Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #48

Kenangan tentang Nurhayati terus menghantui

Arloji murah di dinding kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu menunjukkan pukul dua pagi, tetapi mata Arga masih terjaga lebar, menatap langit-langit tripleks yang dipenuhi noda rembesan air hujan. Udara malam kota pelabuhan yang lembap dan pekat oleh bau asin air laut menyusup melalui celah-celah ventilasi, membawa serta kesunyian yang terasa begitu memekakkan telinga. Di atas meja kayu kecil di sudut ruangan, secangkir kopi hitam yang sudah dingin sejak beberapa jam lalu dibiarkan begitu saja, menemani tumpukan dokumen lamaran kerja dan lembaran surat panggilan investigasi hukum yang berserakan tanpa aturan. Di ruangan yang sempit ini, setiap sudutnya seolah berbisik, memantulkan kembali bayangan wajah Nurhayati yang kini terpisahkan jarak ratusan kilometer oleh keadaan pelik.

Selama berminggu-minggu sejak keputusan berat diambil untuk meninggalkan dusun demi menyelamatkan kewarasan batin, hari-hari Arga diisi dengan perjuangan fisik yang melelahkan di dermaga bongkar muat barang. Namun, selelah apapun otot-otot tubuhnya meredam beban karpet atau peti kemas, kepenatan itu sama sekali tidak mampu meredam riuhnya kenangan tentang sang istri di dalam kepalanya. Kamar kos yang sempit ini mendadak terasa bagaikan sebuah penjara sunyi, di mana ingatan tentang senyuman, suara tawa, hingga isak tangis Nurhayati berputar berulang-ulang tanpa tombol jeda, menghantam pertahanan emosional yang susah payah ia bangun di siang hari.

"Di mana kamu sekarang, Nur..." gumam Arga parau, suaranya pecah di tengah ruangan yang pengap, tenggelam bersama deru angin malam yang menampar-nampar daun jendela seng.

Ia teringat bagaimana wanita itu biasa merapikan kerah bajunya setiap kali ia hendak berangkat mencari pekerjaan, atau bagaimana jemari lentik Nurhayati menggenggam tangannya erat-erat saat badai cemoohan warga dusun menghantam hidup mereka dulu. Setiap jengkal ruang di kamar kos itu kini dipenuhi oleh hantu-hantu kenangan manis yang berubah menjadi duri tajam setiap kali ia menyadari bahwa ranjang lipat di sisi ruangan hanya terisi oleh kesendirian dan napasnya sendiri yang berat. Bayangan itu begitu nyata, seolah aroma wangi selendang rajut biru milik Nurhayati masih tertinggal di bantal usang yang ia peluk erat untuk meredakan dingin malam.

❖ ❖ ❖

Tujuan hidup Arga kini telah menyusut menjadi sebuah titik fokus yang sangat tajam dan mendesak: menyelesaikan badai hukum yang menggantung di ibu kota secepat mungkin agar ia bisa segera kembali dan menjemput Nurhayati untuk hidup bersama tanpa rasa takut. Ia tidak boleh terus-menerus terjebak dalam ratapan rindu yang melumpuhkan akal sehatnya. Setiap malam yang dihabiskan dengan mengenang sang istri di kamar sempit ini harus dibayar dengan keringat dan ketekunan ganda di tempat kerjanya keesokan hari. Goal-nya jelas—mengumpulkan ongkos perjalanan kembali ke ibu kota, memenuhi panggilan saksi kunci tanpa meninggalkan celah bagi pihak-pihak korup untuk menjatuhnya, lalu membawa pulang kebebasan mutlak bagi lembaran rumah tangga mereka yang baru.

Arga menegakkan duduknya di atas tepi ranjang, meraba saku jaket kumalnya dan mengeluarkan surat panggilan investigasi berlogo negara yang beberapa waktu lalu diselipkan di bawah pintu. Di bawah temaram cahaya lampu bohlam lima watt yang menggantung rendah, ia membaca kembali setiap pasal dan instruksi yang tertera di sana dengan tatapan tajam penuh perhitungan.

"Aku tidak boleh menyerah di sini," ucap Arga pada dirinya sendiri, nada suaranya mengeras, membuang jauh-jauh rasa iba pada diri sendiri yang sempat merayap di dadanya. "Nurhayati menungguku di sana dengan keyakinan yang sama. Aku harus menyelesaikan ini semua demi masa depan kami berdua."

Tujuan besar itu bertindak sebagai mercusuar di tengah lautan keputusasaan malam hari. Ia sadar, meratapi jarak tidak akan mengubah kenyataan; hanya tindakan nyata, keberanian menghadapi proses hukum di ibu kota, dan kerja keras di pelabuhan yang mampu mengubah takdir mereka menjadi lebih baik.

❖ ❖ ❖

Transisi dari keheningan malam yang penuh ratapan rindu menuju kesadaran mental yang dingin terjadi perlahan seiring jarum jam dinding bergeser mendekati pukul tiga pagi. Udara dingin di dalam kamar kos yang sempit itu perlahan-lahan mencair, digantikan oleh gelombang tekad baru yang menyergap aliran darah Arga. Bayangan wajah Nurhayati yang tadinya memicu rasa perih di dada kini bertransformasi menjadi bahan bakar emosional yang membakar semangat juangnya hingga ke titik didih tertinggi.

Ia melipat kembali surat panggilan itu dengan rapi, memasukkannya ke dalam amplop cokelat, lalu meletakkannya di dasar tas ransel bersama tabungan hasil kerja kasarnya di pelabuhan. Transisi waktu dini hari itu menandai berakhirnya fase ratapan pasif dan mengantarkannya pada fase persiapan mental seorang pejuang yang siap menerjang medan laga. Tidak ada lagi ruang untuk keraguan atau rasa rendah diri di hadapan bayang-bayang masa lalu.

"Tidur sebentar saja, Arga. Besok pagi kamu harus sudah berdiri di gerbang dermaga sebelum matahari terbit," bisiknya pada bayangannya sendiri di cermin kecil berdebu.

Lihat selengkapnya