdegup kencang, menghantarkan gelombang rasa tidak percaya yang menjalar seketika ke seluruh ujung jemarinya. Dari balik celah dedaunan pagar halaman rumah panggung Nurhayati, pemandangan yang tersaji di depan matanya terasa begitu surealis dan sama sekali diluar nalar sehat.

Tenda-tenda pesta berukuran besar dengan kombinasi warna kain merah dan putih berdiri kokoh menutupi seluruh pelataran halaman rumah yang biasanya tenang. Ratusan kursi plastik tersusun rapi berjajar di atas rumput, sementara para pekerja tampak sibuk merangkai dekorasi bunga melati imitasi di sepanjang pilar kayu teras depan. Aroma wangi masakan tradisional khas adat Batak mulai mengepul pekat dari dapur darurat yang didirikan di samping kandang ternak. Arya berdiri terpaku di tempatnya, memegang erat tali ransel di bahunya dengan tatapan kosong, diliputi rasa kebingungan yang teramat sangat atas apa yang sedang terjadi di depan matanya.

"Pesta apa ini?" gumam Arya pelan pada dirinya sendiri, suaranya hampir tenggelam di antara hiruk-pikuk para pekerja yang hilir mudik membawa perlengkapan pelaminan.

Bagaimana mungkin sebuah pesta perayaan digelar di tengah kemelut sengketa warisan galeri seni dan ancaman keputusan adat yang belum menemukan titik terang? Baru kemarin malam Nurhayati mengirimkan kabar melalui pesan singkat bahwa dewan tetua adat masih memperdebatkan keabsahan dokumen kepemilikan galeri. Namun hari ini, halaman rumah tempat istrinya tinggal justru disulap menjadi tempat hajatan megah yang seolah merayakan sebuah kemenangan besar—atau justru sebuah perpisahan yang dipaksakan. Rasa tidak percaya itu bergemuruh hebat di dadanya, menciptakan ketegangan psikologis yang jauh lebih mencekam daripada badai manapun yang pernah ia lewati di Danau Toba.

❖ ❖ ❖

Tujuan Arya mempercepat langkahnya melewati kerumunan pekerja tenda bukan lagi sekadar mencari jawaban, melainkan menuntut penjelasan langsung dari Nurhayati atas pemandangan ganjil yang merobek akal sehatnya. Selama perjalanan panjang dari Danau Toba menembus jalanan berbukit-bukit kemarin, ia membayangkan akan disambut oleh pelukan hangat seorang istri yang lelah berjuang melawan tekanan keluarga. Ia tidak pernah menyiapkan mentalnya untuk menghadapi dekorasi pesta pernikahan adat atau perayaan megah yang sama sekali tidak pernah mereka diskusikan bersama sebagai pasangan suami istri.

Arya menerobos masuk melalui gerbang samping halaman rumah, mengabaikan tatapan curiga dari beberapa orang kampung yang asing baginya. Tujuannya kini terfokus mutlak pada pintu utama rumah panggung kayu tersebut. Di tengah riuhnya suara palu yang menghantam pasak tenda, pikiran Arya berputar liar menerka-nerka kemungkinan terburuk. Apakah Nurhayati dipaksa menyerah pada perjodohan adat? Apakah pesta ini adalah perayaan pertunangan sepihak yang diatur oleh sang paman demi mengalihkan kepemilikan galeri seni kepada pihak lain?

"Nur!" panggil Arya di dalam hatinya, mengepalkan tangan kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Ia tidak akan membiarkan tradisi kolot atau intrik keluarga merenggut istrinya begitu saja. Setiap langkah kakinya menaiki tangga kayu teras rumah diiringi oleh tekad baja yang membara. Tenda pesta di halaman bawah tadi kini tampak seperti monster raksasa yang menertawakan ketidaktahuannya, dan Arya bertekad untuk membongkar misteri di balik kemeriahan palsu tersebut, apapun taruhannya di hadapan para tetua adat yang mungkin sedang berkumpul di dalam rumah.

❖ ❖ ❖

Transisi dari suasana bising di halaman bawah menuju keheningan mencekam di dalam ruang tamu rumah panggung menciptakan kontras emosional yang sangat tajam bagi Arya. Begitu ia mendorong daun pintu utama yang tidak terkunci, aroma dupa dan wangi melati segar langsung menyergap indra penciumannya. Ruangan utama yang biasanya dipenuhi tumpukan buku sketsa dan kanvas tua kini tampak lengang, bersih, dan dihiasi oleh kain-kain tradisi ulos yang membentang di dinding sudut ruangan.

Transisi pemandangan itu membuat langkah Arya melambat secara drastis. Tidak ada kerumunan paman yang marah, tidak ada perdebatan sengit dewan tetua adat seperti bayangannya di sepanjang jalan. Yang ada hanyalah sepi yang janggal, seolah seluruh penghuni rumah sengaja mengosongkan ruangan demi menyambut sesuatu yang disembunyikan dari pandangannya. Di tengah ruang tamu yang luas itu, hanya terdengar suara gemerisik kain dari arah kamar belakang, menandakan ada seseorang di sana yang baru saja mendengar suara kedatangannya.

Transisi kesunyian ini justru melahirkan ketegangan yang lebih pekat di kepala Arya. Ia merasa dirinya sedang berjalan di atas panggung sandiwara yang telah disutradarai orang lain, di mana setiap sudut ruangan menyimpan rahasia besar yang siap meledak kapan saja. Napasnya memburu perlahan, matanya awas mengamati setiap pergerakan bayangan di balik tirai kamar, bersiap menghadapi kenyataan paling pahit yang mungkin akan segera terungkap di balik pintu kamar tersebut.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya