
Langit kelabu menggantung rendah di atas reruntuhan arang yang dulunya adalah sebuah rumah panggung penuh kenangan di dusun terpencil itu. Bau jelaga dan abu sisa kebakaran masih pekat menusuk hidung, berpadu dengan uap air hujan gerimis yang turun merintik sejak subuh, mendinginkan puing-puing kayu yang kini tinggal menyisakan kerangka hitam legam. Di tengah hamparan sisa-sisa bangunan yang hangus tersulut api kesumat malam tadi, Arga berdiri terpaku bagai patung batu. Kedua tangannya yang kotor oleh debu arang terkepal sangat erat di sisi tubuhnya, sementara tatapan matanya kosong menerobos menatap tanah lapang berlumpur di hadapannya.
Tidak ada lagi air mata yang tersisa di pelupuk matanya; yang ada hanyalah rongga dada yang terasa kosong melompong, seolah seluruh oksigen di dunia ini telah habis tersedot oleh kobaran api yang dengan kejam merenggut satu-satunya tempat berlabuh paling aman di hatinya. Kepergian Nurhayati di tengah malam buta akibat sabotase biadab itu menghantam kewarasan Arga hingga ke akar-akarnya. Selama ini, ia telah membanting tulang, melawan arus fitnah korporat di ibu kota, menahan rasa lapar di pelabuhan kumuh, dan merangkak naik dari titik nadir demi satu tujuan sederhana: melindungi wanita yang paling ia kasihi. Namun, takdir seolah mempermainkannya dengan keji, merampas semuanya tepat ketika ia merasa garis garis finish kebahagiaan mereka sudah berada di depan mata.
"Kenapa harus dia? Kenapa takdir selalu memilih cara paling biadab untuk menghancurkan hidupku?" geram Arga pelan, suaranya parau, pecah di antara desau angin dingin pagi hari yang menghantam sisa tiang rumah yang tumbang.
Lingkungan di sekelilingnya mendadak terasa begitu asing dan musnah. Warga dusun yang tadinya berkerumun menyaksikan evakuasi kini perlahan membubarkan diri, meninggalkan Arga sendirian di tengah abu dan arang yang basah oleh sisa hujan. Di dalam benaknya, rasa dendam yang pekat mulai merayap pelan, meracuni setiap jengkal nalar sehatnya dan mengubah kepedihan menjadi bara api kemarahan yang membakar dada.
❖ ❖ ❖
Tujuan hidup Arga yang tadinya berporos pada pemulihan nama baik dan cinta yang tulus kini mengalami pergeseran bentuk yang mengerikan: ia tidak lagi peduli pada karir, uang, atau bahkan keadilan hukum yang lamban. Goal utamanya saat ini hanya satu—memburu siapa pun dalang di balik teror api yang merenggut nyawa Nurhayati, dan menyeret mereka ke dalam kehancuran yang sama tanpa ampun. Dendam kesumat itu merasuk ke dalam aliran darahnya, menggantikan rasa putus asa dengan dorongan destruktif yang mendesak untuk segera melampiaskan amarah pada dunia yang dinilainya sangat tidak adil.
"Kalian pikir aku akan menyerah dan menerima semua ini begitu saja?" bisik Arga pada angin kosong, matanya menyipit tajam penuh amarah tertahan. "Jika hukum negara terlalu lambat dan dunia ini tidak adil bagi orang-orang kecil seperti kami, maka aku sendiri yang akan menjadi algojo bagi mereka yang merusak hidup kami."
Arga berbalik badan dari reruntuhan arang tersebut, melangkah gontai namun penuh ketegasan melewati jalan setapak berlumpur menuju jalan raya utama tempat sepeda motor tuanya terparkir. Di dalam saku jaket kumalnya, ia meraba sebuah pisau lipat kecil milik mendiang Pak Hasan yang ia temukan di antara puing-puing saku baju yang terselamatkan—sebuah simbol sumpah darah bahwa ia tidak akan pernah berhenti sebelum menemukan siapa otak di balik tragedi berdarah ini. Tujuan hidupnya kini telah sepenuhnya diambil alih oleh kegelapan dan nafsu pembalasan dendam yang membara di rongga dadanya.
❖ ❖ ❖
Transisi dari suasana duka yang sunyi di reruntuhan rumah menuju deru jalan raya antarkota membawa perubahan drastis dalam ritme napas dan denyut nadi Arga. Begitu ia menaiki sepeda motor tuanya dan menancap gas kencang meninggalkan dusun terpencil itu, lanskap pemandangan hijau perbukitan berangsur-angsur lenyap, digantikan oleh hiruk-pikuk beton kelabu dan kemacetan kendaraan di pinggiran kota besar.
Transisi waktu siang menjelang sore itu terasa begitu cepat, mencerminkan betapa cepatnya kepribadian Arga terkikis oleh kepedihan dan berubah menjadi dingin tanpa ampun. Setiap kendaraan yang berpapasan dengannya di jalan raya seolah menjadi musuh tak kasat mata yang harus ia curigai. Ia tidak lagi memikirkan masa depan atau hari esok; seluruh konsentrasinya tersedot sepenuhnya pada satu misi tunggal: melacak jejak para pelaku sabotase yang diyakininya memiliki hubungan erat dengan lingkaran hitam petinggi korporat di ibu kota yang dulu pernah mencoba menjatuhnya.