Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #61

Promosi jabatan di tempat kerja

Cahaya matahari pagi memantul menyilaukan pada dinding kaca gedung pencakar langit di kawasan segitiga emas Jakarta, menyoroti papan nama baru yang terpampang elegan di depan ruangan direksi. Arya berdiri di hadapan meja kerjanya yang kini jauh lebih luas, dikelilingi oleh setumpuk dokumen strategi kampanye visual dan laporan anggaran kuartal terbaru yang menuntut perhatian penuh. Telepon di atas mejanya berdering tanpa jeda, sementara asisten barunya mengetuk pintu kaca untuk menyampaikan jadwal rapat darurat dengan jajaran petinggi eksekutif. Promosi resmi sebagai Head of Creative Director yang diterimanya minggu ini telah mengubah total ritme hidup lelaki itu, menyeretnya masuk ke dalam pusaran tanggung jawab manajerial yang jauh lebih berat dan menyita waktu.

Pengenalan latar ruang kerja yang eksklusif dan serba cepat itu menandai babak baru dalam karier Arya di ibu kota, di mana setiap keputusan yang ia ambil kini memikul beban operasional seluruh divisi agensi. Setelah bertahun-tahun berjuang merangkak dari bawah pasca pelariannya dari desa, kesuksesan korporat ini datang membawa konsekuensi logis: waktu pribadinya perlahan-lahan tergerus oleh target perusahaan yang semakin ambisius.

❖ ❖ ❖

Tujuan Arya menerima promosi jabatan tinggi tersebut bukan sekadar mengejar gengsi atau kenaikan materi, melainkan memastikan keamanan finansial jangka panjang bagi rumah tangganya bersama Nurhayati di tengah kejamnya biaya hidup metropolit. Di balik tumpukan dokumen dan jadwal rapat yang padat, ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri di puncak rantai profesional tanpa harus mengorbankan integritas artistik yang selama ini ia bangun.

"Maaf ya, Nur, sepertinya malam ini aku harus lembur lagi," ujar Arya melalui sambungan telepon singkat kepada istrinya di sela-sela kesibukan meninjau draf desain akhir. "Ada revisi besar dari klien korporat yang harus diselesaikan sebelum rapat pleno besok pagi."

Tujuan hidup yang dulunya berpusat pada pertahanan diri dari teror masa lalu kini sepenuhnya bermetamorfosis menjadi dedikasi total terhadap tanggung jawab profesional, membuat hari-hari Arya habis di antara ruang rapat kedap suara dan layar monitor komputer.

❖ ❖ ❖

Transisi dari seorang perancang visual independen yang bebas mengatur waktu harian menjadi seorang eksekutif puncak yang terikat target korporat menyuguhkan perubahan gaya hidup yang melelahkan bagi fisik dan mental Arya. Jam pulangnya yang dulu bisa diprediksi kini bergeser menjadi pukul sepuluh malam atau bahkan menjelang tengah malam, sementara akhir pekannya sering kali habis untuk jamuan makan malam bisnis bersama klien-klien strategis.

Transisi psikologis itu membuat Arya merasakan jarak emosional yang halus mulai terbentuk di dalam apartemen mereka. Nurhayati, yang kini juga disibukkan dengan persiapan pameran seni tunggalnya sendiri di galeri Menteng, sering kali mendapati dirinya menghabiskan malam-malam sepi seorang diri di ruang keluarga apartemen. Kesibukan ganda di antara dua kepala keluarga ini mengubah dinamika rumah tangga mereka dari yang tadinya selalu melekat erat menjadi dua individu sibuk yang berkejaran dengan ambisi masing-masing.

Setiap kali Arya melangkah masuk ke apartemen dengan langkah gontai di larut malam, transisi kelelahan fisik itu langsung merayap menembus tulang belulangnya, menyisakan sedikit sekali ruang untuk sekadar berbuka rindu dengan sang istri.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya