Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #43

Keputusan berat untuk meninggalkan kampung

Matahari pagi di dusun terpencil itu memancarkan bias cahaya pucat menembus kabut tipis yang menggantung di atas atap-atap rumah panggung. Suasana di halaman rumah Pak Hasan terasa begitu kontras dibandingkan hari-hari perayaan sebelumnya; tidak ada lagi gelak tawa tamu undangan, alunan musik tradisional, atau riuh rendah suara tetangga. Yang terdengar hanya deru angin lembah bergesekan dengan rumpun bambu, membawa serta aroma tanah basah dan sisa embun malam yang membekukan udara. Di teras depan, dua buah koper besar berwarna gelap tersusun rapi di samping tiang kayu, menjadi saksi bisu atas sebuah keputusan mutlak yang baru saja diambil oleh Arga dan Nurhayati.

Keputusan itu lahir dari rentetan badai batin yang menghantam tanpa henti pasca-pemberitaan skandal korupsi proyek besar di ibu kota yang sempat menyeret nama perusahaan tempat Arga bernaung, ditambah sisa-sisa tatapan sinis sebagian warga dusun yang masih gemar mengungkit masa lalu kelam Nurhayati. Bagi sebagian orang, dusun ini adalah tempat peristirahatan yang damai; namun bagi Nurhayati dan Arga, setiap jengkal tanah, setiap sudut warung kopi, dan setiap lorong setapak di desa ini kini telah berubah menjadi kuburan kenangan pahit yang terus mengorek luka lama yang belum sepenuhnya kering.

Nurhayati berdiri di depan cermin kecil kamarnya, mengenakan mantel rajut abu-abu tebal dan selendang wol yang melingkar erat di lehernya. Ia menatap pantulan dirinya sendiri untuk terakhir kalinya, menyadari bahwa bertahan di tempat ia dilahirkan hanya akan membuatnya menjadi tahanan dari bayang-bayang masa lalunya sendiri. Keputusan untuk pergi bukanlah bentuk kepengecutan, melainkan sebuah bentuk penyelamatan diri yang mendesak—sebuah jalan sunyi yang harus ditempuh demi merajut kewarasan jiwa dan menyelamatkan masa depan pernikahan mereka yang masih seumur jagung.

"Sudah siap semuanya, Nur?" suara Arga terdengar lembut dari balik pintu kamar yang terbuka setengah, memecah keheningan pagi yang terasa begitu berat.

Nurhayati mengangguk pelan, menarik napas dalam-dalam untuk menahan desakan emosi yang kembali mendesak di tenggorokannya. Ia mengambil tas selempangnya, melangkah keluar kamar, dan bersiap menyambut babak paling menentukan dalam lembaran hidup mereka berdua.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama dari kepergian mendadak ini sangatlah jelas dan tidak bisa ditawar lagi: melarikan diri sejauh mungkin dari racun masa lalu dan memulai kembali segalanya dari titik nol di tanah rantau yang benar-benar asing. Arga telah merancang rencana matang selama tiga hari terakhir di balik layar ponselnya yang minim sinyal—menjual sisa aset kendaraan lamanya di kota kabupaten, mengamankan tabungan darurat terakhir, dan memesan tiket kereta malam lintas provinsi menuju sebuah kota pelabuhan di ujung pulau yang jauh dari jangkauan gosip ibu kota maupun cibiran warga dusun. Goal mereka bukan lagi tentang mengejar jabatan prestisius atau kesuksesan material yang fana, melainkan menemukan ketenangan batin, membangun rumah tangga yang bersih dari intrik, dan membuktikan bahwa cinta mereka sanggup bertahan di atas tanah baru yang belum terjamah oleh kenangan pahit.

"Kita tidak perlu membawa banyak barang, Nur," ucap Arga sambil mengangkat koper berat ke atas rak bagasi mobil sewaan yang sudah terparkir di depan gerbang bambu. "Yang paling penting adalah kita berdua pergi dengan kepala tegak, membawa niat suci untuk hidup jujur dan saling menjaga."

Nurhayati merapikan letak kerah kemeja suaminya, lalu mengangguk mantap. Matanya menyapu sekeliling pekarangan rumah panggung tempat ia dibesarkan, tempat di mana ia pernah menangis tersedu-sedu karena fitnah, namun juga tempat di mana ia menemukan pelukan terhangat dari Arga di tengah badai.

"Aku tidak menyesal pernah kembali ke sini, Arga," bisik Nurhayati tulus, menyandarkan kepalanya sejenak di dada bidang suaminya. "Tapi aku tahu, tinggal lebih lama di sini hanya akan membunuh perlahan sisa-sisa semangat hidup kita. Mari kita pergi."

Pak Hasan dan Ibu melangkah keluar dari pintu rumah, wajah paruh baya mereka tampak basah oleh air mata tertahan. Meskipun berat melepas kepergian putri satu-satunya bersama suami tercintanya, mereka tahu betul bahwa keputusan itu adalah yang terbaik untuk keselamatan rumah tangga anak-anak mereka. Pelukan perpisahan yang hangat dan penuh doa restu mengantarkan langkah Arga dan Nurhayati menaiki mobil sewaan, meninggalkan halaman rumah yang kini terasa begitu sunyi.

❖ ❖ ❖

Transisi dari suasana haru di pekarangan rumah menuju perjalanan panjang di atas jalan raya berliku membawa gelombang keheningan yang panjang di dalam kabin mobil. Roda kendaraan berputar melintasi jalanan aspal basah yang membelah perbukitan hijau, menjauhkan mereka secara perlahan dari batas teritorial dusun kelahirannya. Di luar jendela, pemandangan sawah bertingkat, barisan pohon pinus, dan kabut tipis pagi hari berangsur-angsur menghilang, digantikan oleh deretan bangunan ruko sederhana di pinggir kota kabupaten dan lalu-lalang truk pengangkut barang antarkota.

Lihat selengkapnya