Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #74

Realisasi bahwa waktu tidak bisa diputar ulang

Langkah kaki Rian terasa begitu berat, menghantam permukaan tanah berbatu di pintu gerbang desa kelahirannya dengan irama yang bergemuruh sama hebatnya dengan degup di dalam dadanya. Setelah bertahun-tahun merantau, tenggelam dalam debu kota industri dan berjuang merajut kembali serpihan hatinya yang hancur bersama Sinta di sisinya, kini takdir membawanya pulang untuk pertama kalinya. Setiap jengkal sudut jalan setapak yang ia lewati mendadak terasa asing sekaligus terlalu akrab, memantik kembali memori lama yang selama ini ia kubur rapat-rapat di balik kesibukan hari-hari di tanah rantau.

Udara pagi desa yang berbau tanah basah dan jerami kering meresap ke dalam rongga dadanya, membawa serta gelombang kecemasan yang tiba-tiba mencengkeram. Rian meremas tali ransel usang di pundaknya dengan jemari yang basah oleh keringat dingin. Ketakutan itu bukan lagi tentang bagaimana ia bertahan hidup, melainkan debaran asing yang menyergap sekujur tubuhnya saat menyadari bahwa ia kini berada hanya beberapa langkah saja dari bayang-bayang masa lalu yang paling ia hindari—tempat di mana Nurhayati, perempuan yang pernah menjadi semesta sekaligus sumber luka terdalamnya, masih tinggal dan menjalani hari-hari sebagai istri lelaki lain.

Sambil menarik napas dalam-dalam untuk meredakan gemetar di lututnya, Rian meneguhkan tekad untuk melangkah maju, membuktikan pada dirinya sendiri bahwa kepulangannya kali ini adalah tanda kemenangan atas trauma, bukan awal dari kejatuhan yang kedua kalinya. Mentari pagi perlahan merayap naik dari balik barisan bukit hijau, menyaput atap-atap rumah warga desa yang sebagian besar masih terbuat dari seng tua dan kayu berukir sederhana. Suara ayam berkokok bersahutan dengan derit roda gerobak sapi milik Pak Tua Harun yang melintas pelan di kejauhan, menciptakan simfoni pedesaan yang dulu sangat ia rindukan namun kini terasa begitu menekan dada.

Di sepanjang jalan setapak menuju dusun tempat keluarganya tinggal, beberapa warga yang kebetulan berpapasan menatap Rian dengan pandangan menyelidik. Wajah-wajah familiar itu tampak menua; garis-garis kerut di wajah mereka bertambah seiring berjalannya waktu, menceritakan kisah perjuangan hidup yang tidak mudah di tanah kelahiran.

"Eh, bukankah itu Rian? Anaknya Pak Martono?" bisik seorang ibu paruh baya yang sedang menjunjung keranjang berisi hasil bumi, matanya menyipit mencoba mengenali pemuda yang berdiri kaku di tepi jalan.

Rian hanya bisa melempar senyum tipis yang terasa kaku di bibirnya, menganggukkan kepala sekadarnya untuk membalas sapaan tanpa nama itu. Ia belum siap untuk meladeni pertanyaan-pertanyaan basa-basi tentang kehidupannya di perantauan, tentang mengapa ia baru pulang sekarang, atau lebih buruk lagi, pertanyaan tentang kabar perempuan yang dulu hampir dinikahinya. Kakinya terus melangkah, membawa tubuhnya melewati surau tua tempat ia biasa mengaji semasa anak-anak, melewati lapangan bola berumput liar tempat ia menghabiskan sore hari bersama teman-teman sebayanya. Setiap sudut desa ini menyimpan jejak kenangan, baik kenangan manis yang mengalirkan kehangatan maupun kenangan pahit yang meninggalkan bekas sayatan dalam di lubuk hatinya.

"Kau sudah sampai di mana, Rian?" suara lembut Sinta tiba-tiba terngiang di dalam benaknya, mengalun bagaikan penawar rindu di tengah badai kecemasan yang melanda.

Sebelum berangkat ke kampung halaman, Sinta memang sempat melepas kepergiannya di stasiun kereta kota industri dengan sebuah pelukan singkat dan pesan penuh dukungan. "Hadapi masa lalumu, Rian. Selesaikan apa yang belum selesai di hatimu, agar saat kau kembali, kau benar-benar milikku seutuhnya, tanpa bayang-bayang siapapun."

Kata-kata itu menjadi jangkar penahan bagi kewarasannya di tengah guncangan emosi yang luar biasa hebat ini. Rian menyadari bahwa kepulangannya bukan sekadar memenuhi panggilan rindu orang tua yang mendesaknya untuk melihat kondisi rumah, melainkan sebuah ujian akhir bagi perjalanan mentalnya. Selama ini, ia merasa telah sembuh, telah berhasil membuka hati untuk Sinta, dan telah melupakan derita masa lalu. Namun, menginjakkan kaki kembali di tanah tempat luka itu bermula membuktikan bahwa bayang-bayang tersebut masih memiliki cengkeraman yang kuat pada ingatannya.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama kedatangan Rian ke desa kelahirannya sebenarnya sangat spesifik dan didasari oleh rasa tanggung jawab moral yang mendesak: menghadiri pernikahan adik bungsunya, Maya, satu-satunya anggota keluarga yang selalu membela dan mendukung keputusannya merantau ketika seluruh isi rumah mencemooh keputusannya meninggalkan kampung. Bagi Rian, Maya adalah adik sekaligus sahabat terbaik yang senantiasa mengirimkan kabar lewat surat atau pesan singkat di kala ia terpuruk di kota besar.

Sesampainya di halaman rumah orang tuanya yang sederhana, Rian mendapati suasana sudah begitu riuh dengan kesibukan persiapan hajatan. Tenda terpal biru berukuran besar telah berdiri kokoh menutupi halaman depan, sementara di bagian belakang rumah, aroma bumbu dapur tradisional seperti serai, lengkuas, dan cabai giling menguap tajam ke udara, berpadu dengan suara gelak tawa para tetangga yang gotong royong membantu memasak di dalam kuali-kuali besar.

Ibunya yang keluar dari pintu dapur sambil membawa nampan berisi gelas kosong mendadak terpaku di tempat begitu melihat sosok Rian berdiri di dekat sumur tua. Nampan di tangan sang ibu nyaris terlepas, sementara matanya berkaca-kaca menatap anak lelaki sulungnya yang sudah hampir empat tahun tidak menampakkan batang hidung di rumah.

"Rian... ya Allah, kau benar-benar pulang, Nduk..." gemetar suara ibunya, langsung meletakkan nampan di atas meja terdekat dan berlari kecil menghambur memeluk tubuh Rian.

Rian merasakan kehangatan pelukan seorang ibu yang seketika meruntuhkan seluruh pertahanan dingin yang ia bangun selama di perantauan. Ia membalas pelukan itu erat-erat, membenamkan wajahnya di pundak sang ibu yang kini terasa semakin membungkuk dan rapuh. Di balik rasa rindu yang membuncah, terselip rasa bersalah yang teramat besar karena telah membiarkan orang tuanya menunggu sekian lama dalam kecemasan.

"Maafkan Rian baru bisa pulang sekarang, Mak," bisik Rian lirih, suaranya tercekat di tenggorokan menahan haru.

Tidak lama kemudian, Maya berlari keluar dari dalam rumah begitu mendengar keributan di halaman depan. Wajah adiknya itu tampak berseri-seri dalam balutan pakaian rumahan yang sederhana, namun senyum kebahagiaannya terpancar nyata tanpa bisa disembunyikan. Maya langsung menerjang memeluk Rian begitu ibunya melepaskan dekapan.

"Abang! Aku tahu Abang pasti datang! Kalau Abang sampai tidak datang di hari pernikahanku besok, aku tidak akan pernah memaafkan Abang!" seru Maya riang, meskipun matanya ikut basah oleh air mata kebahagiaan.

Rian tersenyum tulus, mengusap puncak kepala adiknya dengan penuh kasih sayang. "Mana mungkin aku melewatkan hari paling bahagia untuk adikku tersayang. Apapun yang terjadi, aku pasti akan pulang."

Namun, di balik kehangatan penyambutan keluarga tercinta, tujuan batin Rian yang lebih dalam mulai bergejolak ketika ia menyadari bahwa desanya begitu kecil. Ruang gerak di tempat ini sangat terbatas, dan kemungkinan untuk berpapasan dengan Nurhayati bukanlah sebuah probabilitas, melainkan kepastian waktu. Di dalam kamar kecilnya yang tidak banyak berubah sejak ia tinggalkan—dengan poster band rock tahun 2000-an yang masih tertempel miring di dinding bilik bambu—Rian merenungkan kembali tujuannya pulang. Ia datang bukan untuk mencari masalah, bukan pula untuk meratapi sisa penyesalan, melainkan untuk menutup lembaran lama dengan kepala tegak, menunjukkan pada diri sendiri bahwa ia telah bertransformasi menjadi lelaki yang jauh lebih kuat.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya