Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #78

Lamaran sederhana yang diterima

Senja di Kota Bandar Lampung melukiskan gradasi warna lembayung yang hangat di balik cakrawala Teluk Betung, memantulkan bias jingga ke permadani kaca gedung-gedung perkantoran yang mulai sepi. Di sebuah teras rumah petak yang bersih dan dikelilingi pot-pot tanaman hijau di kawasan perbukitan pinggir kota, suasana terasa begitu kontras dibandingkan hiruk-pikuk dunia korporat yang kejam. Angin pegunungan berembus lembut, membawa serta aroma masakan rumahan yang sederhana namun menenangkan. Di atas meja kayu kecil berpelapis taplak kain putih sederhana, dua cangkir teh poci hangat mengepulkan uap tipis, menemani piring kecil berisi pisang goreng buatan tangan yang tersusun rapi. Tidak ada kemewahan lampu kristal, tidak ada iringan musik orkestra, dan tidak ada setelan jas berharga mahal; yang ada hanyalah kejujuran suasana yang memeluk setiap sudut ruangan dengan ketenangan mutlak setelah badai panjang pertikaian hukum dan konspirasi yang hampir merenggut segalanya.

Kinanti duduk di kursi rotan menghadap langsung ke arah Arga, mengenakan baju kurung sederhana berwarna biru muda tanpa pulasan riasan wajah yang berlebihan. Rambut ikalnya disemir rapi ke belakang, memperlihatkan garis wajah alami yang memancarkan keteguhan seorang perempuan tangguh yang terbiasa hidup mandiri di pesisir pelabuhan. Di seberangnya, Arga mengenakan kemeja katun putih lengan panjang yang digulung hingga siku, memperlihatkan guratan luka di pergelangan tangannya yang kini telah mengering menjadi parut masa lalu. Setelah seluruh kebusukan Komisaris Tua terbongkar di hadapan hukum dan identitas asli perlindungan saksi Nurhayati berhasil dipulihkan secara sah, Arga memilih meninggalkan panggung megah korporat ibu kota untuk kembali menata napas di tanah Sumatra ini, menemukan tempat berlabuh yang sesungguhnya di sisi seorang perempuan yang tidak pernah meminta apa pun selain ketulusan.

"Tehnya keburu dingin, Mas. Dimakan dulu pisang gorengnya sebelum malam semakin larut," ucap Kinanti lembut, memecah keheningan senja dengan suara serak-serak basah yang selalu berhasil menenangkan saraf-saraf Arga yang tegang.

Arga tersenyum kecil, meraih cangkir teh hangat tersebut dan menyeruputnya perlahan. Rasanya begitu menenangkan tenggorokan, jauh berbeda dari rasa pahit kopi hitam yang ia teguk di malam-malam penuh pelarian dulu. Ia meletakkan kembali cangkir itu di atas meja, lalu menarik napas dalam-dalam, merasakan detak jantungnya yang berdegup teratur tanpa ada rasa cemas atau bayang-bayang teror yang mengejar. Tatapan matanya lurus menatap perempuan di hadapannya, menyadari bahwa hidup terkadang memang harus dihancurkan berkeping-keping terlebih dahulu agar seseorang bisa menemukan bentuk kebahagiaan yang paling murni dan hakiki.

❖ ❖ ❖

Tujuan hidup Arga kini telah menyusut menjadi sebuah titik fokus yang sangat sederhana namun sakral: membangun sebuah lembaran rumah tangga yang bersih dari intrik, rahasia, dan kepalsuan di atas tanah rantau yang kini resmi menjadi rumah permanen mereka. Setelah ia dan Nurhayati menyelesaikan seluruh proses perceraian damai secara hukum serta memastikan mantan istrinya itu mendapatkan perlindungan penuh bersama keluarga barunya di luar negeri, Arga merasa batinnya telah sepenuhnya merdeka dari belenggu masa lalu. Goal utamanya hari ini bukanlah lagi mengejar jabatan eksekutif tinggi atau menimbun kekayaan material fana, melainkan meminta kesediaan Kinanti untuk merajut sisa hidup bersama, berjalan beriringan menghadapi dunia sebagai satu tim yang saling menguatkan dalam suka maupun duka.

"Kinanti," panggil Arga pelan, suaranya terdengar begitu mantap tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya.

Perempuan itu menghentikan gerakannya, menoleh dengan dahi sedikit mengernyit heran namun sorot matanya menyiratkan kelembutan yang dalam. "Ada apa, Mas? Kenapa mendadak serius begitu?"

Arga merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah kotak kecil sederhana berbahan kayu jati tua berukir halus yang ia buat sendiri di sela-sela kesibukannya merapikan dokumen perusahaan beberapa hari lalu. Ia membukanya perlahan di atas meja, memperlihatkan sebuah cincin perak bermata batu alam lokal yang berkilau lembut di bawah temaram lampu teras. Tidak ada lamaran mewah di restoran bintang lima, tidak ada pertunjukan kembang api, dan tidak ada janji-janji muluk tentang kekayaan; yang ada hanyalah sebuah niat suci yang diserahkan seutuhnya di atas kejujuran hati seorang laki-laki yang telah menemukan rumahnya kembali.

"Aku tidak punya masa lalu yang sempurna, Kinanti. Aku datang kepadamu dengan tangan berdarah, membawa sisa-sisa luka dan cerita pahit yang mungkin tidak mudah untuk diterima," ucap Arga dengan suara tulus yang bergetar halus. "Tapi aku ingin menghabiskan sisa hidupku untuk menjagamu, berjalan bersama di atas tanah ini, dan membangun rumah tangga yang tenang bersamamu. Maukah kamu menjadi istriku?"

❖ ❖ ❖

Transisi dari suasana hening senja menuju detik-detik penantian jawaban lamaran tersebut membawa gelombang ketegangan emosional yang manis di dada Arga. Angin malam perbukitan berembus sedikit lebih kencang, menggoyangkan daun-daun hijau di pot tanaman gantung, sementara detik jam dinding di ruang tamu terdengar begitu jelas berdetak. Kinanti tidak langsung memberikan jawaban; ia menatap kotak kayu jati kecil itu, lalu mengalihkan pandangannya menatap lekat-lekat ke dalam mata Arga, mencari sisa-sisa keraguan atau kepura-puraan di balik sorot mata pria itu.

Lihat selengkapnya