[partImg:[0]]
Deru mesin kapal feri raksasa bergemuruh hebat, memecah air laut Selat Sunda yang membentang luas di hadapan. Angin laut sore berembus kencang, membawa serta aroma garam dan buih putih yang berhamburan ke udara setiap kali lambung kapal menghantam ombak. Di anjungan luar dek penumpang, Aris berdiri terpaku di dekat pagar pembatas besi, menatap lurus ke arah daratan Pulau Sumatra yang perlahan-lahan mulai kabur ditelan jarak dan kabut senja. Siluet Gunung Rajabasa dan gugusan bukit barisan tampak semakin mengecil, berubah menjadi gumpalan kelabu di ujung cakrawala barat. Waktu menunjukkan pukul lima sore ketika matahari mulai merosot turun, menyapukan warna jingga kemerahan di atas permukaan laut yang berkilau. Di dalam saku jaketnya, sebuah amplop berisi tiket satu arah menuju Pulau Jawa bergemerisik pelan setiap kali ia menarik napas panjang. Perjalanan ini menandai akhir dari seluruh babak hidupnya yang melelahkan di tanah kelahiran, sebuah pelarian sunyi dari kenangan-kenangan tajam yang terus menghujam dada setiap kali ia melewati tepian Danau Ranau.
"Angin laut Selat Sunda memang terkenal tidak pernah ramah bagi siapa pun yang membawa terlalu banyak beban di dalam hatinya, Anak Muda," sebuah suara parau mendadak memecah lamunan Aris dari samping.
Aris menoleh perlahan, mendapati seorang lelaki paruh baya berambut beruban tipis mengenakan topi jerami usang sedang berdiri bersandar pada pagar pembatas, menatapnya dengan senyum ramah yang menyaratkan pengalaman hidup yang panjang. Namanya Pak Hasan, seorang pedagang keliling asal Krui yang kerap bolak-balik Sumatra-Java menggunakan kapal feri tersebut.
"Beban rasanya tidak pernah bisa ditinggal di daratan, Pak, sekencang apa pun angin mencoba meniupnya pergi," jawab Aris dengan suara datar, kembali mengalihkan pandangannya ke arah laut lepas.
Pak Hasan tertawa kecil, suara tawa yang tenggelam di bawah deru angin dan suara klakson kapal yang menggema. "Kau salah, Nak. Laut ini luas. Ia bukan tempat untuk membawa beban, melainkan tempat di mana segala masa lalu ditenggelamkan agar kita bisa menginjak daratan seberang dengan kaki yang ringan."
Aris terdiam mendengar ucapan lelaki tua itu, merasakan setiap kata meresap perlahan ke dalam rongga dadanya yang masih menyisakan perih. Meninggalkan Sumatra bukan sekadar perpindahan geografis bagi Aris, melainkan sebuah bentuk pengasingan diri yang terpaksa ia pilih setelah kekacauan di hari pernikahan Maya beberapa waktu lalu. Meskipun calon pengantin pria sempat kabur dan pintu kesempatan terbuka sesaat bagi Aris untuk kembali, kenyataan pahit tetap menampar wajahnya: Maya telah memilih jalannya sendiri, menyelesaikan kewajiban keluarganya, dan Aris tidak lebih dari seorang saksi bisu yang tertinggal di pinggir dermaga. Kini, di atas geladak kapal yang membelah selat menuju pelabuhan Merak, ia membawa serta sisa-sisa reruntuhan hatinya, meninggalkan tanah yang pernah menjadi saksi bisu atas seluruh sumpah janji masa lalu yang kini terkubur bersama angin senja.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama dari pelarian panjang ini bukanlah mencari kekayaan atau memulai karier baru di kota metropolitan, melainkan menemukan kembali kewarasan dan arti hidup yang telah hilang di tengah pusaran konflik adat dan patah hati yang teramat dalam. Selama bertahun-tahun, Aris mendedikasikan seluruh impiannya untuk membangun masa depan bersama Maya di tanah Sumatra, merajut asa di atas sampan-sampan kayu, dan mengikat janji suci di bawah naungan pohon ketapang air di tepian teluk. Namun, janji-janji manis yang diucapkan dengan penuh ketulusan itu kini berubah menjadi belati bermata dua yang terus menyayat ingatannya setiap kali ia memejamkan mata. Di atas kapal feri yang melaju meninggalkan pulau kelahirannya itu, Aris mematri satu tujuan mutlak di dalam lubuk hatinya: melangkah ke tanah Jawa tanpa membawa serta bayang-bayang masa lalu, menghapus setiap janji yang pernah terucap, dan belajar bernapas kembali sebagai individu yang utuh tanpa ketergantungan pada kenangan seorang perempuan yang telah resmi menjadi milik orang lain.
"Kau mau turun di Merak atau langsung melanjutkan perjalanan ke Jakarta?" tanya Pak Hasan memecah kesunyian, memecah fokus Aris yang kembali melamun.
"Aku belum tahu, Pak. Mungkin mencari tempat tinggal sementara di sekitar pelabuhan dulu sebelum memutuskan arah selanjutnya," jawab Aris jujur, tanpa menyembunyikan kebingungan yang membayang di wajahnya.
"Hidup di perantauan memang melelahkan di awal, tapi ia mengajarkan kita satu hal yang paling berharga: bagaimana cara berdiri di atas kaki sendiri tanpa mengharapkan uluran tangan orang lain," ujar Pak Hasan bijak, menepuk pelan pundak Aris yang terasa kaku. "Jangan terlalu lama menoleh ke belakang, Nak. Kapal ini tidak punya gigi mundur. Ia hanya tahu cara maju ke depan."
Aris mengangguk pelan, menghargai nasihat sederhana dari lelaki paruh baya tersebut. Tujuannya saat ini sangat sederhana namun menuntut keberanian mental yang luar biasa: bertahan hidup seorang diri di tempat di mana tidak ada seorang pun yang mengenal nama, sejarah, ataupun luka hatinya. Di kota besar nanti, ia tidak lagi membawa predikat sebagai lelaki yang dikhianati atau pemuda desa yang gagal mempertahankan cinta; ia adalah lembaran kertas putih yang siap ditulis ulang oleh takdir, meskipun untuk mencapai titik itu ia harus merelakan separuh jiwanya tertinggal di tanah Sumatra.
❖ ❖ ❖