Jakarta Barat tidak pernah benar-benar mengenal kata tenang. Di sini, di antara deretan ruko yang tak pernah tutup, kemacetan yang mengular tanpa ujung di sepanjang jalan tol Kebon Jeruk, dan bunyi klakson yang bersahutan dengan deru mesin TransJakarta, rahasia sering kali terkubur di bawah kebisingan yang melelahkan.
Jika kau masuk lebih dalam ke salah satu kompleks perumahan mapan di daerah Puri Indah, di mana pagar-pagar rumah menjulang tinggi dan pohon tanjung menaungi trotoar yang bersih, kau akan menemukan jenis sunyi yang berbeda. Sunyi yang mahal, namun menyimpan retakan yang dalam dan rahasia yang tak terkatakan.
Di kota ini, kesunyian adalah barang mewah yang hanya dimiliki oleh mereka yang mampu membeli kedamaian di balik tembok beton. Dan di salah satu rumah berarsitektur minimalis modern dengan kaca-kaca besar yang memantulkan langit Jakarta, hiduplah seorang wanita bernama Nadia.
Bagi tetangga yang melihatnya sekilas saat ia berbelanja di supermarket organik atau saat ia mengendari SUV mewahnya untuk menjemput anak-anak di sekolah internasional, Nadia adalah potret keberhasilan yang sempurna. Ia adalah wanita berusia tiga puluhan yang anggun, istri dari seorang pria sukses, dan ibu dari dua anak yang selalu tampak seperti model di dalam majalah gaya hidup.
Namun, orang luar hanya melihat permukaan yang mengkilap. Mereka melihat rumah Nadia yang selalu terang benderang dengan lampu hias hangat, sebuah simbol keharmonisan yang kokoh di tengah kerasnya ibu kota. Sebagai narator yang mampu menembus lapisan kepura-puraan itu, kita bisa melihat bahwa kesempurnaan itu hanyalah sebuah benteng yang dibangun Nadia untuk menutupi kekosongan jiwanya yang perlahan menganga.
Setiap pagi, rutinitas Nadia adalah sebuah ritual yang teratur. Ia menyiapkan sarapan dengan presisi, memastikan pakaian suaminya licin tanpa lipatan, dan mengatur jadwal anak-anaknya dengan ketelitian seorang manajer profesional.
Setelah mobil suaminya meluncur keluar dari gerbang otomatis menuju pusat bisnis di Sudirman, dan anak-anaknya berangkat sekolah, rumah besar itu mendadak terasa seperti sebuah museum yang dingin. Kesibukan di luar sana seolah menghilang, menyisakan Nadia dengan detak jam dinding yang seolah menghitung mundur setiap detik dari hidupnya yang hampa.