Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #52

Kilas balik: Saat-saat tertawa bersama

Matahari sore di Kampung Cempaka perlahan-lahan tergelincir turun ke balik punggung bukit barisan, menyapukan bias cahaya jingga kemerahan yang memantul di atas permukaan air danau kecil yang tersembunyi di balik lebatnya rumpun bambu. Di atas dermaga kayu kecil yang mulai rapuh dimakan usia, Raden Bagaswara duduk seorang diri dengan lutut ditekuk ke dada, memandarkan pandangan kosong ke arah riak air yang bergetar pelan diterpa angin lembap. Waktu menunjukkan pukul lima lewat seperempat sore, saat suasana dusun mulai berangsur-angsur senyap dan bayangan pepohonan waru tua memanjang menutupi permukaan air yang tenang. Tempat ini dulunya menyimpan sejuta kenangan paling indah dalam lembaran hidupnya bersama Nurhayati, sebelum badai intrik feodal dan tragedi memilukan mengubah segalanya menjadi genangan air mata. Setiap hembusan angin sore yang melewati permukaan danau seolah membawa kembali gema suara tawa renyah, canda tawa ringan, dan sentuhan hangat jemari sang istri di masa-masa awal perjuangan mereka ketika dunia terasa begitu luas dan bersahabat. Namun, kenangan manis itu kini berubah menjadi bilah sembilu yang menyayat hati tatkala Bagas menyadari bahwa orang yang paling ia cintai di dunia ini telah pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan dirinya seorang diri di tepi danau saksi bisu tersebut. Bagas memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan butir-butir air mata hangat meleleh menuruni pipinya yang tirus, tak kuasa menahan gelombang kepedihan mendalam tatkala bayangan wajah Nurhayati kembali berkelebat jelas di balik kelopak matanya yang basah.

"Kau melamun terlalu dalam di tempat yang sama, Nak Bagas," suara Pakde Hasan mendadak memecah kesunyian sore, muncul dari balik semak tepian danau sambil melangkah perlahan mendekati dermaga kayu.

Bagas menoleh pelan, menyeka cepat air matanya dengan punggung tangan lalu tersenyum pahit menyambut kedatangan lelaki paruh baya yang setia menemani masa-masa dukanya. "Tempat ini terlalu penuh dengan kenangan tentangnya, Pakde. Di sinilah dulu kami sering tertawa lepas tanpa beban sebelum semuanya hancur."

Pakde Hasan menghela napas panjang, lalu duduk bersila di samping Bagas sambil menepuk pelan pundak pemuda yang kini tampak begitu rapuh itu. "Kenangan adalah bagian dari takdir yang tidak bisa dihapus, Bagas. Tapi meratapi kepedihan di tempat ini terus-menerus tidak akan mengembalikan senyumannya."

"Saya hanya merasa gagal, Pakde," lanjut Bagas dengan suara parau yang tercekat di tenggorokan. "Saya berjanji akan melindunginya sampai akhir hayat, tapi justru di tepi danau inilah janji-janji itu seolah runtuh bersama kepergiannya."

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Bagas kembali menyambangi danau sunyi itu sore ini bukanlah untuk meratapi nasib atau menyerah pada keputusasaan, melainkan mencari ketenangan batin guna merajut kembali sisa-sisa semangat hidupnya yang hancur berkeping-keping. Di dalam kilas balik ingatannya, Bagas tepat mengingat hari di mana ia dan Nurhayati duduk bersampan di tengah danau ini, tertawa terbahak-bahak saat cipratan air mengenai wajah mereka di tengah terik matahari siang yang cerah. Nurhayati kala itu mengenakan selendang katun biru muda, merentangkan tangannya menyambut angin sepoi-sepoi sambil berucap bahwa tidak ada kekuatan di bumi yang bisa memisahkan hati mereka.

"Ingatlah tawa itu, Bagas," bisik Nurhayati dalam bayangan kenangan yang berputar di kepala sang suami. "Jangan biarkan air mata menggantikan kebahagiaan yang pernah kita perjuangkan bersama."

Tujuan hidup Bagas kini telah bergeser menjadi sebuah sumpah pengabdian abadi: merawat warisan cinta, nilai perjuangan, dan impian Nurhayati agar tetap hidup meskipun raga sang istri telah bersemayam di dalam tanah pemakaman desa. Di dalam dadanya yang sesak, ia berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi membiarkan kenangan indah tersebut berubah menjadi racun penyesalan, melainkan sumber kekuatan utama dalam mengarungi sisa hidupnya yang berat di kota maupun di desa.

Ponsel di dalam saku jaketnya bergetar pelan, menampilkan pesan singkat dari Dimas yang mengingatkan jadwal keberangkatannya kembali ke ibu kota esok pagi, namun Bagas memilih membiarkannya berdering tanpa segera menjawab.

❖ ❖ ❖

Transisi dari lamunan masa lalu yang penuh tawa menuju kesadaran realitas yang dingin menyengat kesadaran Bagas ketika matahari sepenuhnya tenggelam di balik garis horizon bukit barisan, menyisakan warna kelam keunguan di atas permukaan air danau. Pakde Hasan berdiri perlahan, merapikan selendang rajut yang tersampir di bahunya, lalu menatap tajam namun penuh kehangatan ke arah pemuda di sampingnya.

Lihat selengkapnya