Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #69

Ketakutan dan debaran jantung

Mentari pagi di tanah Sumatra merayap lambat di balik jajaran bukit barisan, menyapukan bias jingga kemerahan ke atas permukaan Danau Ranau yang tenang. Udara dingin pegunungan menyergap pori-pori kulit Aris seketika ia melangkah turun dari bus antar-provinsi yang membawanya setelah perjalanan malam yang melelahkan. Bau tanah basah, embun pagi, dan aroma khas pepohonan pinus langsung membangkitkan memori masa kecil yang sudah bertahun-tahun terkubur rapat di dalam sanubarinya. Di sekelilingnya, hiruk-pikuk terminal kecil di kaki bukit mulai menggeliat; para pedagang keliling, suara mesin kendaraan umum yang batuk-batuk, dan deru angin lembah yang menderu pelan. Aris berdiri terpaku di tepi jalan berbatu, mencengkeram erat tali ransel usang di bahunya dengan kedua tangan yang mendadak terasa dingin. Kaki yang mengenakan sepatu bot berdebu itu terasa berat, seolah tertanam di dalam tanah, menolak untuk bergerak maju ke arah jalan setapak yang mengarah langsung ke kampung halaman tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.

"Kau yakin mau turun di sini, Nak? Masih ada waktu kalau mau lanjut sampai ke kota kabupaten," tanya kondektor bus berwajah ramah sambil melambaikan tangan dari pintu kendaraan yang bersiap tancap gas kembali.

Aris tersenyum kaku, menggeleng pelan sambil menelan ludahnya yang terasa kelu. "Tidak, Pak. Terima kasih. Saya memang punya urusan yang harus diselesaikan di desa ini."

"Baiklah, hati-hati di jalan. Kampung ini tidak banyak berubah, tapi orang-orangnya kadang suka punya ingatan yang panjang," pesan sang kondektor sebelum bus tua itu melesat meninggalkan kepulan asap hitam tipis di udara pagi.

Kini Aris benar-benar sendirian. Jalanan setapak berbatu kerikil yang membentang di hadapannya tampak sunyi, diapit oleh kebun kopi milik warga yang daunnya basah oleh tetesan embun. Setiap langkah yang ia ayunkan terasa seperti menapaki kembali lembaran-lembaran masa lalu yang dipenuhi luka, cemoohan, dan rasa malu yang membuatnya memilih pergi meninggalkan tanah kelahiran ini delapan tahun silam. Hari ini, ia terpaksa kembali bukan sebagai anak rantau yang pulang membawa kesuksesan gemilang, melainkan sebagai seorang lelaki dewasa yang datang untuk memenuhi panggilan wasiat terakhir mendiang ayah Maya—sebuah urusan administratif dan moral yang menuntut keberanian mutlak untuk menghadapi bayang-bayang masa lalunya sendiri.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Aris menginjakkan kembali kaki di tanah kelahiran ini sangat spesifik dan tidak bisa ditawar lagi: menyelesaikan seluruh sisa urusan warisan dan dokumen tanah ulayat keluarga secara bersih di hadapan notaris adat, lalu segera pergi meninggalkan tempat ini sebelum matahari tenggelam di ufuk barat. Ia tidak berniat mencari simpati, tidak ingin membuka kembali lembaran kisah cinta masa lalu yang telah lama hancur berkeping-keping, dan sama sekali tidak mengharapkan sambutan hangat dari warga desa yang dulu pernah menatapnya dengan sebelah mata ketika hari pernikahannya gagal total. Di dalam saku jaket kulitnya, tersimpan rapi amplop cokelat berisi surat kuasa resmi dan salinan akta waris yang dikirimkan oleh pengacara keluarga mendiang ayah Maya beberapa hari lalu di Banten.

"Aku hanya datang untuk menuntaskan ini, lalu pulang kembali ke pelukanku yang aman di Cilegon," bisik Aris pada angin pagi yang berhembus kencang, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya kembali ke Sumatra adalah langkah yang benar.

Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang kian menanjak, melewati deretan rumah panggung kayu khas arsitektur lokal yang sebagian besar masih tertutup rapat pintunya. Di kejauhan, permukaan Danau Ranau berkilau diterpa cahaya matahari pagi, memantulkan warna biru jernih yang kontras dengan dinding perbukitan hijau di sekelilingnya. Pemandangan itu dulu adalah tempat favoritnya menghabiskan sore hari bersama mimpi-mimpi masa muda yang sederhana. Namun kini, keindahan alam tersebut justru terasa seperti sebuah panggung teater kosong yang menyimpan memori tentang hari paling memalukan dalam hidupnya—hari di mana ia berdiri seorang diri di depan pelaminan tanpa pengantin perempuan, disaksikan oleh seluruh tetangga dan kerabat yang berbisik-bisik menghakimi.

"Aris? Ya ampun, ini benar-benar kamu, Aris Pratama?" suara seorang perempuan paruh baya yang membawa bakul sayur mendadak memecah lamunannya dari arah berlawanan.

Aris tertegun, menghentikan langkahnya dan mendapati Mak Inah—tetangga lama ibunya—berdiri menatapnya dengan mata terbelalak tak percaya, seolah-olah ia sedang melihat hantu yang bangkit dari kubur. Jantung Aris langsung berdegup kencang, memompa darah dengan kecepatan dua kali lipat, sementara telinganya mendadak berdenging keras menahan gelombang kecemasan yang tiba-tiba menyerang sekujur tubuhnya.

❖ ❖ ❖

Transisi dari ketenangan semu perjalanan bus menuju kenyataan pahit berhadapan langsung dengan ingatan warga desa terjadi begitu cepat dan menohok. Mak Inah melangkah mendekat, meletakkan bakul sayurnya di atas batu besar pinggir jalan, lalu menatap Aris dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan penuh selidik yang sarat akan sisa-sisa gosip masa lalu. Bagi Aris, detik-detik transisi ini terasa seperti merayap melewati lorong waktu yang gelap, di mana setiap detik membawa ancaman terbuka berupa pertanyaan-pertanyaan menyakitkan yang belum tentu sanggup ia jawab dengan kepala tegak.

"Kemana saja kamu selama bertahun-tahun ini, Nak? Ibumu dulu, kasihan sekali, jatuh sakit menanggung malu setelah kejadian itu, sampai akhirnya beliau berpulang tanpa sempat melihat anaknya pulang," ucap Mak Inah dengan nada suara yang bercampur antara rasa iba dan teguran halus khas orang desa.

Lihat selengkapnya