
Matahari sore di Kampung Cempaka perlahan-lahan merosot turun di balik punggung bukit barisan, menyapukan bias cahaya jingga kemerahan ke atas permukaan air petak-petak sawah yang menghampar luas di lembah pedesaan tersebut. Angin lembap berhembus pelan melewati dahan-dahan pohon kelapa dan rumpun bambu, membawa aroma jerami kering bercampur kepulan asap dapur dari rumah-rumah panggung berbilik kayu. Di beranda belakang rumah panggung mereka yang asri menghadap langsung ke arah aliran sungai kecil, Raden Bagaswara duduk termangu seorang diri di atas kursi goyang rotan tanpa mengenakan alas kaki, memandarkan pandangan kosong ke kejauhan. Waktu menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit sore, saat suasana dusun mulai berangsur-angsur senyap dan aktivitas warga mereda seiring datangnya temaram senja. Di atas meja kecil di samping kursi Bagas, secangkir teh poci yang diseduh sejak siang tampak mendingin begitu saja tanpa pernah disentuh, sementara beberapa lembar catatan dokumen pertanahan berserakan tak beraturan diterpa angin senja. Sejak insiden ketegangan di batas dusun beberapa hari lalu yang melibatkan ancaman susulan dari pihak kerabat jauh, semangat hidup Bagas seolah meredup; beban mental yang menumpuk serta rasa tanggung jawab yang begitu berat untuk melindungi keselamatan Nurhayati telah menguras habis energi batinnya. Ia merasa terjebak dalam pusaran konflik feodal yang tidak ada ujungnya, membuat pundaknya yang tegap kini tampak sedikit membungkuk menahan beban tak kasat mata yang menyesakkan dada.
"Kau tidak bisa terus-menerus membiarkan jiwamu mati perlahan di sudut beranda ini, Bagas," sebuah suara akrab yang sangat dirindukan tiba-tiba memecah kesunyian sore, disusul oleh derap langkah kaki menaiki tangga kayu.
Bagas menoleh pelan, mengerjap beberapa kali untuk memastikan penglihatannya tidak salah di tengah temaram cahaya senja. Sosok lelaki berbadan tegap dengan jaket kulit kusam dan ransel tersampir di pundak kiri berdiri di ambang pintu beranda, menampilkan senyuman lebar yang memancarkan energi hangat khas pemuda kota.
"Dimas?" gumam Bagas parau, suaranya terdengar tercekat di tenggorokan karena terkejut mendapati sahabat karibnya sejak masa kuliah di ibu kota itu tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dimas melangkah cepat mendekati kursi goyang, lalu tanpa banyak bicara langsung menarik sebuah kursi kayu dan duduk tepat di hadapan sahabatnya dengan tatapan mata yang tajam namun penuh persahabatan. "Ya, ini aku, kawan. Kalau aku tidak datang menyusul ke ujung dunia ini, mungkin kau sudah berubah menjadi fosil penunggu sawah karena terlalu banyak merenung."
Bagas tersenyum pahit, menggelengkan kepalanya perlahan sambil menunduk menatap lantai papan. "Kau tidak tahu apa yang sedang kuhadapi di sini, Dimas. Tempat ini jauh lebih berbahaya dan melelahkan daripada yang kau bayangkan dalam bayanganmu."
❖ ❖ ❖
Tujuan utama kedatangan Dimas jauh-jauh dari ibu kota ke pedalaman Kampung Cempaka bukanlah sekadar untuk bernostalgia masa lalu atau menikmati pemandangan desa, melainkan mengemban misi persahabatan untuk memulihkan kembali semangat hidup Bagas yang hampir padam. Di dalam rumah, mendengar suara gelak tawa dan percakapan akrab dari beranda belakang, Nurhayati melangkah keluar membawa nampan berisi dua cangkir kopi panas dan penganan tradisional singkong keju. Wajah gadis itu tampak berbinar-binar penuh rasa terima kasih yang mendalam melihat seseorang dari masa lalu Bagas datang membawa angin segar di tengah badai keputusasaan yang melanda suami tercintanya.
"Silakan diminum, Dimas," ucap Nurhayati ramah sambil meletakkan nampan di atas meja kecil di antara kedua lelaki tersebut. "Terima kasih sudah mau datang jauh-jauh ke tempat terpencil ini demi menemani Bagas."
Dimas mendongak, tersenyum sopan sambil mengangguk hormat kepada istri sahabatnya itu. "Sama-sama, Nurhayati. Justru aku yang harus meminta maaf karena baru bisa menyusul sekarang setelah mendengar kabar rumit tentang kalian berdua dari berita-berita di kota."
Nurhayati mengusap pundak Bagas pelan sebelum berbisik lembut, "Aku tinggal ke dapur sebentar ya, biar kalian bisa berbicara leluasa."
Tujuan hidup Bagas yang tadinya sempat kehilangan arah kini diuji kembali melalui kehadiran Dimas yang mengingatkannya pada cita-cita idealis mereka dahulu saat masih aktif di organisasi mahasiswa kampus. Dimas tahu betul bahwa sahabatnya itu adalah seorang pejuang sejati yang tidak pernah kenal kata menyerah pada ketidakadilan, sehingga melihat Bagas terduduk lemas di kursi goyang adalah sebuah pemandangan asing yang sama sekali tidak bisa ia toleransi.
❖ ❖ ❖