Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #97

Ziarah ke makam orang tua

Kabut tipis berarak turun dari punggung bukit barisan, menyapukan kesejukan basah yang merayap di atas permukaan air Danau Toba yang luas membentang bagaikan cairan permata hitam kebiruan di bawah langit pagi yang kelabu muram. Di pemakaman keluarga yang terletak di lereng bukit berumput hijau tidak jauh dari tepian kampung halaman leluhurnya, Raden Bagaswara berdiri tegak seorang diri di samping dua gundukan tanah makam yang dinaungi oleh rindangnya pohon mangga tua. Waktu menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit pagi, saat suasana dusun adat di pesisir danau masih diselimuti keheningan khidmat dan aroma khas tanah basah bercampur sisa-sisa dupa persembahan. Setelah melewati perjalanan darat yang melelahkan dari Medan selama berjam-jam pasca berita duka berpulangnya sang paman, Bagas akhirnya tiba di tanah kelahiran orang tuanya, membawa serta Kirana yang setia mendampingi setiap langkah dukanya. Di hadapan nisan batu yang bertuliskan nama ayah dan ibunya, Bagas menundukkan kepala dalam-dalam, membiarkan keheningan pagi menyerap sisa-sisa ketegangan di dalam dadanya. Tidak ada lagi isak tangis yang tertahan; yang tersisa hanyalah rasa hormat yang teramat dalam dan gelombang kerinduan masa kecil yang mendadak menyeruak kembali ke permukaan ingatannya. Angin pagi danau berembus pelan, mengibaskan ujung kemeja hitam yang dikenakannya, seolah menyambut kepulangan anak rantau yang lama hilang ke pangkuan tanah asalnya.

"Mari kita doakan mereka bersama-sama, Mas," bisik Kirana lembut sambil melangkah mendekat, mengenakan selendang hitam sederhana di bahunya, lalu berdiri tepat di samping Bagas dengan tangan menengadah khusyuk.

Bagas mengangguk pelan, menoleh sekilas menatap wajah kekasihnya yang penuh pengertian sebelum kembali memejamkan mata dan merapalkan doa-doa terbaik bagi arwah kedua orang tuanya. "Terima kasih sudah menemaniku sejauh ini, Kirana. Tempat ini... tempat di mana aku pertama kali belajar mengenal dunia sebelum badai kehidupan merantaukan ku jauh ke seberang pulau."

"Keluarga besarmu di kampung sangat menantikan kedatanganmu, Bagas. Kehadiranmu membawa kekuatan tersendiri di tengah suasana duka ini," balas Kirana tulus seraya mengusap pelan lengan suaminya untuk memberikan ketenangan batin.

Ziarah pagi itu menjadi gerbang spiritual yang menghubungkan kembali jiwa Bagas dengan akar leluhurnya, mengingatkannya bahwa seberapa jauh pun ia melangkah dan sukses di ibu kota, darah dan sejarah hidupnya tetap tertanam kuat di tanah perbukitan Danau Toba ini.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Bagas melangkah meninggalkan area pemakaman keluarga menuju jalur setapak tua di tepi danau bukanlah untuk larut dalam kesedihan berkepanjangan, melainkan menunaikan sebuah niat batin yang telah lama tertunda: bernostalgia sejenak di dermaga kayu reyot tempat ia dulu menghabiskan masa remaja berdayung sampan bersama ayahnya. Di bawah naungan rumpun bambu liar yang mendesir tertiup angin danau, Bagas menyusuri jalan setapak berbatu yang dipenuhi memori masa lalu—mulai dari tempat ia belajar menangkap ikan kecil hingga saat-saat ia merajut impian besar untuk mengubah nasib hidupnya. Di dalam batinnya, ia ingin menengok kembali tempat suci bagi masa kecilnya itu untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa segala luka, kepahitan, dan ambisi masa lalu telah melebur menjadi kebijaksanaan hidup yang utuh.

"Apakah dermaga tua itu masih seperti dulu, Mas?" tanya Kirana hati-hati saat mereka berjalan berdampingan menuruni lereng bukit yang melandai ke arah air.

Bagas tersenyum tipis, sorot matanya menerawang jauh menembus kabut tipis di atas permukaan danau. "Kayunya mungkin sudah lapang dimakan usia dan iklim, Kirana. Tapi kenangan tentang bagaimana aku dan ayahku berdayung melawan ombak kecil di sini tidak akan pernah pudar dari ingatan."

Tujuan hidup Bagas kini telah sepenuhnya selaras dengan kedamaian batin dan penghormatan pada akar masa lalunya; ia tidak lagi lari dari kenangan, melainkan merangkulnya sebagai bagian dari perjalanan manusia yang berharga. Setibanya mereka di bibir dermaga kayu yang mulai rapuh namun tetap kokoh menjorok ke tengah danau, Bagas berhenti sejenak, membiarkan matanya merekam setiap detail keindahan alam sekitar yang luar biasa megah. Di tempat inilah dulu ia belajar arti ketekunan dan kesabaran, hal yang sama yang kemudian menyelamatkan hidupnya saat ia menghadapi badai feodalisme di tanah Jawa dan dinamika keras kehidupan di ibu kota.

❖ ❖ ❖

Transisi dari suasana khidmat pemakaman menuju keheningan kontemplatif di atas dermaga tua membawa gelombang ketenangan batin yang menghanyutkan bagi Bagas dan Kirana. Permukaan air Danau Toba tampak begitu tenang pagi itu, memantulkan bayangan langit kelabu dan barisan bukit hijau di seberangnya bagaikan lukisan alam raya yang agung. Bagas melangkah hati-hati menapaki bilah-bilah papan kayu yang berderit pelan di bawah pijakannya, sementara Kirana berdiri di pangkal dermaga sambil memandangi suaminya dengan tatapan penuh kekaguman dan kasih sayang.

Lihat selengkapnya