Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #72

Pertemuan tidak sengaja dari kejauhan

Matahari pagi di ibu kota memantulkan bias cahaya keemasan dari dinding-dinding kaca pencakar langit di kawasan distrik bisnis utama, menyapukan kehangatan ke dalam ruang kerja divisi editorial tempat Raden Bagaswara kini memegang peranan penting sebagai editor senior terkemuka. Di atas meja kerjanya yang tertata rapi di sebelah tumpukan naskah buku terbaru, secangkir kopi hitam mengepulkan aroma harum yang menemani awal hari kerjanya yang padat namun terstruktur dengan sangat baik. Waktu menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh lima menit pagi, saat kesibukan para staf kantor mulai menggeliat diiringi dering telepon, suara ketukan kibor komputer, dan percakapan ringan antarkolega yang berseliweran di koridor. Sejak buku memoar tentang perjuangan masyarakat adat dan kenangan mendalam tentang masa lalunya diterbitkan serta mendulang kesuksesan besar secara nasional, nama Bagas tidak lagi hanya dikenal sebagai seorang penulis produktif yang tajam dalam menuangkan pemikiran sosial, tetapi juga sebagai sosok lelaki berkarisma yang memancarkan ketenangan batin luar biasa. Di balik sorot matanya yang tenang dan profesionalismenya yang tinggi dalam menangani setiap proyek penerbitan buku-buku berskala besar, tersimpan sisa-sisa kedewasaan batin yang terbentuk dari tempaan badai masa lalu yang begitu berat. Bagas merapikan beberapa lembar naskah koreksi di tangannya, menikmati keheningan kecil di ruang kerjanya sebelum rentetan jadwal rapat editorial dimulai menjelang siang hari nanti.

"Pagi, Mas Bagas," sapa sebuah suara lembut bernada ramah yang mendadak membuyarkan konsentrasi Bagas dari tumpukan draf naskah di hadapannya.

Bagas mendongak perlahan, mendapati Kirana—rekan kerjanya yang kini telah menjadi mitra terdekat dalam hidup dan kariernya—berdiri di dekat meja kerjanya sambil membawa segepok berkas laporan bulanan divisi pemasaran. Perempuan berpenampilan profesional mengenakan blazer abu-abu muda itu tersenyum manis, memancarkan energi positif yang selalu berhasil mencairkan suasana kaku di pagi hari.

"Pagi juga, Kirana," balas Bagas tersenyum hangat menyambut kedatangan perempuan tersebut. "Ada laporan evaluasi penting yang perlu saya tinjau ulang sebelum rapat dimulai pukul sepuluh nanti?"

Kirana mengangguk, meletakkan berkas tersebut dengan rapi di atas meja kerja Bagas tanpa terburu-buru. "Semuanya sudah saya rangkum di bagian lampiran utama, Mas. Omong-omong, jadwal kunjungan kerja kita ke pameran buku independen di wilayah Jawa bagian barat telah disetujui oleh pihak direksi untuk akhir pekan depan."

Bagas menghela napas ringan, menyandarkan punggungnya pada kursi kerja yang empuk. "Itu kabar baik. Artinya kita harus menyiapkan materi presentasi tentang buku antologi pedesaan kita jauh-jauh hari agar persiapannya benar-benar matang."

"Tentu saja, saya sudah mulai menyusun draf materinya sejak kemarin malam," jawab Kirana dengan mata berbinar penuh antusiasme profesional. "Saya yakin para peserta pameran akan sangat tertarik dengan sudut pandang sosiologis yang kita tawarkan mengenai dinamika masyarakat adat."

Percakapan singkat yang mengalir secara profesional namun hangat itu menunjukkan betapa jauh Bagas telah melangkah dalam menata kembali lembaran hidupnya di tengah hiruk-pikuk kota besar. Suasana pagi yang damai di kantor tersebut seolah menjadi kontras yang sempurna dengan bayang-bayang pedesaan masa lalu yang pernah mencengkeram jiwanya begitu kuat, menandakan bahwa siklus pemulihan batinnya telah mencapai fase kestabilan yang paling ideal dan menenangkan.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Bagas melangkah keluar dari kantor penerbitan menjelang akhir pekan tersebut bukanlah sekadar menghadiri urusan bisnis rutin, melainkan memenuhi undangan sebagai pembicara tamu dalam sebuah forum diskusi kebudayaan dan agraria di sebuah universitas negeri di luar kota. Di dalam mobil sedan hitam yang dikemudikannya sendiri dengan Kirana duduk di kursi penumpangnya, Bagas merenungkan betapa perjalanan hidupnya telah berputar ke arah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya—dari seorang buronan dokumen adat yang bersembunyi di bilik bambu pedalaman, hingga menjadi narasumber terpandang yang menginspirasi generasi muda perkotaan.

"Kau tampak begitu tenang hari ini, Bagas," ucap Kirana memecah keheningan di dalam kabin mobil sambil merapikan catatan kecil di atas pangkuannya. "Apakah perjalanan ke tanah priangan kali ini membangkitkan banyak kenangan lama di benakmu?"

Bagas menoleh sekilas, tersenyum tipis menanggapi pertanyaan penuh perhatian dari kekasih hatinya itu. "Sedikit banyak pasti ada, Kirana. Tanah di wilayah barat selalu menyimpan aroma tanah basah dan desau angin bukit yang mengingatkanku pada hari-hari terberat sekaligus paling jujur dalam hidupku."

Tujuan hidup Bagas kini telah sepenuhnya berakar pada dedikasi sosial, penyusunan literasi keadilan, dan komitmen untuk terus merawat nilai-nilai kemanusiaan yang dulu diperjuangkan bersama orang-orang tercinta di masa lalu. Ia tidak lagi lari dari bayang-bayang masa lalunya; sebaliknya, ia membawa kenangan tersebut sebagai kompas moral yang menuntun setiap langkah profesional maupun pribadinya ke arah yang benar.

"Aku justru merasa bangga bisa mendampingimu kembali ke tanah pasundan ini, Mas," lanjut Kirana tulus sambil menatap profil samping suaminya dengan sorot mata penuh kekaguman. "Masa lalumu bukanlah beban, melainkan akar kokoh yang membuat pohon kehidupanmu tumbuh begitu rindang seperti sekarang."

Bagas mengangguk pelan, meresapi setiap kata yang diucapkan Kirana dengan rasa syukur yang teramat dalam. Setibanya mereka di kota tujuan yang berhawa sejuk, rangkaian acara diskusi di aula kampus berjalan dengan sangat lancar dan sukses besar, dihadiri oleh ratusan mahasiswa serta akademisi yang antusias mendengarkan pemaparan Bagas mengenai pentingnya menjaga kedaulatan tanah ulayat dan kearifan lokal masyarakat perdesaan. Tujuan mulia untuk menyuarakan kebenaran sosial melalui jalur intelektual berhasil ia tunaikan dengan gemilang, menutup rangkaian acara sore itu dengan tepuk tangan meriah yang menggema di seluruh penjuru aula universitas.

Lihat selengkapnya