Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #41

Pengasingan diri: Sang lelaki

Cahaya lampu meja yang berpendar kuning redup gagal menembus pekatnya suasana di dalam kamar tidur utama rumah panggung Tapanuli Selatan itu. Udara malam berembus dingin melalui celah-celah papan kayu, membawa aroma tanah basah dan sisa dupa dari ruang tengah tempat kerabat dan tetangga baru saja membubarkan diri. Di atas ranjang berukuran sedang, Arya meringkuk dalam diam. Selimut tebal wol menutupi sebagian besar tubuhnya yang terasa kaku, sementara tatapannya terpaku kosong pada dinding kayu yang dipenuhi bayangan remang-remang.

Sudah lebih dari dua puluh empat jam lelaki itu mengurung diri di dalam ruangan pengap tersebut, menolak segala bentuk kontak dengan dunia luar. Nampan berisi nasi hangat dan segelas air putih yang diantar oleh Nurhayati beberapa jam lalu masih utuh tersaji di atas lantai tanpa pernah disentuh barang sedikit pun. Pintu kamar terkunci rapat dari dalam, menjadi benteng pertahanan terakhir bagi seorang lelaki yang batinnya telah remuk redam akibat tekanan bertubi-tubi dari tradisi, bentrokan fisik dengan preman sewaan sang paman, serta keputusasaan yang melumpuhkan akal sehatnya. Pengenalan latar ruang yang sunyi dan terisolasi itu menjadi saksi bisu atas runtuhnya pertahanan mental Arya secara total.

"Arya, kumohon... buka pintunya," suara ketukan lembut dan isak tertahan Nurhayati kembali terdengar dari balik daun pintu kayu. "Makanlah sedikit, kau bisa jatuh sakit jika terus begini..."

Namun, tidak ada respons sedikit pun dari dalam. Arya hanya menutup rapat kelopak matanya, membiarkan keheningan menelan setiap seruan pilu dari istrinya. Tujuannya mengurung diri di kamar bukan lagi bentuk aksi protes atau drama emosional, melainkan sebuah bentuk penarikan diri yang mutlak—sebuah pengasingan diri sukarela karena ia merasa dirinya telah gagal total sebagai seorang suami pelindung. Di hadapan kekuatan adat yang beringas dan ancaman fisik yang hampir merenggut nyawanya sore tadi, Arya merasa seluruh usahanya selama ini sia-sia belaka, menyisakan rasa bersalah yang teramat pekat hingga membuatnya kehilangan selera untuk sekadar bertahan hidup dan menikmati udara.

❖ ❖ ❖

Tujuan pengasingan diri yang dipilih Arya di dalam kamar gelap itu adalah mencari titik henti bagi pikirannya yang terus bergemuruh hebat. Selama berhari-hari sejak ia meninggalkan Medan demi menyusul sang istri ke pedalaman Tapanuli, ia telah mengerahkan seluruh tenaga, keberanian, dan logika kreatifnya untuk melawan hegemoni keluarga besar Nurhayati. Namun, puncak ketegangan saat gerombolan orang suruhan sang paman menerobos halaman dan menghancurkan beberapa properti galeri seni membuat mental Arya mendadak patah di tengah jalan. Ia menyadari bahwa kehadirannya di tanah leluhur ini justru kerap mendatangkan marabahaya yang lebih besar bagi keselamatan Nurhayati.

"Biarkan aku sendiri, Nur..." bisik Arya akhirnya dengan suara parau dan serak, suaranya nyaris tak tembus melewati tebalnya papan pintu. "Aku... aku hanya ingin sendiri."

Tujuan utamanya saat ini adalah melumpuhkan rasa sakit di dadanya dengan cara mematikan seluruh fungsi emosionalnya. Di dalam ruang isolasi tersebut, Arya membiarkan dirinya tenggelam dalam pusaran penyesalan. Ia merenungkan keputusannya meninggalkan karier di Jakarta, pindah ke Medan, hingga mempertaruhkan nyawa di desa terpencil ini. Apakah semua pengorbanan itu memang ditakdirkan untuk berakhir dalam kehancuran? Pengasingan diri itu menjadi satu-satunya cara baginya untuk berhenti berpikir, berhenti melawan, dan membiarkan kehampaan merenggut sisa-sisa kewarasannya di balik tirai kamar yang tertutup rapat.

❖ ❖ ❖

Transisi dari hiruk-pikuk ancaman eksternal di luar rumah menuju kesunyian mutlak di dalam kamar pengap tersebut membawa kesadaran Arya pada fase mati rasa yang perlahan menjalar ke seluruh saraf tubuhnya. Suara derit papan lantai di luar kamar yang menandakan langkah kaki Nurhayati mulai menjauh perlahan-lahan digantikan oleh denging monoton di dalam telinganya sendiri. Cahaya lampu yang tadinya tampak redup kini berubah menjadi bayangan-bayangan kelam yang menari-nari di atas langit-langit kamar, menyerupai potongan memori kegagalan masa lalu yang berputar tanpa henti.

Transisi psikologis itu merubah seorang lelaki yang dulunya tegar dan penuh solusi kreatif menjadi sosok yang pasrah pada kehancuran. Arya tidak lagi peduli pada kamera DSLR kesayangannya yang tergeletak di dalam ransel, tidak pula peduli pada kontrak residensi seni internasional yang pernah mereka bahas bersama di Medan. Dunia luar seolah telah berhenti berputar baginya, terisolasi di balik tembok kayu setebal beberapa sentimeter yang memisahkan antara kenyataan yang kejam dan pelarian semu di dalam kamar tidur.

Setiap detik yang berlalu terasa begitu lambat merayap, menghadirkan transisi rasa penat yang luar biasa di kepala Arya. Penolakan terhadap makanan dan air bukan lagi sekadar mogok fisik, melainkan bentuk hukuman yang ia jatuhkan pada dirinya sendiri karena merasa tidak mampu berdiri tegak melindungi perempuan yang sangat dicintainya dari amukan tradisi keluarga yang keji.

Lihat selengkapnya