Bayang-Bayang Danau Toba

Amrullah Ibrahim
Chapter #98

Pertemuan singkat tanpa sengaja

Matahari pagi di Kota Bandar Lampung menyembulkan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah payung terpal pedagang di Pasar Tugu, menciptakan garis-garis terang di atas lantai semen yang basah dan padat oleh lalu-lalang manusia. Aroma rempah-rempah yang tajam berpadu dengan bau khas ikan segar dari los bagian belakang, sementara suara riuh tawar-menawar harga dan deru kendaraan dari jalan raya di luar pasar menciptakan simfoni kehidupan kota yang begitu hidup. Di tengah keramaian itu, Arga berjalan santai mengenakan kemeja linen putih lengan pendek dan celana bahan gelap, menikmati hari libur kecilnya setelah berminggu-minggu berkutat dengan laporan ekspansi logistik regional. Langkah kakinya menyusuri lorong sempit los bumbu dapur, mengamati kesibukan para pembeli yang hilir mudik membawa keranjang belanjaan penuh.

"Jangan jauh-jauh, Faiz, pegang tangan Ibu erat-erat di sini banyak genangan air," suara Kinanti terdengar lembut memperingatkan anak lelaki mereka yang berjalan di sampingnya sambil menenteng kantong belanjaan kecil berisi sayuran segar untuk menu makan siang di rumah perbukitan.

Arga tersenyum kecil menoleh ke arah istri dan kedua anaknya, merasa begitu bersyukur atas kedamaian sederhana yang kini menghiasi hari-hari mereka. Setelah menuntaskan seluruh sisa bayang-bayang masa lalu dan mendamaikan diri dengan sisa keluarga di dusun pedalaman, kehidupan Arga kini benar-benar berpusat pada kebahagiaan keluarga kecilnya. Tidak ada lagi pikiran tentang balas dendam, tidak ada lagi ketakutan akan teror sindikat korporasi; yang ada hanyalah detak waktu yang berjalan tenang di tanah Sumatra yang subur. Namun, takdir terkadang memiliki cara tersendiri untuk mempertemukan kembali lembaran-lembaran cerita lama yang disangka telah tertutup rapat, tepat ketika seseorang mengira bahwa seluruh alur hidupnya telah berjalan di atas garis yang semestinya.

Langkah kaki Arga perlahan terhenti di depan sebuah lapak kecil penjual rempah-rempah tradisional dan obat-obatan herbal yang dijaga oleh seorang perempuan paruh baya berkerudung pudar. Di atas meja kayu lapak tersebut tersusun rapi botol-botol kaca berisi jamu tradisional, rimpang jahe, kunyit, dan kencur yang tertata berserakan. Arga tadinya hanya berniat mencari tambahan rempah untuk bumbu masakan rumah, namun tatapannya mendadak terpaku pada jemputan tangan perempuan penjaga lapak itu yang sedang membungkus pesanan pembeli lain dengan selembar kertas koran bekas.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Arga menyusuri lorong pasar tradisional pagi itu sangatlah sederhana dan sepele: membelikan bahan-bahan rempah segar pesanan Kinanti untuk meracik menu makan siang tradisional khas Sumatra yang sudah lama tidak mereka nikmati bersama keluarga di rumah perbukitan. Goal pribadinya hanyalah menghabiskan waktu berkualitas di akhir pekan bersama anak-anak dan istrinya, menikmati suasana riuh pasar rakyat yang dulu pernah menjadi bagian dari perjuangan hidupnya di masa-masa sulit sebagai buruh pelabuhan. Tidak ada rencana khusus, tidak ada agenda tersembunyi; ia hanya ingin merasakan denyut kehidupan masyarakat kecil yang jujur dan apa adanya, jauh dari kemewahan steril ruang rapat eksekutif korporat.

"Ayah, lihat ada keripik pisang manis di sana! Boleh beli itu juga tidak?" tanya Rara menunjuk ke lapak camilan tradisional di seberang lorong sambil menarik ujung kemeja Arga.

Arga menoleh sambil tersenyum lembut kepada anak perempuannya. "Boleh, Rara. Nanti kita beli setelah Ayah selesai mengambil pesanan rempah rimpang kunyit dan jahe merah untuk Ibu di lapak sebelah sini, ya."

Tujuan kecil itu mendadak bergeser arah ketika mata Arga kembali menangkap sosok perempuan penjaga lapak jamu tradisional di hadapannya yang kini baru saja selesai melayani pelanggan sebelumnya. Perempuan itu mendongak perlahan, merapikan letak kerudungnya yang sedikit melorot, memperlihatkan garis-garis kerutan di sekitar mata dan kulit wajah yang kusam termakan usia. Meskipun waktu dan penderitaan telah mengubah banyak hal pada penampilan fisiknya, sorot mata sendu dan bentuk garis rahang itu seketika menghantam kesadaran Arga dengan kekuatan ribuan volt. Perempuan di balik lapak sempit itu adalah Nurhayati—orang yang dulu pernah mengisi babak paling tragis dalam hidupnya, wanita yang sempat dikabarkan tewas dalam kebakaran, lalu muncul lewat sambungan telepon putus asa, dan kini duduk menua di tengah hiruk-pikuk pasar tradisional ini.

❖ ❖ ❖

Transisi dari suasana santai berbelanja rempah menuju detik-detik pengenalan sosok tersebut membawa keheningan mendadak di dalam kepala Arga. Suara bising orang-orang yang tawar-menawar harga di sekitarnya seolah mendadak lenyap, tenggelam di balik detak jantungnya yang mendadak berdegup kencang tidak beraturan. Seluruh sisa memori tentang malam-malam pelarian di dusun terpencil, suara tangis di ujung telepon, dan bayangan wajah Nurhayati di koridor hotel mewah beberapa tahun lalu berkelebat cepat di pelupuk matanya. Tangannya yang tadinya memegang dompet kulit di saku celana perlahan melemas, sementara pandangannya terkunci lekat pada sosok perempuan paruh baya yang kini tampak sibuk merapikan botol-botol jamu di atas meja kayunya.

"Ada yang bisa dibantu, Pak? Cari jamu pegal linu atau rimpang jahe murni?" sapa Nurhayati ramah dengan suara serak parau yang khas, tanpa sedikit pun mengenali wajah pria berbadan tegap berjas rapi kasual yang berdiri terpaku di depan lapaknya.

Transisi waktu itu terasa berjalan begitu lambat, merekam setiap kerutan di wajah perempuan tersebut, tangan yang tampak kasar penuh urat menonjol akibat kerja keras bertahun-tahun, serta pakaian sederhana yang dikenakannya. Arga merasakan tenggorokannya kering seketika; ia ingin mengucapkan sepatah kata, menyebut nama perempuan itu, namun suaranya seolah tertahan di pangkal lidah. Di kejauhan beberapa meter dari tempatnya berdiri, Kinanti dan kedua anak mereka sedang sibuk memilih keripik pisang, sama sekali belum menyadari kehadiran sosok masa lalu yang berdiri di hadapan Arga.

Lihat selengkapnya