
Desau angin pegunungan berhembus pelan menyapu pucuk-pucuk pohon pinus yang menjulang tinggi di kawasan dataran tinggi Dieng, membawa serta aroma khas embun pagi dan tanah basah yang menyegarkan. Sinar mentari pagi merayap perlahan dari balik barisan bukit, memantulkan kilau keemasan di atas permukaan Telaga Warna yang membentang luas bagaikan cermin raksasa alam. Di tepian dermaga kayu yang menghadap langsung ke arah danau, Rian berdiri sambil mendekap erat putrinya, Kirana, yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak perempuan berambut pendek dengan mata berbinar-binar penuh rasa ingin tahu. Di sampingnya, Sinta merapikan jaket wol tipis yang membalut tubuh kecil Kirana, senyum hangat tersungging di bibirnya menatap keindahan panorama di hadapan mereka. Tidak ada lagi kelelahan atau beban hidup yang menyesakkan dada; yang ada hanyalah ketenangan mutlak yang mengisi setiap jengkal ruang di antara ketiganya, merangkum perjalanan panjang sebuah keluarga kecil yang menemukan kembali arti hidup di alam terbuka tanpa ada rasa sakit yang tersisa.
"Lihat itu, Kirana! Air danaunya bisa berubah warna kalau terkena pantulan matahari," bisik Rian lembut kepada putrinya, menunjuk ke arah bagian tengah danau yang memantulkan gradasi hijau dan biru.
Kirana bertepuk tangan kecil dengan riang, matanya takjub menatap keindahan alam yang baru pertama kali ia saksikan secara langsung. "Wah, bagus sekali, Ayah! Seperti lukisan di buku cerita!" seru Kirana dengan suara khas anak-anak yang memecah keheningan pagi.
Sinta tertawa renyah, merangkul lengan suaminya erat-erat. "Perjalanan darat yang cukup melelahkan semalam terbayar lunas dengan pemandangan seindah ini, Rian. Aku tidak menyangka tempat ini begitu menenangkan."
Rian menoleh, mengecup puncak kepala istrinya penuh kasih sayang. "Kita memang butuh waktu untuk keluar sejenak dari hiruk-pikuk kota dan menikmati apa yang telah diciptakan alam untuk kita, Sinta."
❖ ❖ ❖
Tujuan utama dari liburan keluarga kecil ini sangatlah sederhana namun sarat akan makna emosional: menciptakan memori baru yang bersih dari segala bayang-bayang kelam masa lalu. Rian ingin membuktikan pada dirinya sendiri, pada Sinta, dan terutama pada Kirana bahwa lembaran hidup mereka kini sepenuhnya berada dalam terang kebahagiaan. Jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya ketika Rian masih terjebak dalam rasa trauma, penyesalan cinta yang kandas di desa kelahirannya, serta kecemasan finansial di awal perantauan, liburan ke alam terbuka ini dirancang sebagai bentuk perayaan atas kedamaian batin yang berhasil ia raih. Setiap langkah penjelajahan di kawasan pegunungan ini diniatkan untuk mempererat ikatan batin keluarga kecil mereka, menjauhkan diri dari layar ponsel, kebisingan pabrik, dan segala rutinitas monoton yang sempat mengekang jiwa.
"Apakah kita akan naik sampai ke bukit pandang di atas sana, Ayah?" tanya Kirana antusias sambil menunjuk puncak bukit batu yang menjulang di seberang kawah belerang Sikidang.
Rian tersenyum lebar, berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan sang putri. "Tentu saja, sayang. Tapi kita harus berjalan pelan-pelan sambil menikmati bunga-bunga liar di sepanjang jalan setapak. Ayah akan menggendongmu kalau kakimu mulai lelah."
Sinta merapikan tali ransel kecil di punggungnya, lalu mengeluarkan botol termos berisi air hangat dan beberapa potong roti gandum. "Ingat, jangan berjalan terlalu cepat ya, kalian berdua. Kita punya waktu seharian penuh di sini, jadi nikmati setiap detiknya tanpa harus terburu-buru."
Bagi Rian, perjalanan liburan ini adalah sebuah terapi jiwa. Ia ingin menghapus memori tentang bagaimana ia dulu berjalan sendirian di pematang sawah desa kelahirannya dengan hati yang hancur dan penuh ketakutan. Kini, berjalan di jalur pendakian yang sama sekali berbeda bersama anak dan istrinya, Rian merasakan kelegaan yang luar biasa. Tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi dendam terselubung, dan tidak ada lagi bayang-bayang Nurhayati yang mampir di kepalanya. Semuanya telah lebur bersama waktu, menyisakan ruang penuh bagi cinta sejati yang ia miliki hari ini.
❖ ❖ ❖
Transisi perjalanan mereka bergerak dari tepian telaga menuju lembah beruap putih di kawasan Kawah Sikidang, di mana aroma belerang tipis tercium terbawa angin pegunungan. Jalur setapak yang mereka lalui dipenuhi oleh hamparan bunga dataran tinggi dan rumput liar yang bergoyang diterpa angin sepoi-sepoi. Sinta berjalan di sisi kiri Rian, sesekali berhenti untuk memotret pemandangan menggunakan ponselnya, mengabadikan ekspresi takjub Kirana yang baru pertama kali melihat kepulan asap putih dari dalam kawah vulkanik aktif.
"Baunya agak aneh ya, Bu?" tanya Kirana sambil menutup hidungnya menggunakan sebelah tangan kecilnya.
Sinta berlutut di samping putrinya, tersenyum sabar. "Itu bau belerang dari dalam perut bumi, sayang. Alam punya cara unik untuk menunjukkan bahwa bumi ini hidup dan bernapas, sama seperti kita."
Rian mengawasi interaksi ibu dan anak itu dengan rasa syukur yang membuncah di dalam dadanya. Transisi hidupnya dari seorang pemuda perantau yang kesepian di kamar kos sempit menjadi seorang ayah yang dikelilingi keluarga penyayang adalah sebuah mukjizat kecil yang ia syukuri setiap detik. Ia teringat masa-masa ketika malam pergantian tahun di perantauan dulu ia habiskan dalam tangis kesedihan dan ratapan nasib percintaan. Kini, di bawah langit luas dataran tinggi Dieng yang cerah, ia berdiri sebagai lelaki yang sepenuhnya utuh, merdeka dari rasa sakit dan siap menghadapi masa depan tanpa keraguan.
"Ayah, ayo ke sana! Ada penjual jagung bakar di dekat pohon besar itu!" seru Kirana riang sambil menarik-narik ujung jaket Rian.
Rian tertawa kecil, menuruti langkah kecil putrinya yang penuh semangat. "Baiklah, sang putri kecil. Kita istirahat sejenak sambil menikmati jagung bakar hangat untuk mengisi tenaga sebelum mendaki lebih tinggi."