Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #93

Keputusan untuk pulang kampung

Matahari pagi di Kota Bandar Lampung menyembulkan bias cahaya keemasan yang menembus celah dedaunan mangga di halaman rumah perbukitan, menghangatkan pelataran teras tempat Arga berdiri memandangi koper-koper hitam yang berbaris rapi di dekat pintu utama. Di sekelilingnya, keriuhan kecil yang menyenangkan memenuhi udara pagi; gelak tawa anak-anak berlarian mengejar kucing peliharaan, berpadu dengan suara gemerincing peralatan dapur dari arah dalam rumah tempat Kinanti sibuk menyiapkan perbekalan perjalanan panjang. Udara pagi terasa begitu segar, membawa aroma tanah basah sisa hujan gerimis semalam dan kesejukan angin pegunungan yang turun dari gugusan Bukit Barisan. Setelah bertahun-tahun merantau, jatuh bangun menaklukkan kejamnya rimba korporat ibu kota, dan membangun imperium logistik yang bersih di tanah kelahirannya sendiri, Arga kini menikmati fase hidup yang paling ia dambakan—sebuah keluarga utuh yang penuh cinta, ketenangan jiwa, dan kemerdekaan batin yang hakiki.

"Ayah, semua mainan Faiz sudah masuk ke dalam tas ransel biru, kan? Nanti di dusun kakek ada sungai tempat kita bisa tangkap ikan kecil, kan?" seru Faiz, anak lelaki pertamanya yang berusia sepuluh tahun, berlari mendekat sambil mengenakan topi pet kesayangannya.

Arga berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan sang buah hati, merapikan kerah baju kemeja flanel Faiz sambil tersenyum hangat. "Sudah, jagoan. Semua mainan dan buku gambarmu aman di dalam tas. Di dusun nanti, Ayah akan tunjukkan sungai tempat Ayah biasa mandi sewaktu seumuran kamu dulu, tapi ingat, harus tetap patuh sama petunjuk Ibu, ya."

Di ambang pintu, Kinanti melangkah keluar membawa termos kecil berisi air hangat, mengenakan gamis sederhana bermotif bunga lembut dengan rambut ikal sebahu yang diikat rapi. Senyuman terukir di wajahnya, memancarkan kedewasaan dan ketulusan seorang perempuan yang telah mendampingi Arga melewati setiap jurang penderitaan hingga puncak kejayaan. Keputusan besar telah mereka ambil malam tadi di meja makan: mengemas seluruh rutinitas harian untuk kembali menapak tilas akar kelahiran mereka di dusun terpencil di pedalaman Sumatra—bukan lagi sebagai pelarian penuh luka atau buronan yang ketakutan, melainkan sebagai sebuah keluarga utuh yang pulang dengan kepala tegak, membawa kedamaian dan rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Pencipta atas segala takdir indah yang telah digariskan.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama dari perjalanan pulang kampung kali ini bukanlah sekadar liburan keluarga biasa atau kunjungan nostalgia ke tanah kelahiran, melainkan sebuah ritual batin yang sakral: memperkenalkan anak-anak mereka pada akar sejarah keluarga, menziarahi kembali makam mendiang Pak Hasan yang telah merawat Arga di masa-masa paling kelam, dan menutup seluruh lingkaran masa lalu dengan rasa damai yang sempurna. Arga ingin anak-anaknya melihat secara langsung tempat di mana ayah mereka dulu berjuang mati-matian mengangkat karung beras di pelabuhan kumuh dan merasakan kerasnya hidup di dusun terpencil, agar mereka kelak tumbuh menjadi manusia yang menghargai setiapbutir nasi, kerja keras, dan arti ketulusan hidup yang sesungguhnya. Goal tersebut dirancang sebagai warisan nilai moral tertinggi yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan korporasi mana pun di dunia ini.

"Kamu yakin kita tidak perlu menyewa pengawalan khusus dari perusahaan untuk perjalanan ke pedalaman dusun nanti, Mas?" tanya Kinanti pelan sambil menyerahkan segelas air hangat kepada suaminya di teras rumah. "Jalur darat ke sana kan cukup melelahkan untuk anak-anak."

Arga meneguk air hangat itu perlahan, lalu meletakkan gelasnya di atas meja kayu sambil merangkul pundak istrinya dengan penuh kelembutan. "Tidak perlu, Kinanti. Masa di mana kita harus berjalan dengan punggung membungkuk dan rasa cemas berlebihan sudah lama berakhir. Kita pulang ke kampung halaman sebagai keluarga merdeka, menaiki mobil kita sendiri, tanpa ada rasa takut atau bayang-bayang sindikat jahat yang mengejar. Semuanya sudah bersih."

"Aku hanya ingin anak-anak melihat dari dekat tempat asal kita, tempat di mana cinta kita dulu diuji oleh badai kemiskinan dan penderitaan, hingga akhirnya Tuhan menuntun kita menemukan kebahagiaan sejati di tanah Sumatra ini," tambah Arga dengan tatapan menerawang ke arah jalan raya yang mulai sibuk oleh kendaraan pagi.

Tujuan besar itu menjadi kompas yang menuntun setiap langkah persiapan mereka pagi ini. Tidak ada ambisi bisnis yang dikejar, tidak ada target korporat yang harus diselesaikan; yang ada hanyalah kerinduan murni untuk kembali bersujud di tanah kelahiran, memeluk erat kenangan masa lalu, dan merayakan kehidupan bersama orang-orang tercinta dalam naungan kedamaian yang abadi.

❖ ❖ ❖

Transisi dari suasana santai di teras rumah menuju detik-detik keberangkatan membawa ritme kesibukan yang teratur dan penuh antusiasme di halaman parkir perbukitan. Mobil SUV hitam berkapasitas besar yang telah disiapkan khusus untuk perjalanan jauh kini bagasi belakangnya sudah dipadati oleh koper, kotak bekal makanan, dan perlengkapan anak-anak. Faiz dan adik perempuannya yang berusia tujuh tahun, Rara, sudah duduk manis di kursi tengah mengenakan sabuk pengaman sambil melambaikan tangan kecil mereka ke arah tetangga yang datang melepas kepergian keluarga kecil tersebut.

"Hati-hati di jalan, Pak Arga, Bu Kinanti! Semoga selamat sampai tujuan dan lekas kembali ke Bandar Lampung!" seru Pak RT setempat melambaikan tangan dari balik pagar bambu.

Lihat selengkapnya