Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #85

Kunjungan keluarga besar ke rumah baru

Mentari pagi di kota Cilegon merayap perlahan melalui celah-celah dedaunan pohon mangga yang rindang di halaman depan sebuah rumah minimalis berpagar kayu jati. Udara pagi terasa segar, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam dan harumnya teh manis melati yang mengepul dari dalam dapur. Di teras depan rumah baru berlantai dua itu, Aris berdiri mengenakan kemeja flanel abu-abu sambil merapikan pot-pot bunga anggrek kesukaan Kirana yang tertata rapi di rak kayu buatan tangannya sendiri. Setiap sudut rumah ini memancarkan jejak kerja keras, keringat, dan ketulusan hidup yang ia bangun dari nol selama bertahun-tahun merantau jauh dari tanah kelahirannya di Sumatra. Hari ini adalah hari yang paling dinanti sekaligus mendebarkan bagi Aris, sebab rumah baru yang ia beli dari hasil jerih payahnya sendiri di bengkel perabot akan kedatangan tamu yang sangat istimewa—keluarga besar dari pihak mendiang ibu angkatnya serta beberapa kerabat jauh yang menyempatkan diri datang dari seberang pulau.

"Aris, apa tehnya sudah disiapkan? Ibu dan bibi sepertinya sebentar lagi sampai, taksi online yang mereka tumpangi sudah masuk ke gerbang kompleks perumahan," panggil Kirana dari dalam rumah, suaranya terdengar lembut di antara deru angin pagi yang menyejukkan.

Aris menoleh ke arah pintu utama, tersenyum lebar sambil menyahut, "Sudah beres semua, Kirana. Kamu tidak usah terlalu repot, biar aku saja yang menyambut mereka di depan."

Tidak lama berselang, sebuah mobil MPV berwarna perak berhenti tepat di depan pagar rumah. Pintu mobil terbuka, dan sesosok perempuan paruh baya berkerudung hijau lumut—Mak Inah, tetangga sekaligus kerabat dekat yang dulu sering merawat Aris sewaktu kecil—melangkah turun perlahan dibantu oleh seorang sepupu muda. Melihat kedatangan mereka, dada Aris mendadak bergemuruh hebat, dipenuhi rasa haru dan bahagia yang teramat sangat karena akhirnya ia bisa menyambut orang-orang tersayang di istana kecil miliknya sendiri.

"Selamat pagi, Mak! Selamat datang di rumah Aris," sapa Aris antusias, langsung melangkah cepat menghampiri dan mencium takzim punggung tangan Mak Inah dengan penuh rasa hormat.

Mak Inah tertegun sejenak, menatap dari dekat bangunan rumah dua lantai berdesain modern-etnik itu dengan mata berkaca-kaca penuh kekaguman. "Ya Allah, Aris... ini benar-benar rumahmu sendiri, Nak? Megah sekali, rapi, dan hangat suasananya. Ibu seperti tidak percaya melihat anak bujang yang dulu merantau dengan tangan kosong kini sudah jadi orang sukses."

"Ini semua berkat doa Mak dan orang-orang yang senantiasa mendukung Aris di masa-masa sulit," balas Aris tulus merangkul pundak perempuan tua itu, memandunya melangkah masuk melewati pintu utama yang terbuka lebar menyambut keluarga besar.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Aris mengundang dan menyambut keluarga besar di rumah barunya hari ini jauh melampaui sekadar pamer pencapaian material atau unjuk gigi atas kesuksesan bisnis bengkel kayunya di tanah rantau. Tujuan utamanya adalah merajut kembali tali silaturahmi kekeluargaan yang sempat renggang selama bertahun-tahun akibat rasa malu dan isolasi diri yang ia pilih pasca kegagalan hidupnya di masa lalu. Aris ingin menunjukkan kepada mereka—terutama kepada para tetua yang dulu menyaksikan kejatuhannya—bahwa ia telah bangkit seutuhnya, berdiri tegak di atas kaki sendiri, dan kini siap menjadi pilar perlindungan bagi keluarga kecilnya bersama Kirana serta tempat bersandar bagi kerabat yang membutuhkan. Di ruang tamu yang berhiaskan furnitur kayu jati buatan tangannya, Aris telah menyiapkan jamuan makan siang spesial khas Sumatra dan Jawa sebagai simbol akulturasi perjalanan hidupnya.

"Silakan duduk di ruang keluarga, Mak, Bibi, dan semuanya. Jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri," ucap Kirana ramah sambil membawa nampan berisi cangkir teh hangat dan kue-kue tradisional yang tersusun rapi.

"Wah, Kirana ini selain cantik, pandai merawat rumah, ternyata juga sangat telaten melayani tamu ya, Ris. Kamu benar-benar beruntung mendapatkan istri seperti dia," puji Bibi Rahma, bibi jauh Aris yang datang dari Palembang, sambil tersenyum lebar menerima secangkir teh hangat.

Aris tersenyum bangga, melirik sekilas ke arah Kirana yang duduk di sebelah kanannya. "Saya yang paling beruntung di dunia ini, Bibi. Tanpa Kirana, rumah ini mungkin hanya akan menjadi bangunan kosong tanpa jiwa."

Suasana ruang tamu mendadak hangat dipenuhi gelak tawa ringan dan percakapan akrab antarkeluarga yang sudah lama tidak bersua. Topik pembicaraan mengalir mulai dari perbandingan cuaca antara Sumatra dan Banten, perkembangan usaha kerajinan kayu Aris, hingga rencana masa depan mereka. Di tengah kehangatan itu, Aris merasa seluruh kepingan hidupnya yang dulu berserakan kini telah menyatu secara sempurna, membentuk sebuah keutuhan keluarga yang selama ini hanya ia impikan dalam doa-doa malamnya.

Lihat selengkapnya