Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #55

Usaha pertama sang lelaki

Matahari pagi belum sepenuhnya menyingkirkan kabut tipis yang menyelimuti kawasan industri pinggir kota. Udara terasa dingin, menusuk pori-pori kulit bagi siapa saja yang berdiri terlalu lama di luar ruangan. Di sebuah halte bus yang catnya sudah mengelupas di sana-sini, Aris berdiri seorang diri. Ia mengenakan kemeja putih berkerah kaku yang baru saja disetrika semalam—meski garis lipatannya mulai tampak kusut akibat perjalanan panjang menggunakan kereta ekonomi subuh tadi—dipadukan dengan celana bahan hitam berpotongan lurus yang sedikit kedodoran di bagian mata kaki. Di tangannya, sebuah amplop cokelat tebal berukuran folio didekap erat, seolah-olah benda itu adalah benteng terakhir yang menjaga sisa-sisa harga dirinya sebagai seorang kepala keluarga yang baru saja kehilangan arah.

"Bus nomor empat puluh dua jurusan distrik industri utama, silakan naik bagi yang sudah siap," suara kondektor tua dari balik pengeras suara berkarat memecah keheningan pagi.

Aris mengerjap, menarik napas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya dengan oksigen dingin, lalu melangkah pelan menaiki undakan bus yang berderit nyaring. Di dalam kabin, bau solar bercampur dengan aroma basah sisa hujan semalam menyambut indra penciumannya. Hanya ada segelintir penumpang di dalam bus tua itu: seorang ibu paruh baya yang tertidur pulas dengan kepala bersandar pada kaca jendela berpola embun, dan dua orang pemuda berseragam kumal yang sibuk memperdebatkan hasil pertandingan sepak bola semalam dengan suara setengah berbisik. Aris memilih kursi di sudut paling belakang, tempat di mana ia bisa mengamati pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela yang buram.

Bayangan di kaca itu memperlihatkan seorang pria berusia kepala tiga dengan guratan lelah yang mulai tercetak jelas di sekitar sudut matanya. Rambut hitamnya tersisir rapi menggunakan pomade murahan yang dibeli di minimarket dekat stasiun, sebuah upaya mati-matian agar tampak profesional di hadapan orang-orang yang kelak akan mewawancarainya. Sudah enam bulan berlalu sejak perusahaan tempatnya bekerja selama delapan tahun menyatakan pailit secara mendadak. Enam bulan di mana tabungan menipis, cicilan rumah mulai menunggak, dan tatapan mata istrinya, Rini, berubah dari cemas menjadi pasrah yang menyayat hati. Pagi ini adalah hari pertamanya melangkah keluar dari zona nyaman keputusasaan, mencoba merajut kembali serpihan-serpihan asa yang berserakan di atas meja makan kecil di rumah petak mereka.

"Kau harus percaya diri, Aris. Ini bukan sekadar mencari pekerjaan, ini tentang membuktikan pada dirimu sendiri bahwa kau belum habis," bisik Aris pada dirinya sendiri, pelan, nyaris tak terdengar di antara deru mesin bus yang mulai menghentak jalanan berlubang.

Bus berbelok tajam ke kiri, memasuki gerbang kawasan perkantoran modern yang kontras dengan latar belakang perumahan padat penduduk yang baru saja mereka tinggalkan. Gedung-gedung pencakar langit berlapis kaca memantulkan cahaya matahari pagi dengan angkuh, menciptakan kilau menyilaukan yang memaksa Aris menyipitkan mata. Di sinilah denyut nadi ekonomi kota berdetak, tempat jutaan manusia bertaruh nasib setiap harinya, bersaing memperebutkan kursi-kursi kekuasaan dan finansial yang kian menyempit. Aris meraba kantong kemejanya, memastikan ponsel pintar berlayar retak miliknya masih tersimpan di sana, siap menerima panggilan atau sekadar menunjukkan surel undangan wawancara dari PT Cipta Rekayasa Mandiri, sebuah perusahaan konsultan teknik sipil menengah yang menjadi mercusuar harapannya hari ini.

❖ ❖ ❖

Langkah kaki Aris terasa semakin berat ketika ia berdiri di depan pintu lobi utama gedung bertingkat dua puluh lima itu. Satpam berbadan tegap dengan seragam kelabu menatapnya dari balik meja resepsionis, mengamati penampilannya dari ujung rambut hingga ujung sepatu sebelum akhirnya mengangguk mempersilakan masuk setelah Aris menunjukkan kartu identitas dan surel undangan digital di layar ponselnya. Bau karpet mewah dan pendingin ruangan yang menyengat langsung menyambut begitu ia melintasi pintu otomatis. Suasana di dalam lobi begitu tenang, jauh dari hiruk-pikuk jalanan di luar. Para pekerja kantoran berlalu-lalang dengan langkah cepat, mengenakan pakaian bermerek dan membawa cangkir kopi kertas dari kedai waralaba ternama. Di antara mereka, Aris merasa seperti sebuah jangkar berkarat yang tersesat di tengah armada kapal pesiar mewah.

"Lantai empat belas, ruang tunggu kandidat divisi pengawasan proyek," kata petugas resepsionis wanita berwajah ramah setelah mencetak kartu tamu visitor berwarna merah.

Di dalam lift yang melesat naik dengan kecepatan tinggi, telinga Aris berdengung akibat perubahan tekanan udara. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan debar jantungnya yang kini bergemuruh hebat di balik rongga dada. Tujuan utamanya hari ini sangat jelas: meyakinkan tim panelis bahwa pengalaman delapan tahun sebagai pengawas lapangan di perusahaan konstruksi lama jauh lebih berharga daripada ijazah dari universitas bergengsi yang tidak ia miliki. Ia ingin posisi sebagai Senior Site Supervisor, sebuah jabatan yang tidak hanya menawarkan gaji memadai untuk melunasi tunggakan sekolah anaknya, tetapi juga mengembalikan martabatnya sebagai pencari nafkah utama di dalam rumah tangga.

Pintu lift terbuka berdenting lembut di lantai empat belas. Aris keluar dan langsung mendapati sebuah ruangan luas dengan dinding kaca tembus pandang yang menghadap langsung ke panorama kota. Di ruangan tersebut, sudah duduk belasan kandidat lain yang tampak jauh lebih muda, mengenakan jas bermerek dengan potongan modern, dan sibuk menatap layar laptop masing-masing sambil melafalkan catatan kecil. Aris melangkah kaku, mencari kursi kosong di sudut ruangan, lalu duduk dengan punggung tegak, menempatkan amplop cokelat di atas pangkuannya dengan kedua tangan menggenggam erat permukaannya.

"Nomor urut empat belas, atas nama Aris Setiawan, silakan memasuki ruang wawancara tiga di ujung koridor sebelah kanan," suara seorang staf HRD wanita yang mengenakan blazer navy membuyarkan lamunannya.

Aris berdiri seketika, mengangguk sopan kepada staf tersebut, lalu melangkah menyusuri koridor berkarat abu-abu gelap. Setiap langkah kakinya terasa beresonansi di dalam kepalanya, mengingatkannya pada taruhan besar yang sedang ia ambil hari ini. Ini bukan sekadar wawancara kerja biasa; ini adalah gerbang pertama untuk membuktikan bahwa di usia tiga puluhan akhir, hidupnya belum tamat. Ia memegang kendali atas narasi masa depannya sendiri, dan ia tidak akan membiarkan rasa minder meruntuhkan tujuan utamanya untuk kembali berdiri tegak di dunia profesional.

❖ ❖ ❖

Ruangan wawancara tiga berukuran sedang, diterangi lampu LED putih terang yang menyorot langsung ke arah meja bundar tempat dua orang panelis duduk menantinya. Di sebelah kiri duduk seorang pria paruh baya berkacamata tebal dengan rambut mulai memutih di pelipis—belakangan ia ketahui bernama Pak Hendra, Direktur Operasional—sementara di sebelah kanan duduk seorang wanita muda berwajah tegas dengan setelan formal berwarna abu-abu, Mbak Maya, Kepala Divisi SDM.

"Silakan duduk, Pak Aris," ucap Pak Hendra tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas riwayat hidup yang terbentang di atas meja.

"Terima kasih, Pak, Bu," jawab Aris dengan suara yang sedikit bergetar di awal sebelum ia berhasil mengendalikannya agar terdengar stabil dan jelas.

"Saya membaca riwayat pekerjaan Anda di PT Buanajaya Konstruksi," ujar Mbak Maya membuka percakapan sambil menatap lurus ke mata Aris. "Pengalaman delapan tahun menangani proyek infrastruktur skala menengah tentu bukan waktu yang singkat. Namun, saya ingin tahu, mengapa perusahaan sebesar itu bisa kolaps dan apa yang membuat Anda yakin bisa langsung beradaptasi dengan ritme kerja kami yang serbacepat?"

Pertanyaan itu meluncur tajam, seperti pisau bedah yang langsung mengiris inti permasalahan paling sensitif bagi Aris. Ia menarik napas dalam, meresapi setiap kata yang hendak ia ucapkan agar tidak terdengar emosional ataupun menyalahkan keadaan.

"Terima kasih atas pertanyaannya, Bu Maya," jawab Aris dengan nada tenang, menatap kedua panelis secara bergantian. "Kejatuhan PT Buanajaya Konstruksi adalah buah dari salah urus manajemen puncak dalam pengelolaan arus kas, sesuatu yang berada di luar kendali para pekerja lapangan seperti saya. Namun, justru dari keterpurukan itulah saya belajar arti ketahanan operasional yang sebenarnya. Selama delapan tahun di sana, saya tidak hanya mengawasi pembangunan fisik struktur beton, tetapi juga memimpin koordinasi harian antara subkontraktor, buruh kasar, dan konsultan perencana di bawah tekanan tenggat waktu yang ketat. Ritme kerja cepat bukanlah hal baru bagi saya; itu adalah habitat harian saya di lapangan."

Pak Hendra mengangguk perlahan, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja secara berirama. "Bagus. Anda paham betul teori lapangan. Tapi bagaimana jika Anda dihadapkan pada situasi di mana material konstruksi terlambat datang sementara klien menuntut percepatan progres mingguan? Apa tindakan konkret Anda?"

Lihat selengkapnya