Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #63

Perbandingan antara bayangan Nurhayati

Lampu neon kuning remang-remang di sudut kedai kopi sederhana pinggir dermaga memantulkan bayangan panjang di atas meja kayu yang permukaannya sudah terkelupas dimakan usia. Di seberang meja, Kinanti menuangkan air panas dari teko alumunium tua ke dalam dua cangkir seng beralas piring kecil, uap putih mengepul tipis membawa aroma kopi robusta lokal yang pekat dan menyengat. Perempuan itu mengenakan kaus katun polos berwarna hijau lumut dengan rambut hitam ikal sebahu yang diikat asal menggunakan jepit plastik hitam. Tidak ada pulasan gincu merah yang mencolok, tidak ada perhiasan emas mewah yang melingkar di jemarinya, dan tidak ada wangi parfum mahal yang menguar dari tubuhnya—hanya bau sabun mandi murah bercampur aroma khas biji kopi sangrai yang menjadi ciri kesehariannya bekerja sebagai pengelola kedai.

Arga duduk terpaku, menatap lurus ke arah Kinanti yang tengah tersenyum ramah sambil mendorong salah satu cangkir seng tersebut mendekat ke hadapannya. Di dalam kepala Arga, bayangan Nurhayati tiba-tiba menyeruak begitu kuat, menciptakan kontras yang menyiksa dan sulit diabaikan. Nurhayati selalu lekat dengan kelembutan kain tenun dusun, selendang rajut biru tua yang memeluk pundaknya, serta sorot mata sayu yang penuh dengan kerentanan batin seolah butuh selalu dilindungi dari kerasnya dunia. Nurhayati adalah lukisan cat air yang rapuh, penuh dengan nuansa duka, rahasia besar tentang surat perlindungan saksi, dan air mata yang menggenang di balik senyuman tersembunyi. Sebaliknya, Kinanti adalah pahatan kayu jati tua yang keras, mandiri, tidak punya waktu untuk bersedih berlebihan, dan terbiasa membanting tulang seorang diri menghadapi kasarnya hidup di kawasan pelabuhan tanpa pernah berharap dikasihani oleh siapa pun.

"Minum kopinya, Mas. Masih panas, sengaja kubuat sedikit lebih kental supaya matanya melek setelah lembur semalam di bongkar muat," ucap Kinanti dengan nada suara serak-serak basah khas pekerja lapangan, suaranya terdengar membumi tanpa ada intonasi dibuat-buat.

Arga mengangguk pelan, mengucapkan terima kasih dengan suara tertahan, lalu meraih gagang cangkir seng tersebut. Sentuhan jemari Kinanti yang kasar dan dipenuhi bekas luka kecil akibat goresan peti kemas sempat bersentuhan sekilas dengan tangannya. Perbedaan itu terasa begitu nyata di kulit. Jemari Nurhayati begitu halus, terawat, dan selalu mencerminkan keanggunan seorang gadis desa yang terjebak dalam pusaran intrik korporat. Namun di balik kehalusan Nurhayati tersimpan rahasia besar dan keputusan sepihak yang hampir meremukkan jiwa Arga, sementara di balik kekasaran jemari Kinanti tersimpan sebuah kejujuran mutlak yang tidak pernah menuntut apa pun selain ketulusan kerja sama sebagai sesama manusia yang sama-sama pernah diinjak oleh keadaan.

Suasana kedai kopi yang sepi di bawah langit malam pelabuhan itu memaksa Arga untuk melakukan perbandingan batin yang tidak ada habisnya. Nurhayati adalah masa lalu yang penuh dengan luka pengorbanan palsu demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran—sebuah drama perlindungan saksi yang baru disadari Arga setelah ia hampir kehilangan kewarasannya. Sedangkan Kinanti adalah realitas detik ini, seorang perempuan yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi tingkat tinggi, tidak punya urusan dengan sindikat korupsi, dan hanya peduli pada bagaimana caranya bertahan hidup secara halal dari hari ke hari di kota pelabuhan yang kejam ini.

❖ ❖ ❖

Tujuan batin Arga berada di hadapan Kinanti malam ini bukanlah untuk mencari pengganti cinta masa lalu atau merajut romansa pelarian yang semu, melainkan sebuah kebutuhan mendesak untuk menemukan jangkar realitas di tengah gelombang kebingungan identitas yang melanda jiwanya. Setelah kebenaran tentang kepalsuan surat pernikahan Nurhayati terungkap lewat pengacara misterius beberapa waktu lalu, Arga merasa dunianya jungkir balik; ia tidak lagi tahu mana yang benar dan mana yang dusta. Goal yang ia tetapkan saat menerima tawaran duduk bersama Kinanti di kedai kopi ini adalah menyentuh kembali permukaan bumi yang nyata, menjauhkan diri sejenak dari bayang-bayang hantu masa lalu yang terus menghantuinya setiap kali ia menutup mata di kamar losmen sempit.

"Kamu kelihatan banyak pikiran dari kemarin, Mas. Kalau capek, jangan dipaksakan kerja angkut barang di dermaga terus. Badan manusia bukan besi," tegur Kinanti blak-blakan, menatap tajam ke dalam mata Arga tanpa rasa sungkan sedikit pun, seolah ia bisa membaca badai yang sedang berkecamuk di kepala pria itu.

Arga tersenyum pahit, meneguk kopinya yang terasa pahit namun menyegarkan tenggorokan. "Bukan capek fisik, Kinanti. Aku cuma sedang merasa... tersesat di antara masa lalu yang belum selesai dan masa depan yang tidak punya bentuk."

Kinanti meletakkan kain lap basah di atas meja, lalu melipat kedua tangannya di dada sambil menyandarkan punggungnya ke dinding kayu kedai. "Masa lalu itu cuma tempat belajar, Mas, bukan tempat tinggal. Kalau kamu terus-menerus membawa beban bayangan orang yang sudah pergi atau orang yang sengaja menjauh darimu, kakimu sendiri yang akan kelelahan melangkah ke depan."

Kata-kata sederhana itu meluncur begitu saja dari bibir Kinanti tanpa ada maksud menceramahi, namun telak menghujam ulu hati Arga. Perbandingan itu semakin tajam; Nurhayati berbicara dengan isyarat, air mata, dan kode-kode perlindungan yang menyiksa batin, sementara Kinanti berbicara dengan bahasa kepahitan hidup yang telanjang dan apa adanya. Tidak ada kepura-puraan di dalam diri Kinanti, tidak ada rahasia besar yang disembunyikan di balik senyuman, dan itu justru menjadi obat penenang yang paling mujarab bagi saraf-saraf Arga yang selama ini tegang akibat penipuan emosional.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya