
Matahari pagi di ibu kota menyembul di balik gedung-gedung tinggi pencakar langit, menyapukan bias cahaya keemasan yang bercampur dengan asap knalpot kendaraan bermotor yang memadati jalanan raya. Di dalam sebuah kamar kos berukuran sempit di sudut kota yang sumpek, Raden Bagaswara duduk termenung di tepi ranjang lipat usang, menatap layar laptop tua yang menyala redup dengan tatapan kosong. Waktu menunjukkan pukul delapan lewat seperempat pagi, saat hiruk-pikuk aktivitas pekerja kantoran di luar sana berpacu dengan waktu, sementara Bagas justru merasa terjebak di dalam labirin ketidakpastian yang menyesakkan dada. Setelah badai konflik pertanahan dan ancaman feodal di Kampung Cempaka berhasil diredam berkat bantuan Dimas serta dokumen hukum yang sah, Bagas dan Nurhayati memutuskan untuk kembali menata hidup di kota demi mencari sumber penghidupan yang stabil. Namun, transisi kembali ke realitas urban setelah berbulan-bulan bergelut dengan intrik pedesaan ternyata menghantam mental Bagas secara telak. Pikiran lelaki itu dipenuhi oleh rasa lelah yang luar biasa, sisa-sisa trauma psikologis, serta kecemasan akut setiap kali ia melihat deretan lowongan pekerjaan di layar komputer. Di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, bertumpuk puluhan surat lamaran kerja yang telah ditolak melalui email otomatis, menjadi saksi bisu betapa sulitnya melangkah maju ketika kondisi mental berada di titik terendah. Bagas mengepalkan kedua tangannya yang terasa dingin, merasakan beban berat di dadanya seolah ada batu tak kasat mata yang menghimpit pernapasannya setiap kali ia mencoba meyakinkan diri bahwa hari ini ia harus bangkit dan melangkah keluar mencari pekerjaan pertamanya.
"Kau tidak bisa terus-menerus menatap layar kosong itu sambil membiarkan kopi pagimu mendingin, Bagas," suara lembut Nurhayati memecah kesunyian kamar kos, muncul dari balik tirai dapur kecil sambil membawa semangkuk bubur hangat.
Bagas menoleh pelan, tersenyum lemah menyambut kedatangan istrinya yang selalu setia mendampingi di masa-masa paling sulit dalam hidupnya. "Aku hanya merasa... entahlah, Nur. Rasanya berat sekali sekadar melangkah keluar pintu. Setiap kali melihat syarat lamaran yang menumpuk, kepalaku langsung pening dan aku merasa tidak mampu bersaing dengan pelamar lain."
Nurhayati meletakkan mangkuk bubur di atas meja kecil, lalu duduk di samping suaminya, menggenggam jemari Bagas yang terasa gemetar halus. "Kau tidak harus langsung menjadi yang paling sempurna hari ini, Bagas. Cukup langkahkan satu kaki keluar, hadapi ketakutanmu perlahan-lahan. Kita berjuang bersama."
Bagas menghela napas panjang, menatap manik mata istrinya yang memancarkan ketulusan luar biasa, menemukan secercah kekuatan batin untuk menepis awan kelam yang menggelayuti pikirannya sejak fajar menyingsing.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Bagas hari ini adalah menaklukkan ketakutan psikologisnya sendiri dengan mendatangi sebuah wawancara kerja pertama di sebuah perusahaan penerbitan independen di pusat kota, sebuah peluang kecil yang berhasil didapatkan berkat rekomendasi Dimas. Di sisi lain kota, di kantor kecil yang dipenuhi tumpukan buku dan aroma kertas tua, Direktur HRD perusahaan tersebut sedang meninjau berkas lamaran Bagas yang di dalamnya menyisipkan portofolio pembelaan hak tanah adat di pedalaman. Hati Bagas berdegup kencang bukan karena kurang percaya diri pada kemampuannya, melainkan karena bayang-bayang kegagalan masa lalu yang terus menghantui setiap kali ia membayangkan dirinya harus duduk di hadapan para penguji formal.
"Aku harus bisa melewati pintu ini, tidak boleh menyerah pada kecemasan," gumam Bagas dalam hati saat ia berdiri di depan pintu kaca lobi gedung perkantoran tersebut.
Tujuan hidup Bagas kini bukan lagi sekadar mempertahankan idealisme melawan feodalisme desa, melainkan membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia mampu berdiri di atas kaki sendiri, menafkahi Nurhayati, dan memulihkan harga diri yang sempat runtuh akibat keterpurukan mental. Di dalam benaknya, ia tahu bahwa mendapatkan pekerjaan pertama ini adalah kunci utama untuk membuka lembaran baru kehidupan rumah tangga mereka yang sempat porak-poranda.
Ponsel di saku celananya bergetar pelan, menampilkan pesan singkat dari Dimas yang berbunyi: "Jangan overthinking, kawan! Kau jauh lebih hebat dari apa yang kau takutkan. Hantam saja!"
Bagas menarik napas dalam-dalam, merapikan kerah kemeja katun abu-abunya, lalu melangkah mantap memasuki ruang resepsionis untuk mendaftarkan namanya sebagai kandidat wawancara.
❖ ❖ ❖
Transisi dari suasana cemas di ruang tunggu menuju ruang wawancara yang ber-AC dingin membawa gelombang debar jantung yang semakin kencang di dada Bagas. Seorang staf HRD berkaos kerah rapi memanggil namanya dengan ramah, mempersilakan Bagas masuk ke dalam ruangan kecil berkat kaca buram yang disekat rapi. Langkah kaki Bagas terasa sedikit kaku, namun ia tetap memaksa punggungnya untuk berdiri tegak, menolak tunduk pada serangan panik yang sempat mencengkeram tenggorokannya di koridor tadi. Begitu ia duduk di kursi berhadapan langsung dengan sang pewawancara—seorang lelaki paruh baya berkacamata tebal bernama Pak Hartono—suasana mendadak terasa hening dan khidmat.