
Udara sore Kota Bandar Lampung terasa begitu padat, mengepulkan debu jalanan bercampur aroma asap kendaraan yang merayap lambat di sepanjang Jalan Wolter Monginsidi. Di bawah naungan langit senja yang mulai menyaput jingga di ufuk barat, lalu-lalang manusia bergerak bagai gelombang tanpa henti di trotoar yang basah oleh sisa gerimis siang tadi. Di sudut pelataran sebuah kedai kopi bergaya modern yang berdindingkan kaca besar, Arga duduk bersidekap, mengenakan setelan jas abu-abu arang yang tampak begitu kontras dengan keriuhan kawasan komersial tersebut. Di hadapannya, secangkir espresso mengepulkan uap tipis yang perlahan buyar dihempas angin AC luar ruangan. Matanya menatap lurus ke arah jalan raya, memindai setiap kendaraan yang melintas dengan ketajaman seorang pengamat yang tidak ingin melewatkan satu detail pun dari lanskap kota kelahirannya setelah bertahun-tahun pergi meninggalkan luka.
"Pesanannya sudah lengkap, Pak Arga? Atau mau ditambah makanan ringan sebelum rapat malam nanti dengan perwakilan asosiasi logistik?" tanya Rian, asisten pribadi sekaligus tangan kanan kepercayaannya di perusahaan, yang duduk di kursi seberang sambil merapikan setumpuk berkas laporan audit di atas meja.
Arga menggeleng pelan, pandangannya masih terpaku ke luar jendela kaca. "Cukup kopi ini saja, Rian. Pastikan dokumen investigasi keuangan yang kita minta dari Jakarta sudah masuk ke tablet sebelum jam tujuh malam. Kita tidak punya banyak waktu untuk bermain-main dengan birokrasi lokal yang suka mengulur waktu."
"Baik, Pak. Semua dokumen sudah saya sinkronkan dengan server pusat. Tinggal menunggu konfirmasi dari tim lapangan mengenai pergerakan orang-orang yang kita curigai memantau hotel sejak kemarin," jawab Rian tegas, kembali fokus menatap layar gawai di tangannya.
Suasana di sekitar kedai itu perlahan meredup seiring matahari yang mulai tenggelam di balik gugusan bukit barisan, menyisakan keremangan senja yang dihiasi kerlip lampu neon dari gedung-gedung pertokoan di seberang jalan. Bagi Arga, kembalinya ia ke tanah Sumatra bukan sekadar urusan ekspansi bisnis atau meresmikan kerja sama pelabuhan bernilai ratusan miliar rupiah. Di balik topeng eksekutif muda yang sukses dan berwibawa, tersimpan bara dendam kesumat serta tanda tanya besar yang belum terjawab mengenai misteri keberadaan Nurhayati—wanita yang selama ini diyakininya telah tewas dalam tragedi kebakaran, namun tiba-tiba muncul kembali dalam bentuk peringatan-peringatan misterius dan panggilan telepon putus asa yang mengguncang jiwanya beberapa waktu lalu.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama dari keberadaan Arga di kota ini sangatlah spesifik dan tidak bisa ditawar lagi: membongkar tuntas sindikat korporasi gelap yang selama bertahun-tahun melindungi para mafia logistik lintas provinsi, sekaligus mencari kebenaran mutlak di balik konspirasi yang hampir merenggut nyawanya dan Nurhayati. Goal utamanya bukanlah sekadar meraih keuntungan finansial atau jabatan prestisius di pucuk pimpinan korporat, melainkan meruntuhkan imperium bisnis haram milik Komisaris Tua dan rekan-rekan sekomplotannya yang dulu pernah merusak hidupnya di ibu kota dan dusun terpencil. Setiap langkah bisnis yang ia ambil di Sumatra dirancang sedemikian rupa sebagai jebakan terstruktur untuk memaksa para pelaku utama keluar dari sarang persembunyian mereka, menyeret borok masa lalu ke hadapan hukum tanpa ampun.
"Apakah Anda yakin orang-orang itu akan datang ke jamuan makan malam asosiasi nanti malam, Pak?" tanya Rian memecah keheningan, menatap atasannya dengan sorot mata penuh pertimbangan. "Mereka bukan tipe orang yang mudah diajak berunding di atas meja resmi."
Arga mengalihkan pandangannya dari jendela, menatap Rian dengan senyuman dingin yang tidak menyentuh matanya. "Mereka pasti datang, Rian. Karena mereka merasa terancam oleh audit keuangan yang kita pegang. Orang-orang serakah seperti mereka tidak akan pernah bisa diam ketika melihat singgasana kekuasaan mereka mulai digoyang dari dalam."
"Baiklah, kalau begitu saya akan memperketat pengamanan di sekitar venue acara nanti malam. Kita tidak boleh kecolongan oleh ancaman sekecil apa pun," ujar Rian sambil menutup berkasnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas kerja kulit.
Tujuan besar itu bertindak sebagai kompas yang mengarahkan setiap detak jantung Arga di tanah kelahirannya sendiri. Ia tidak lagi memikirkan rasa takut, keraguan, atau sisa-sisa kesedihan masa lalu; yang ada di dalam kepalanya hanyalah eksekusi rencana yang dingin, terukur, dan mematikan bagi musuh-musuhnya. Ia ingin memastikan bahwa siapa pun yang pernah mencoba menghancurkan hidupnya harus membayar harga yang setimpal, hingga ke akar-akarnya.