Bayang Cinta Di Balik Tirai

Gie
Chapter #3

Getaran Tak Terucap

Langit di atas cakrawala mulai menyepuh, mengubah warna biru pucat menjadi gradasi tembaga yang pekat dan dramatis. Cahaya matahari yang sekarat itu menyusup lewat celah gorden sutra, menciptakan garis-garis panjang yang kontras di atas lantai granit yang dingin. Di dalam ruangan itu, waktu seolah kehilangan detaknya, membeku dalam sebuah jeda yang panjang dan menyakitkan. Hanya ada desis pendingin ruangan yang monoton, yang kini terdengar seperti detak jantung yang berpacu cepat dalam keheningan yang menyesakkan.

Nadia masih terpaku di sofa, tubuhnya kaku namun sarafnya bergetar hebat. Ia bisa merasakan kehadiran Rizky bukan lagi sebagai seorang tamu atau pemuda yang selama ini dianggap bagian dari keluarga besar, melainkan sebagai sebuah energi dominan yang mengurungnya tanpa perlu menyentuh. 

Keraguan masih membayangi benaknya; sebuah suara kecil di kepala terus meneriakkan nama suaminya, mengingatkannya pada bingkai foto keluarga yang tadi sempat disentuh Rizky. Namun, suara itu kalah nyaring oleh gemuruh di dadanya setiap kali aroma maskulin dari tubuh Rizky menyapa indra penciumannya dengan cara yang begitu intim dan purba.

Rizky masih berdiri di sana, sangat dekat sehingga Nadia bisa merasakan radiasi panas dari tubuhnya yang merayap menembus pakaian. Rizky tidak terburu-buru. Ia seolah sedang menikmati setiap detik ketidakberdayaan Nadia, membiarkan wanita itu bergulat dengan moralitasnya sendiri sebelum akhirnya menyerah. 

Dengan gerakan yang sangat lambat, hampir seperti sebuah tarian yang sudah dilatih selama bertahun-tahun dalam khayalannya, Rizky mencondongkan tubuh. Tangannya perlahan naik, namun tidak untuk menyerang secara kasar. Ujung jemarinya hanya mengait sehelai rambut Nadia yang terjatuh di depan telinga, lalu menyampirkannya dengan kelembutan yang menyakitkan.

"Kau tahu, Nad," bisik Rizky, suaranya kini serak, membawa getaran yang membuat saraf Nadia menegang hingga ke ujung jari kaki. "Ada saat-saat di mana diammu jauh lebih bising daripada suara apa pun di dunia ini. Aku bisa mendengar hatimu yang berteriak, memohon untuk dibebaskan dari kepura-puraan ini."

Nadia mendongak, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk memprotes, untuk meminta Rizky menjaga martabat rumah ini dan segera pergi. Seketika kata-katanya menguap begitu saja saat matanya bertemu dengan tatapan Rizky yang gelap, dalam, dan penuh damba yang berbahaya. Di titik itulah, gravitasi seolah-olah bergeser dari porosnya. Rizky tidak lagi menunggu izin atau aba-aba. Ia memangkas jarak yang tersisa dengan perlahan namun pasti, seolah-olah seluruh alam semesta sedang mendorongnya maju.

Proses itu terjadi begitu detail dalam persepsi Nadia yang melambat secara dramatis. Ia melihat bagaimana mata Rizky sedikit meredup, bagaimana aroma maskulin itu semakin menguasai setiap inci ruang napasnya, hingga akhirnya, bibir mereka bersentuhan.

Itu hanya sebuah ciuman singkat. Mungkin tidak lebih dari beberapa detik. Bagi mereka berdua, dunia seolah berputar dengan kecepatan yang mengerikan, menjungkirbalikkan segala logika yang pernah mereka pelajari. Sentuhan itu tidak kasar. Itu adalah pertemuan dua permukaan yang sangat lembut namun bermuatan listrik ribuan volt. 

Lihat selengkapnya