Bayang Cinta Di Balik Tirai

Gie
Chapter #2

Sentuhan yang Membakar

Sore itu, langit sedang dipeluk oleh mendung tipis yang membuat udara terasa lebih lembap dari biasanya. Di dalam rumah Nadia yang megah, pendingin ruangan berdesis halus, mencoba sekuat tenaga mengusir hawa gerah yang merayap masuk lewat celah ventilasi. 

Nadia baru saja selesai merapikan beberapa berkas di ruang kerja suaminya ketika bel pintu berbunyi. Ada satu ketukan yang ritmenya selalu ia kenali. Ketukan yang sedikit lebih lama dan lebih tegas dari kurir paket mana pun yang biasa datang ke sana.

Itu Rizky.

Pemuda itu berdiri di ambang pintu dengan kemeja yang sedikit berantakan akibat aktivitas seharian, lengan baju yang digulung hingga siku memperlihatkan urat-urat tangan yang kuat. Sebuah visual yang secara tidak sadar membuat Nadia menahan napas sesaat. Ada aroma maskulin yang samar, campuran antara parfum kayu cendana dan aroma aspal basah yang terbawa angin, yang segera memenuhi ruang tamu saat Rizky melangkah masuk.

"Maaf mengganggu sore-sore, Nad," suara Rizky terdengar rendah, namun ia tetap menjaga jarak yang sopan di ambang pintu. "Aku hanya ingin mengantar dokumen yang tertinggal di kantor Ayah kemarin. Beliau bilang ini cukup penting untuk suamimu."

"Masuklah, Rizky. Suamiku masih di luar kota untuk urusan dinas, tapi aku bisa menyimpannya di meja kerjanya," jawab Nadia. Ia berusaha keras menjaga nada suaranya tetap stabil dan netral, meski ada getaran aneh yang mulai merambat dari ujung jemarinya ke seluruh saraf tubuhnya.

Mereka duduk berhadapan di ruang tamu yang luas, dipisahkan oleh sebuah meja marmer Italia yang dingin dan statis. Nadia menuangkan teh hijau ke dalam cangkir porselen dengan gerakan tangan yang diusahakan seanggun mungkin, mencoba menutupi gemetar halus yang mulai muncul. Sementara itu, Rizky menatap sekeliling ruangan dengan pandangan yang sulit diartikan, seolah ia sedang memetakan setiap sudut kehidupan Nadia.

"Anak-anak sudah pulang sekolah?" tanya Rizky memecah kesunyian yang mulai terasa mengintimidasi.

"Masih les berenang di kompleks sebelah. Paling sebentar lagi mereka pulang bersama sopir," jawab Nadia singkat. Ia mencoba membenahi letak syal sutranya yang sebenarnya sudah rapi, sebuah gerakan saraf untuk mengalihkan rasa canggung.

Rizky mengangguk perlahan, matanya kini beralih ke jendela besar. "Jakarta makin sesak, ya? Tadi di jalan tol menuju sini, aku terjebak hampir satu jam. Rasanya seperti seluruh hidup kita habis hanya untuk menunggu di atas aspal."

Lihat selengkapnya