Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #50

Fokus pada pekerjaan sebagai pelarian

Deru mesin pemotong kayu berputar nyaring, memuntahkan serbuk-serbuk gergaji beraroma damar yang mengepul ke udara lembap bengkel bubut kecil di sudut kawasan industri Cilegon. Di tengah bisingnya suara logam yang bergesekan dan pekatnya bau oli bekas, Aris berdiri tegak dengan peluh yang membasahi seluruh kemeja flanel kumalnya. Pukul dua belas malam baru saja lewat, namun lampu neon putih di atas meja kerjanya masih menyala terang, menerangi tumpukan balok kayu jati dan perkakas tangan yang berserakan tak beraturan. Sudah berbulan-bulan sejak ia menjejakkan kaki pertama kali di tanah Jawa selepas pelariannya dari Sumatra, dan selama itu pula tidak ada satu hari pun yang ia lewatkan tanpa menyibukkan diri hingga titik batas kelelahan fisik yang paling ekstrim. Bagi Aris, bekerja bukan lagi sekadar cara untuk mencari nafkah demi menyambung hidup di perantauan, melainkan sebuah pelarian mutlak—sebuah benteng pertahanan terakhir agar pikirannya tidak kembali melayang pada bayangan kenangan pahit di tepian Danau Ranau yang terus menghantuinya di sepi malam.

"Kau belum mau istirahat, Ris? Badanmu bisa hancur kalau terus diporsir bekerja belasan jam sehari tanpa libur," tegur Pak Joko, pemilik bengkel paruh baya asal Solo, yang melangkah mendekat sambil membawa segelas kopi hitam hangat.

Aris mematikan mesin gergajinya sejenak, menyeka peluh di dahi dengan punggung tangan yang kasar dan dipenuhi bekas goresan kayu. "Belum lelah, Pak. Masih ada beberapa pesanan lemari arsip yang harus diselesaikan sebelum batas waktu lusa."

Bagi Aris, rasa sakit di dadanya tidak pernah benar-benar reda; ia hanya bersembunyi di balik tumpukan kayu, deru mesin, dan target pekerjaan yang menumpuk setiap hari. Setiap kali ia berhenti bergerak atau membiarkan ruang kosong di dalam kepalanya tercipta, bayangan hari-hari kelam di kampung halaman—terutama tatapan terakhir Maya di bawah gerimis sore itu—langsung menghantam batinnya dengan telak. Oleh karena itu, ia sengaja memilih pekerjaan yang paling menguras tenaga fisik, mengangkat balok-balok kayu berat, mengetam permukaan papan hingga licin, dan merakit sambungan mortise and tenon dengan presisi tinggi tanpa jeda. Kelelahan fisik yang mendera otot-ototnya terbukti menjadi obat penawar sementara yang paling ampuh untuk meredam rasa nyeri di rongga dadanya, membuat sekujur tubuhnya mati rasa dari rasa sakit emosional yang tak kunjung sembuh.

"Pekerjaan memang bisa mengalihkan perhatian, Nak, tapi ia tidak akan pernah bisa menyembuhkan luka yang sengaja kauabaikan," ucap Pak Joko bijak, meletakkan gelas kopi di atas meja kerja di dekat tumpukan amplas. "Kau sedang melarikan diri dari sesuatu yang besar, ya?"

Aris menatap nanar ke dalam gelas kopi hitam yang mengepulkan uap tipis, lalu tersenyum pahit. "Aku tidak sedang melarikan diri, Pak. Aku hanya sedang mencoba belajar hidup di tempat di mana tidak ada lagi orang yang mengenal namaku."

Lihat selengkapnya