Bayang Cinta Di Balik Tirai

Gie
Chapter #4

Detak Jantung Yang Memanggil

Malam ini tidak pernah benar-benar mengenal warna hitam yang murni. Ia selalu berwarna kelabu keunguan yang kotor, tercemar oleh pendar lampu jalanan yang statis dan polusi yang membiaskan cahaya secara tidak teratur di atas atap-atap rumah mewah yang berderet kaku. Bagi Nadia, kegelapan yang paling pekat justru merayap dari balik pori-pori kulitnya sendiri, sebuah sunyi yang tidak bisa diusir oleh lampu kristal paling mahal sekalipun yang menggantung di ruang tengahnya. 

Ia merasa seolah-olah seluruh tubuhnya telah berubah menjadi sebuah bejana kaca yang retak terlihat tampak utuh, kokoh, dan berkilau dari luar, namun sebenarnya bergetar hebat di dalam hanya karena sentuhan angin yang paling tipis sekalipun. Ruang makan yang biasanya menjadi saksi bisu dari rutinitas yang membosankan, kini terasa seperti panggung sandiwara yang terlalu bising, di mana setiap denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti lonceng peringatan atas rahasia yang ia simpan rapat di bawah lidahnya.

Saat suaminya pulang, aroma parfum kantor yang kaku dan sisa bau pendingin ruangan mobil menyapa Nadia di ambang pintu, membawa kembali realitas yang dingin. Suaminya mengecup keningnya. Sebuah kecupan mekanis yang hambar, kering, dan diberikan lebih karena protokol pernikahan yang telah berkarat daripada gairah yang menyala. Nadia mematung, menerima kecupan itu dengan kepatuhan seorang istri teladan yang telah terlatih selama bertahun-tahun. 

Di detik itu, pikirannya melakukan pengkhianatan yang paling kejam. Saraf-saraf di bibirnya seolah menolak untuk melupakan; mereka masih menyimpan memori tentang ciuman Rizky sore tadi. Ciuman yang tidak mekanis, melainkan ciuman yang tulus, hangat, dan penuh desakan hidup yang selama ini ia rindukan tanpa ia sadari.

Ketika mereka duduk berhadapan di meja makan, suara suaminya yang menceritakan tentang fluktuasi saham, politik kantor, dan rencana ekspansi bisnis hanya terdengar seperti dengung lebah yang jauh di telinga Nadia. Fokusnya teralihkan sepenuhnya oleh sensasi sensual yang terus berputar di kepalanya seperti film pendek yang diputar berulang-ulang tanpa henti. Ia teringat bagaimana bibir Rizky yang hangat menekan miliknya. Sebuah kontras yang menyakitkan dengan dinginnya hubungan yang ia jalani selama sepuluh tahun terakhir. Rizky memberinya sebuah rasa yang hampir terlupakan. Rasa diinginkan bukan sebagai "ibu dari anak-anak" atau "pelengkap status sosial", melainkan sebagai seorang wanita yang masih memiliki darah yang berdenyut panas di balik kulitnya yang halus.

Nadia memejamkan mata sesaat, berpura-pura menikmati aroma sup ayam yang mengepul di depannya, padahal ia sedang memanggil kembali memori tentang bagaimana tangan Rizky tadi menyentuh tengkuknya. Ada rasa hangat yang menjalar ke tulang belakangnya setiap kali bayangan itu muncul, sebuah sengatan yang membuatnya merasa berdosa sekaligus merasa sangat "hidup" untuk pertama kalinya setelah sekian lama. 

Ia merindukan ketulusan yang mentah seperti itu. Suatu koneksi yang membuatnya merasa berdenyut, sesuatu yang sudah lama menguap dari suaminya yang kini lebih sering terlihat seperti patung penggerak rutinitas daripada seorang kekasih yang mendamba. Suaminya adalah pria yang sangat baik, pria yang memberikan stabilitas tanpa cacat materi, namun stabilitas itu jugalah yang perlahan-lahan mencekik gairah hidup Nadia hingga kering kerontang.

Di balik semua sensasi sensual yang memabukkan itu, rasa bersalah tetap menghantamnya seperti ombak pasang yang tak terbendung di pantai yang rapuh. Setiap kali suaminya tersenyum padanya atau menanyakan kabarnya dengan nada datar yang tulus, Nadia merasa seperti seorang kriminal yang sedang menyembunyikan senjata berdarah di balik punggungnya. Ia merasa hina, namun ironisnya, ia tidak bisa mematikan rasa lapar akan perhatian yang baru saja Rizky bangunkan. 

Ia berbaring di samping suaminya yang tertidur lelap dengan napas yang teratur dan tenang, Nadia menatap langit-langit kamar dengan mata yang tak bisa terpejam, menyadari bahwa ciuman singkat itu telah menjadi racun sekaligus penawar bagi jiwanya yang sekarat.

Lihat selengkapnya